INIBORNEO.COM, Ketapang – Satu bayi orang utan betina, Jani, ditemukan tanpa induk di kebun sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang pada Minggu (18/02/2026).
“Apresiasi kepada semua pihak yang bekerjasama dalam penyelamatan anak orangutan betina ‘Jani’. Di usia 5 tahun, Jani seharusnya masih bersama induknya. Namun setelah berapa hari dipantau sampai dengan penyelamatan,” kata Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, dalam publikasi tertulis, Kamis (22/01/2026).
Jani, nama yang diberikan orang warga desa setempat, telah dilakukan penyelamatan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Ketika ditemukan, Jani terpantau tidak banyak bergerak dan kebingungan menunggu induknya.

Tim sempat juga berupaya mencari induknya tapi hasilnya nihil. Untuk menghindari potensi konflik dengan warga sekaligus menjaga keselamatan satwa, tim verifikasi memutuskan untuk berjaga dan bermalam di lokasi sambil menunggu kedatangan tim penyelamat.
Proses penyelamatan dilakukan tanpa menggunakan senjata atau sumpit bius. Keputusan ini diambil mengingat usia orangutan yang masih sangat muda, sehingga penggunaan anestesi dinilai berisiko. Penanganan dilakukan secara langsung oleh dokter hewan dan animal keeper berpengalaman.
“Secara fisik, Jani tergolong masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko. Penanganan manual menjadi pilihan paling aman, dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa,” jelas drh. Komara, dokter hewan YIARI yang terlibat langsung dalam proses penyelamatan.
Proses penangkapan berjalan lancar. Jani kemudian dimasukkan ke dalam kandang transport dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa Jani diperkirakan berusia sekitar 5 tahun. Pada usia tersebut, bayi orangutan seharusnya masih hidup bersama induknya.

“Di alam liar, anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga usia 6–8 tahun, baik untuk perlindungan, asupan nutrisi, maupun pembelajaran perilaku bertahan hidup. Terpisah dari induknya pada usia ini sangat berisiko dan dapat mengancam keselamatan individunya,” tambah drh. Komara.
Saat ini, Jani ditempatkan di ruang karantina YIARI dan akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan dalam beberapa hari ke depan, sambil menunggu kondisi stresnya stabil.
Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, mengatakan bahwa kasus Jani mencerminkan tekanan yang terus meningkat terhadap habitat satwa liar akibat landskap yang terfragmentasi. YIARI dan BKSDA akan terus memantau kondisi di sekitar perkebunan guna mencari keberadaan induk Jani.
“Kami juga menerjunkan tim untuk memantau kondisi di sekitar perkebunan guna mencari keberadaan induknya. Apabila induknya berhasil ditemukan, akan diupayakan proses pengembalian bayi orangutan ini kepada induknya sekaligus memindahkannya ke lokasi yang lebih aman. Namun, jika induknya tidak dapat ditemukan, Jani akan menjalani proses rehabilitasi hingga usianya mencukupi dan siap untuk dilepasliarkan ke habitat yang lebih layak,” pungkasnya.











