5 Tata Cara Ritual Dayak Tobag Sebelum Membuka Lahan

  • Share
Tembawang Dayak Tobag.

INIBORNEO.COM, Pontianak – Bagi masyarakat Dayak Tobag, membuka lahan bukan sekadar aktivitas untuk memulai kegiatan pertanian. Ada rangkaian adat yang harus dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan permohonan izin sebelum mengolah suatu kawasan.

Tradisi ini diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari siklus pertanian masyarakat Dayak Tobag. Melalui ritual tersebut, masyarakat tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan alam, tetapi juga menjaga nilai-nilai adat dalam mengelola ruang hidup.

Berikut lima tahapan ritual yang dilakukan masyarakat Dayak Tobag sebelum hingga setelah membuka lahan.

1. Nimpas atau Ngawak, Meminta Izin Sebelum Membuka Lahan

Tahapan awal sebelum membuka lahan adalah melakukan ritual nimpas atau ngawak. Ritual ini menjadi bentuk permohonan izin kepada Yang Maha Kuasa sekaligus penghormatan terhadap tempat yang akan digunakan.

Bagi masyarakat Dayak Tobag, lahan bukan ruang kosong yang bisa langsung dimanfaatkan. Ada keyakinan bahwa setiap tempat memiliki nilai dan penjaga yang harus dihormati.

“Semua dimulai dari nimpas, saat membuka lahan. Itu bukan sekadar kerja fisik, tapi juga meminta izin kepada yang berkuasa di tempat itu,” ujar Apomin, Pati Adat Dayak Tobag Benua Raya.

Dalam ritual ini, masyarakat menggunakan perlengkapan sederhana seperti daun sirih, pinang, rokok, kapur, batu kecil, dan air sebagai bagian dari prosesi adat.

2. Menjalani Pantangan Tiga Hari Setelah Ritual

Setelah nimpas dilakukan, masyarakat Dayak Tobag memiliki aturan untuk tidak kembali ke lahan selama tiga hari.

Pantangan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian adat. Bukan hanya sebagai aturan kepercayaan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap proses pembukaan lahan.

Dalam pandangan masyarakat adat, manusia perlu memberi ruang sebelum kembali melakukan aktivitas di kawasan yang akan diolah.

3. Nimbong, Ritual Saat Mulai Menanam

Setelah lahan siap digunakan, masyarakat melanjutkan proses dengan ritual nimbong, yaitu saat mulai menanam.

Tahapan ini menjadi bagian dari siklus pertanian padi masyarakat Dayak Tobag. Tidak hanya padi, masyarakat juga menanam tanaman lain seperti buah-buahan yang kemudian menjadi bagian dari kawasan tembawang.

Melalui nimbong, kegiatan bertani tidak hanya dimaknai sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga hubungan antara manusia dan alam yang harus dijaga.

4. Berburu, Ritual Menjaga Tanaman dari Hama

Ketika padi mulai tumbuh, masyarakat Dayak Tobag melakukan ritual yang disebut berburu.

Ritual ini bertujuan mengusir hama seperti tikus yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

“Saat padi sudah tumbuh, juga ada ritual lain, yaitu untuk mengusir hama. Di sini kami menyebutnya berburu, yaitu mengusir hama seperti tikus dan sebagainya agar tidak merusak padi,” kata Apomin.

Tahapan ini menunjukkan bagaimana masyarakat adat memahami pertanian sebagai proses menjaga keseimbangan, bukan hanya mengambil hasil dari alam.

5. Munjung, Ungkapan Syukur Setelah Panen

Rangkaian adat pertanian Dayak Tobag ditutup melalui ngeratuh padi baru dan munjung.

Ngeratuh padi baru merupakan prosesi simbolik untuk “membawa kembali” semangat padi setelah panen. Sementara munjung menjadi bentuk rasa syukur atas hasil yang diperoleh, dengan suasana yang mirip seperti perayaan gawai.

Melalui tahapan ini, masyarakat mengingat kembali bahwa hasil pertanian tidak terlepas dari hubungan manusia dengan alam dan nilai adat yang diwariskan leluhur.

Bagi masyarakat Dayak Tobag, ritual sebelum membuka lahan bukan sekadar tradisi. Di dalamnya terdapat aturan yang mengajarkan kehati-hatian dalam memanfaatkan alam, sekaligus menjaga hubungan antara manusia, hutan, dan ruang hidup yang diwariskan turun-temurun.

Tulisan ini merupakan bagian dari kerja sama dengan Teras.id dalam serial khusus “Merawat Ingatan Kolektif Melalui Tembawang” yang menghadirkan tulisan dengan penulisan lebih mendalam dan berkualitas mengenai berbagai isu, sejarah, serta dinamika terkait tembawang. Untuk membaca artikel lain dalam seri ini, kunjungi website Teras.id atau klik disini.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *