INIBORNEO.COM, Sanggau – Melestarikan Adat Budaya dan bahasa daerah Bi Somu kini menjadi tantangan besar, seiring berkurangnya praktik tradisi lisan yang dulunya melekat dalam kehidupan masyarakat. Keterlibatan generasi muda disebut sebagai kunci utama agar warisan berharga ini tidak hilang ditelan zaman.
Menurut Babei Rigasi salah satu tokoh muda yang sangat peduli dengan Adat Budaya dari kampung Ensingo kecamatan Noyan kabuoaten Sanggau, peran anak muda sangat penting untuk menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Biadeap, salah satunya dengan terus menuturkan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari.
Dulu, pada setiap pelaksanaan acara adat gawai di Mparok Punengeh, dua kegiatan budaya selalu menjadi bagian utama, yaitu Berpantun/Bupantut dan Burayut.
“Namun sayangnya, kedua tradisi ini kini sudah sangat jarang dilakukan bahkan hampir hilang dari peredaran,” kata dia.
Berpantun merupakan seni bertutur di mana peserta saling berbalas pantun yang disampaikan sepenuhnya dalam bahasa daerah Bi Somu. Sementara itu, Burayut adalah seni melantunkan nyanyian dengan nada khas dan berirama, yang berisi pesan nasihat, kisah kehidupan, hingga cerita percintaan yang sarat makna.
Sebagai gambaran kekayaan sastra lisan daerah ini, berikut salah satu contoh pantun Bi Somu yang dulunya sering dilantunkan:
Onak tumuak bu ungki ungki
Bota juah pumisok kojok
Sompat omu mungker janyi
Empat buah tumuak nyek golok
Kondisi yang ada saat ini menjadi panggilan bagi kaum muda untuk bangkit dan berperan aktif. Menghidupkan kembali tradisi Berpantun dan Burayut bukan hanya sekadar melestarikan Budaya, tetapi juga menjaga jati diri dan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur. Harapannya, tradisi ini dapat kembali meramaikan setiap acara adat gawai dan terus dikenang oleh generasi mendatang.











