INIBORNEO.COM, Pontianak – Keberadaan kampung-kampung tua di tepian Sungai Kapuas menjadi bagian penting dari sejarah lahirnya Kota Pontianak. Kawasan seperti Kampung Beting, Kampung Arab, kompleks Keraton Kadriah, hingga Masjid Jami tidak hanya menyimpan jejak sejarah Kesultanan Pontianak, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kondisi geografis kota yang didominasi lahan rendah dan dipengaruhi pasang surut sungai.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kota Pontianak, Derry Gunawan, mengatakan kampung-kampung tersebut tumbuh mengikuti fungsi sungai sebagai jalur transportasi utama pada masa lalu. Karena itu, permukiman dibangun di tepian sungai dengan konstruksi rumah panggung yang ditopang tiang kayu belian agar tetap aman saat air pasang.
“Sehingga kampung-kampung itu dibangun di atas dataran pinggiran sungai yang secara geografi memang cenderung terkena pengaruh pasang surut,” ujarnya.
Menurut Derry, penggunaan kayu belian sebagai material utama bukan sekadar karena ketersediaan bahan baku di Kalimantan, tetapi juga merupakan bentuk kearifan lokal dalam menyesuaikan bangunan dengan karakter wilayah rawa dan bantaran sungai. Banyak rumah tua yang hingga kini masih bertahan karena dibangun dengan elevasi yang telah memperhitungkan tinggi muka air pasang.
“Makanya kita pertahankan bangunan-bangunan seperti itu untuk jadi pembelajaran bagi kita bahwa ternyata dari zaman dulu itu ada kehendak lokal untuk mengendalikan rumah yang sudah memperhitungkan ketinggian air pasang tertinggi,” tuturnya.
Meski demikian, Derry menegaskan perkembangan kota tidak mungkin dihentikan demi mempertahankan seluruh kawasan permukiman lama. Seiring berkembangnya transportasi darat, perubahan material bangunan, hingga bertambahnya jumlah penduduk, pola permukiman di Pontianak ikut bergeser.
Pemerintah Kota Pontianak, kata dia, memilih mempertahankan kawasan-kawasan yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan budaya tinggi, sementara kawasan lain tetap dapat berkembang mengikuti kebutuhan kota.
“Ada beberapa segmen yang punya nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi atau punya nilai budaya yang tinggi, kita lestarikan. Misalnya ada kampung Arab, ada misalnya komplek keraton kadriah, ada komplek masjid jami dan beberapa rumah di kampung Beting sebagai peninggalan ciri permukiman jaman dulu yang berada di atas air,” tuturnya.
Selain itu, Rumah Budaya di Gang Haji Salmah juga menjadi salah satu contoh bangunan bersejarah yang tetap dipertahankan.
Sebaliknya, Derry mengingatkan tidak semua permukiman di tepian sungai memiliki nilai historis. Banyak kawasan yang baru terbentuk dalam dua hingga tiga dekade terakhir akibat pertumbuhan penduduk dan keterbatasan lahan.
“Jadi kampung-kampung tepi sungai ini bukan semua kampung tua,” tegasnya.
Tantangan Pelestarian
Pelestarian kawasan bersejarah menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah minimnya dokumentasi mengenai sejarah perkembangan kampung-kampung tua di Pontianak. Berbeda dengan kota-kota di Eropa yang memiliki arsip gambar maupun dokumen pembangunan, banyak bangunan tua di Pontianak dibangun tanpa perencanaan tertulis.
Akibatnya, proses pelestarian sering kali hanya mengandalkan cerita lisan dari generasi terdahulu.
Di sisi lain, perubahan perilaku masyarakat juga mengubah fungsi kawasan tepian sungai. Jika dahulu sungai menjadi sumber air, jalur transportasi, sekaligus pusat aktivitas ekonomi, kini masyarakat lebih mengandalkan jaringan air bersih dan transportasi darat. Profesi sebagai nelayan pun semakin berkurang di wilayah perkotaan.
Persoalan lain adalah semakin sulitnya memperoleh kayu belian berukuran besar yang menjadi material utama rumah-rumah tradisional. Selain harganya mahal, penggunaan kayu juga mulai dibatasi seiring meningkatnya perhatian terhadap kelestarian hutan.
Karena itu, menurut Derry, pemerintah tidak berupaya mempertahankan seluruh bangunan lama, melainkan memprioritaskan bangunan yang benar-benar memiliki nilai sejarah dan estetika tinggi.
Baca selengkapnya liputan khusus “Jejak Kota Pontianak yang Tumbuh dari Sungai” yang dapat diakses ke sini “Baca”











