Kemarau Panjang Ancam Air Bersih Pontianak

  • Share
Sungai Kapuas (Foto: Wahyu Maulana/Unsplash)
Sungai Kapuas (Foto: Wahyu Maulana/Unsplash)

INIBORNEO.COM, Pontianak – Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang tahun ini mengancam pasokan air bersih bagi warga Kota Pontianak. Penurunan debit Sungai Kapuas saat kemarau berpotensi memicu intrusi air laut yang meningkatkan kadar garam pada sumber air baku Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa.

“Beberapa hari terakhir curah hujan sudah sangat rendah. Kami mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih. Bagi yang memiliki bak penampungan air, sebaiknya dimanfaatkan sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau,” ujar Edi Rusdi Kamtono, Wali Kota Pontianak pada Rabu (15/7/2026).

Edi menjelaskan, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September dengan curah hujan yang rendah. Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi ketersediaan air baku bagi PDAM.

Menurutnya, apabila kemarau berlangsung lebih dari tiga minggu tanpa hujan, debit Sungai Kapuas akan terus menurun. Saat kondisi pasang, air laut berpotensi masuk ke badan sungai atau mengalami intrusi sehingga kadar garam meningkat.

Kondisi itu menjadi ancaman bagi pelayanan air bersih karena Sungai Kapuas merupakan sumber utama air baku Kota Pontianak. Jika kadar garam melebihi ambang batas, kualitas air yang diproduksi PDAM dapat terganggu.

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota Pontianak menyiapkan pemanfaatan intake Penepat sebagai sumber air baku cadangan. Air dari Penepat nantinya akan dicampurkan dengan air Sungai Kapuas untuk menurunkan kadar garam apabila intrusi air laut terjadi.

“Air dari Penepat akan dicampurkan dengan air Sungai Kapuas agar kadar garamnya tidak terlalu tinggi. Langkah ini memang disiapkan khusus apabila terjadi kemarau panjang,” jelas Edi.

Ia mengungkapkan, potensi kemarau tahun ini diperkirakan lebih berat dibanding beberapa tahun terakhir. Berdasarkan prakiraan BMKG, fenomena El Nino berpotensi memperpanjang musim kemarau sehingga risiko intrusi air laut ke Sungai Kapuas semakin besar.

Edi mengatakan penyediaan air baku menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai Kalimantan I. Saat ini telah tersedia intake Penepat di lahan milik PDAM seluas sekitar sembilan hektare sebagai cadangan air tawar ketika intrusi air laut terjadi.

Namun, pengoperasian intake tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Air harus dipompa menggunakan lima unit pompa sejauh sekitar 21 kilometer menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) Imam Bonjol, sementara kapasitas produksinya hanya sekitar 500 liter per detik.

Di sisi lain, kebutuhan air bersih Kota Pontianak jauh lebih besar. Saat ini produksi PDAM mencapai sekitar 1.250 liter per detik untuk melayani sekitar 90,6 persen masyarakat Kota Pontianak.

“Karena itu, kami terus meminta perhatian pemerintah pusat agar kebutuhan air baku Kota Pontianak dapat dipenuhi,” katanya.

Selain mengantisipasi gangguan pasokan air bersih, Pemkot Pontianak juga mengimbau masyarakat menjaga kesehatan selama musim kemarau. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika suhu udara meningkat serta menggunakan masker apabila terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Pemerintah Kota Pontianak juga telah membentuk tim serta menyiapkan langkah-langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan rawan seperti Pontianak Utara, Pontianak Selatan, dan Pontianak Tenggara.

“Mudah-mudahan musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu lama sehingga pelayanan air bersih tetap berjalan optimal dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kendala berarti,” pungkas Edi.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *