6 Jejak Sejarah Pontianak yang Patut Dikunjungi

  • Share
Gedung Kantor Pos Lama Pontianak, bangunan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang dibangun pada 1858, menjadi saksi perkembangan sistem komunikasi modern sekaligus jejak arsitektur kolonial di kawasan heritage Kota Pontianak.

INIBORNEO.COM, Pontianak – Pontianak bukan hanya dikenal sebagai Kota Khatulistiwa. Di balik perkembangan kota, masih berdiri sejumlah bangunan dan kawasan bersejarah yang menjadi saksi lahirnya Pontianak, masa kolonial Belanda, hingga perkembangan perdagangan di Kalimantan Barat.

Sebagian bangunan bahkan telah berusia lebih dari dua abad dan masih digunakan hingga sekarang. Berikut enam jejak sejarah Pontianak yang masih bisa dikunjungi.

1. Kompleks Makam Berusia Lebih dari Satu Abad

Kompleks makam peninggalan era kolonial Belanda di Kota Pontianak menjadi salah satu temuan sejarah yang membuka kembali jejak masa lalu kota.

Ahli sejarah Kalimantan Barat memperkirakan kompleks makam dengan monumen tersebut dibangun sekitar tahun 1903 atau lebih dari 120 tahun lalu, bahkan sebelum pecahnya Perang Dunia I.

Saat ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak telah melakukan kajian sebagai langkah awal untuk menetapkan kawasan tersebut sebagai situs sejarah atau cagar budaya.

2. Pelabuhan Seng Hie, Jejak Saudagar yang Menghidupkan Perdagangan Pontianak

Nama Pelabuhan Seng Hie ternyata berasal dari seorang saudagar keturunan Tionghoa bernama Than Seng Hie yang bergerak di bidang perdagangan hasil bumi.

Dalam buku Pontianak Heritage (2015), Ahmad Sofian menyebut tidak ada catatan pasti kapan pelabuhan ini pertama kali berdiri. Namun, nama Seng Hie melekat karena aktivitas perdagangan yang dijalankan sang pengusaha.

Memasuki dekade 1930-an, usaha Than Seng Hie mengalami kemunduran hingga ia menjual rumah beserta lahannya kepada Keuskupan Pontianak. Bangunan tersebut kemudian difungsikan sebagai R.C. Vicarage and Chinese Chapel, yang kini dikenal sebagai Gereja Gembala Baik.

Peta Pontianak tahun 1934 juga menunjukkan kawasan Seng Hie berada di jalur perdagangan penting yang menghubungkan pusat kota dengan Sungai Kapuas.

3. SD Negeri 14, Sekolah Kolonial yang Kini Terbuka untuk Semua

Bangunan yang kini menjadi SD Negeri 14 Pontianak didirikan pada 1902 sebagai volksschool atau sekolah rakyat pada masa Hindia Belanda.

Pada awal berdirinya, sekolah ini lebih banyak diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Eropa dan kelompok tertentu yang mendapat akses pendidikan dari pemerintah kolonial.

Baru pada akhir 1920-an, sebagian kecil masyarakat pribumi diperbolehkan bersekolah. Namun, kesempatan itu hanya dinikmati anak-anak bangsawan, pejabat, atau elite pribumi.

Setelah Indonesia merdeka, sekolah ini mulai terbuka bagi seluruh masyarakat sejak awal 1950-an. Kini bangunan bersejarah tersebut masih dipertahankan dan tetap difungsikan sebagai sekolah dasar.

4. Masjid Jami, Masjid Pertama di Pontianak yang Berdiri Sejak 1771

Masjid Jami merupakan masjid pertama di Pontianak yang didirikan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri pada 1771 bersamaan dengan lahirnya Kesultanan Pontianak.

Bangunan ini memiliki ciri khas berupa enam tiang utama dari kayu belian utuh berdiameter sekitar 60 sentimeter serta 14 tiang penyangga tambahan.

Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Usman sekitar 1821, masjid dibangun kembali dan terus mengalami penyempurnaan oleh para sultan berikutnya hingga menjadi bangunan yang berdiri saat ini.

Keunikan lain terlihat pada atap bertingkat empat yang menggunakan sirap kayu dengan jendela-jendela kecil sebagai ventilasi alami. Bentuk atap tersebut memiliki kemiripan dengan arsitektur Istana Kadriah sebagai simbol eratnya hubungan antara pemerintahan dan kehidupan keagamaan Kesultanan Pontianak.

5. Keraton Kadriah, Istana yang Menjadi Awal Berdirinya Kota Pontianak

Keraton Kadriah dibangun Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri pada 1771 di tepian Sungai Kapuas dan menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak.

Meski tampil sederhana, bangunan ini memadukan arsitektur Melayu, Timur Tengah, dan kolonial yang masih bertahan hingga sekarang.

Gerbang utama keraton memiliki dinding beton setebal hampir satu meter sebagai bagian dari sistem pertahanan. Di sisi kanan dan kiri gerbang masih tersimpan dua meriam peninggalan Portugis.

Di halaman depan berdiri tiang bendera dari kayu belian yang didirikan pada 19 Januari 1845 pada masa pemerintahan Sultan Syarif Usman. Tiang tersebut menjadi simbol kedaulatan Kesultanan Pontianak sekaligus pengingat kejayaan perdagangan di Sungai Kapuas.

6. Kantor Pos Lama, Saksi Lahirnya Sistem Komunikasi Modern di Pontianak

Gedung Kantor Pos Lama dibangun pada 1858 oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Post Telegraafkantoor atau kantor pos dan telegraf.

Pada peta Pontianak tahun 1934, bangunan ini berada di kawasan administratif kolonial yang strategis. Di sebelah timurnya berdiri De Javasche Bank yang kini menjadi Bank Indonesia, sementara di sekitarnya terdapat kawasan yang kini menjadi Taman Alun Kapuas dan Hotel Kartika.

Bangunan ini mengusung gaya arsitektur Indische Empire, ditandai dengan dinding tebal, jendela berukuran besar, langit-langit tinggi, serta atap yang dirancang menyesuaikan iklim tropis.

Hingga kini, Kantor Pos Lama menjadi salah satu penanda penting perkembangan sistem komunikasi modern sekaligus bagian dari kawasan heritage Kota Pontianak yang masih bertahan di tengah pesatnya pembangunan.

Tulisan ini merupakan bagian dari kerja sama dengan Teras.id dalam serial khusus “Pontianak Tanah Seribu” yang menghadirkan tulisan dengan penulisan lebih mendalam dan berkualitas mengenai berbagai isu, sejarah, serta dinamika Kota Pontianak. Untuk membaca artikel lain dalam seri ini, kunjungi website Teras.id atau klik disini.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *