5 Fakta di Balik Meningkatnya Penyelamatan Orangutan di Kalbar

  • Share
Pelepasan orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Melawi, Kalbar, Selasa (16/12/2025). (Doc YIARI)

INIBORNEO.COM, Pontianak – Kasus penyelamatan (rescue) orangutan di Kalimantan Barat terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Data Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mencatat sedikitnya 10 operasi penyelamatan sepanjang 2023–2025. Di balik angka tersebut, terdapat sejumlah faktor yang menunjukkan bahwa penyelamatan bukan sekadar upaya menyelamatkan satwa, tetapi menjadi cerminan tekanan terhadap habitat orangutan.

1. Hutan yang Terdegradasi Memicu Meningkatnya Rescue

Menurut Direktur YIARI Karmele Sanchez, hampir seluruh kasus penyelamatan berawal dari kondisi hutan yang semakin terdegradasi dan terfragmentasi. Ketika habitat rusak, orangutan kehilangan ruang hidup dan sumber pakan sehingga lebih sering keluar dari kawasan hutan.

“Kasus-kasus rescue ini hampir semuanya berangkat dari satu akar masalah yang sama yakni hutan yang semakin terdegradasi dan terfragmentasi,” ujarnya.

2. Ketapang dan Kayong Utara Menjadi Titik Terbanyak Penyelamatan

Sepanjang 2023–2025, YIARI mencatat 10 kasus penyelamatan orangutan. Lima kasus terjadi di Kabupaten Ketapang dan empat kasus di Kabupaten Kayong Utara.

Dua wilayah tersebut merupakan habitat penting orangutan, tetapi juga menghadapi tekanan akibat alih fungsi hutan sehingga konflik lebih sering terjadi.

3. Orangutan Semakin Sering Masuk ke Kebun Warga

Kerusakan habitat membuat orangutan terpaksa mencari makanan di luar hutan, termasuk memasuki kebun dan lahan pertanian milik masyarakat.

Kondisi ini memicu konflik yang tidak hanya merugikan warga karena tanaman rusak, tetapi juga meningkatkan risiko orangutan mengalami kekerasan, terluka, bahkan terbunuh.

Bayi orangutan Randy berada dalam pengawasan dokter hewan YIARI setelah diselamatkan dari pemeliharaan ilegal di kawasan PETI. (Foto: Dok. Humas YIARI)

4. Rescue Dilakukan Saat Konflik Sudah Tidak Bisa Diatasi

Sebelum melakukan penyelamatan, YIARI bersama Kementerian Kehutanan lebih dulu melakukan patroli, pemantauan, edukasi, dan sosialisasi kepada masyarakat.

Namun, ketika habitat sudah terlalu terfragmentasi dan keselamatan orangutan terancam, penyelamatan menjadi pilihan terakhir.

“Ada saatnya orangutan terlalu terancam karena habitatnya sudah sangat terfragmentasi. Di titik itu, penyelamatan terpaksa dilakukan,” kata Karmele.

5. Rescue Menjadi Alarm Dampak Deforestasi Masa Lalu

Karmele menegaskan meningkatnya penyelamatan orangutan merupakan konsekuensi dari pembukaan hutan yang telah terjadi selama bertahun-tahun, baik akibat alih fungsi lahan maupun aktivitas lain yang menyebabkan hilangnya habitat.

“Deforestasi itu terjadi duluan. Sekarang kita sedang merasakan konsekuensinya. Kita sedang terdampak dari perbuatan masa lalu,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar pembukaan hutan dalam skala besar tidak kembali terjadi karena hanya akan memperbesar potensi konflik dan meningkatkan jumlah orangutan yang harus diselamatkan pada masa mendatang.

Tulisan ini merupakan bagian dari kerja sama dengan Teras.id dalam serial khusus “Kontribusi Perusahaan Sawit terhadap Deforestasi di Kalimantan Barat dan Kaitannya dengan Banjir” yang menghadirkan tulisan dengan penulisan lebih mendalam dan berkualitas mengenai berbagai isu serta dinamika terkait deforestasi di Kalbar. Untuk membaca artikel lain dalam seri ini, kunjungi website Teras.id atau klik disini.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *