INIBORNEO.COM, Pontianak – Indonesia dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman durian dunia. Namun, melimpahnya jenis durian belum mampu menjadikan durian lokal mendominasi pasar premium. Pegiat durian sekaligus penggagas komunitas Durian Traveler, Heri Kristanto, menilai persoalan utamanya bukan terletak pada kualitas buah, melainkan pada sistem pengelolaannya.
Berikut lima penyebab durian lokal masih sulit bersaing.
1. Bukan Soal Kualitas, tetapi Sistem Pengelolaan
Menurut Heri, Indonesia memiliki durian dengan cita rasa yang tidak kalah dari negara lain. Persoalan utamanya justru terletak pada belum adanya sistem pengelolaan yang mampu mengangkat varietas unggulan.
“Durian kita banyak, tapi tidak terdata dengan jelas. Yang bagus dan yang biasa saja diperlakukan sama, sehingga tidak pernah muncul produk unggulan yang benar-benar kuat di pasar,” ujarnya.
2. Kekayaan Genetik Durian Indonesia Belum Dimanfaatkan Maksimal
Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia memiliki 21 dari 27 spesies durian yang dikenal di dunia. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati durian global.
Hingga 2024, sekitar 114 varietas durian unggul telah terdaftar. Namun, masih banyak jenis durian lokal yang belum terdokumentasi maupun diteliti secara ilmiah sehingga potensinya belum tergarap secara optimal.

3. Indonesia Tertinggal dalam Standarisasi Varietas
Berbeda dengan Indonesia, Malaysia telah membangun sistem pendataan varietas durian sejak 1934. Hingga 2023, negara tersebut memiliki 226 varietas yang terdaftar secara resmi, lengkap dengan karakteristik rasa, tekstur, dan identitas masing-masing.
Sistem ini memudahkan pengembangan varietas sekaligus memperkuat posisi durian Malaysia di pasar internasional.
4. Pasar Premium Masih Didominasi Durian Impor
Karena belum memiliki standarisasi dan branding yang kuat, durian lokal masih kesulitan memasuki pasar premium. Sebaliknya, konsumen lebih mengenal varietas impor seperti Musang King maupun Black Thorn yang telah memiliki identitas dan kualitas yang konsisten.
Menurut Heri, kondisi tersebut membuat potensi durian lokal belum mampu memberikan nilai ekonomi yang maksimal bagi petani.
5. Pengembangan Durian Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Musim Panen
Selain persoalan varietas, durian merupakan komoditas musiman yang umumnya hanya berbuah satu hingga dua kali dalam setahun, dengan masa panen efektif sekitar satu hingga dua bulan di setiap wilayah.
Heri menilai, jika ingin memberikan dampak ekonomi yang lebih besar, pengembangan durian tidak cukup hanya mengandalkan wisata musiman atau penjualan buah segar. Diperlukan konsolidasi produksi, distribusi, pendataan varietas, serta pengembangan pengetahuan agar potensi durian lokal dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Kalau mau dampak ekonomi besar, jangan hanya mengandalkan wisata musiman. Harus ada konsolidasi produksi, distribusi, dan pengetahuan. Kalbar itu seperti emas terpendam. Potensinya ada, tapi belum digarap dengan cara yang tepat,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan durian lokal sebaiknya dimulai dari dalam negeri melalui seleksi, apresiasi, dan pengembangan varietas secara bersama. Dengan tingginya permintaan durian di pasar domestik, langkah tersebut dinilai dapat memperkuat posisi durian lokal sebelum bersaing di pasar internasional.
Tulisan ini merupakan bagian dari kerja sama dengan Teras.id dalam serial khusus “Potensi Wisata Ekologi Durian di Kalbar” yang menghadirkan tulisan dengan penulisan lebih mendalam dan berkualitas mengenai berbagai isu serta dinamika terkait durian di Kalbar. Untuk membaca artikel lain dalam seri ini, kunjungi website Teras.id atau klik disini.











