5 Cara Mengolah Ampas Kopi Jadi Media Tanam

  • Share

INIBORNEO.COM, Pontianak – Ampas kopi tak selalu berakhir di tempat sampah. Di tangan Sofian, yang merupakan pegiat sejarah sekaligus penulis buku Pontianak Heritage, limbah dari warung kopi justru dimanfaatkan sebagai campuran media tanam untuk berbagai jenis tanaman di rumah.

Berikut lima cara mengolah ampas kopi menjadi media tanam berdasarkan praktik yang ia lakukan.

1. Kumpulkan Ampas Kopi dari Warung Kopi

Langkah pertama adalah mengumpulkan ampas kopi dari sejumlah warung kopi. Ahmad Sofian memanfaatkan ember bekas cat berkapasitas sekitar 25 kilogram untuk menampung limbah tersebut.

Menurutnya, bahan baku ini mudah diperoleh dan tidak memerlukan biaya sehingga memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali.

2. Bilas Ampas Kopi untuk Mengurangi Kadar Asam

Sebelum digunakan, ampas kopi terlebih dahulu diaduk dan dibilas menggunakan air hujan. Proses ini bertujuan mengurangi kadar asam yang masih tersisa setelah proses penyeduhan.

“Setelah dibilas, saya coba keringkan,” ujarnya.

3. Keringkan Sebelum Dicampurkan

Setelah dicuci, ampas kopi dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan menjadi tahapan penting agar bahan lebih stabil dan mudah dicampurkan dengan media tanam lainnya.

Ahmad Sofian juga masih terus mempelajari lama waktu pengeringan maupun fermentasi yang paling sesuai agar hasilnya lebih optimal.

Panen kopi Arabika dari lereng Ijen, Bondowoso. (Doc PTPN)

4. Campurkan dengan Tanah dan Kompos

Ampas kopi yang telah kering kemudian dimanfaatkan sebagai bahan tambahan media tanam di pot maupun polybag.

Ia mencampurkannya dengan tanah dan kompos untuk menambah volume media tanam. Selain itu, ia juga mulai bereksperimen mengombinasikan ampas kopi dengan limbah tebu.

“Sejauh ini saya gunakan untuk menambah kuantitas media tanam di pot atau polybag. Dicampur dengan tanah dan kompos. Saya juga mencoba mengkombinasikan dengan limbah tebu,” katanya.

5. Uji Komposisi yang Paling Cocok untuk Tanaman

Menurut Ahmad Sofian, penggunaan ampas kopi tidak bisa dilakukan sembarangan. Ia masih terus menguji berbagai perbandingan antara tanah, kompos, ampas kopi, dan limbah tebu agar memperoleh komposisi terbaik.

Selain itu, ia juga mencari informasi mengenai kandungan nutrisi ampas kopi yang telah dikeringkan sebagai dasar menentukan campuran yang ideal.

“Saya juga menghubungi beberapa pihak untuk mengetahui kandungan dari ampas kopi yang sudah dikeringkan. Ini penting untuk menentukan komposisi yang pas,” ujarnya.

Ahmad Sofian menilai peluang usaha dari pengolahan limbah ampas kopi cukup besar karena bahan bakunya melimpah, gratis, dan mudah diperoleh. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan limbah kopi sehingga volume sampah dari warung kopi di Kota Pontianak dapat terus berkurang.

“Kalau bisa, sampah kopi di Kota Pontianak menjadi nol,” pungkasnya.

Tulisan ini merupakan bagian dari kerja sama dengan Teras.id dalam serial khusus “Mengupas Anatomi Kopi di Pontianak” yang menghadirkan tulisan dengan penulisan lebih mendalam dan berkualitas mengenai berbagai isu serta dinamika terkait kopi di Kalbar. Untuk membaca artikel lain dalam seri ini, kunjungi website Teras.id atau klik disini.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *