INIBORNEO.COM – Durian Siblih asal Kabupaten Sanggau menjadi salah satu varietas Kalimantan Barat yang terus didorong untuk dilestarikan. Upaya ini tidak hanya bertujuan mempertahankan cita rasa dan kualitas buah, tetapi juga melindungi sumber daya genetik agar tetap menjadi milik daerah asalnya.
Sebagai peneliti yang pernah memimpin Tim Ekspedisi dan Eksplorasi Durian Unggul (TEEDU) Kalimantan Barat pada 2022, Prof. Amin Retnoningsih dari Universitas Negeri Semarang mengatakan, pelestarian Siblih dilakukan melalui perlindungan ilmiah, administratif, hingga perbanyakan pohon di daerah asalnya.
Keunggulan Siblih juga dibuktikan melalui pengukuran tingkat kemanisan buah. Tingkat kemanisan diukur menggunakan satuan Brix, yaitu ukuran derajat kemanisan atau konsentrasi gula terlarut dalam daging buah durian yang diukur menggunakan refraktometer. Nilai Brix menunjukkan tingkat kematangan dan kualitas rasa. Semakin tinggi nilai Brix, semakin manis dan semakin baik kualitas durian tersebut.
Sebagai perbandingan, durian Musang King yang menjadi standar premium global memiliki nilai sekitar 42 Brix. Adapun varietas Siblih dari Sanggau mampu menyamai capaian tersebut dengan nilai 41–42 Brix.
“Artinya, durian lokal kita sangat kompetitif,” ujar Amin.
Menurutnya, tanpa perlindungan, varietas lokal sangat rentan diambil pihak luar, baik melalui pembelian pohon induk maupun teknik perbanyakan modern seperti grafting. Karena itu, ia mengambil langkah ilmiah dengan mendaftarkan data genetik Siblih ke National Center for Biotechnology Information (NCBI).
“Kalau suatu saat ada yang mengklaim, kami sudah punya datanya,” ucapnya.
Selain perlindungan ilmiah, Amin juga mendorong perlindungan secara administratif. Bersama dinas terkait, Siblih telah diusulkan agar ditetapkan sebagai varietas resmi oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Status varietas nasional ini, menurutnya, memiliki arti penting. Dengan pengakuan resmi, bibit Siblih dapat diperbanyak secara legal, memiliki label, dan bisa dipasarkan secara luas, termasuk untuk kebutuhan pengadaan pemerintah maupun ekspor.
Di lapangan, Amin juga melihat langsung bagaimana keberadaan pohon induk Siblih sempat berada dalam kondisi rentan. Setelah pemiliknya meninggal dunia, muncul kekhawatiran bahwa pohon tersebut tidak lagi dirawat secara optimal atau bahkan beralih tangan tanpa kontrol.
Untuk itu, ia bersama jejaring pegiat durian dan komunitas seperti Asosiasi Kebun Durian Indonesia (AKDI) turut mendorong perawatan melalui pemupukan, pemangkasan, dan pengaturan naungan pohon.
Upaya pelestarian menurutnya juga harus dilakukan dengan memperbanyak pohon Siblih di Kalimantan Barat agar karakter unggul varietas ini tetap terjaga sekaligus memperkuat daerah asalnya sebagai sentra Siblih.
“Kita upaya memperbanyak Siblih di Kalimantan Barat. Jadi biar Kalimantan Barat ini sebagai tempat asal-usulnya itu juga punya banyak pohon duriannya,” kata dia.
Baca selengkapnya liputan khusus berjudul “Mimpi Besar Raja Buah Kalimantan Barat Menembus Dunia “Baca”











