Ritual Rebut-rebut, Tradisi Konfusianisme Pudu Arwah yang diwariskan dari Generasi ke Generasi

  • Share
Sesajian pada ritual rebut-rebut yang diselengarakan di Kalimantan Barat pada Kamis (27/8/2026).

INIBORNEO.COM, Pontianak – Tradisi Pudu arwah dalam ajaran Konfusianisme telah diwariskan sejak zaman kerajaan kuno dan terus dilestarikan hingga saat ini. Ritual ini dilaksanakan pada bulan ketujuh kalender Konghucu, mulai tanggal 1 hingga 29.

Tokoh masyarakat Tionghoa, Rudi Leonard, menjelaskan Pudu arwah merupakan ritual untuk mengenang serta mendoakan arwah-arwah yang sudah tidak memiliki keluarga atau kerabat yang datang ke makam untuk memberikan penghormatan.

Menurutnya, tradisi yang kini dikenal luas sebagai “rebutan sesaji” atau “rebut-rebut” itu sebenarnya bukan bagian wajib dalam ritual Pudu. Kebiasaan tersebut berawal dari praktik pembagian sesaji yang telah dipersembahkan kepada masyarakat kurang mampu.

“Persembahan sembahyang arwah umum sesungguhnya bukan direbut, melainkan dibagikan kepada fakir miskin pada saat itu,” katanya.

Namun, dikarenakan jumlah penerima cukup banyak sementara sesaji yang tersedia terbatas, pembagian secara merata sulit dilakukan. Masyarakat kemudian diperbolehkan mengambil sesaji sendiri. Seiring waktu, kebiasaan tersebut berkembang menjadi tradisi berebut sesaji yang terus berlangsung hingga kini.

Selain itu, setelah masyarakat melakukan sembahyang di depan rumah masing-masing, sesaji biasanya dikumpulkan oleh petugas untuk kemudian dibawa ke kapal Wang Chuan dan dibakar sebagai bagian dari rangkaian ritual.

Hingga kini, Pudu arwah tetap menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat penganut Konfusianisme yang diwariskan serta dilestarikan dari generasi ke generasi.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *