INIBORNEO.COM, Pontianak – Perubahan kualitas air menjadi payau di tengah kondisi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk diare. Hal tersebut disampaikan dokter Puskesmas Kampung Bali, dr. Muhammad Faisal Haris.
“Air payau itu kan ya tidak se-higienis air biasa yang kita minum, jadi itu bisa buat diare,” tuturnya ketika ditemui di Puskesmas Kampung Bali, Selasa (11/8/2026).
Faisal menjelaskan, kondisi karhutla dapat memengaruhi kualitas sumber air yang digunakan masyarakat. Abu dari kebakaran yang masuk ke sumber air berpotensi membuat air menjadi tidak higienis apabila tidak diolah dengan baik sebelum dikonsumsi.
Menurutnya, konsumsi air dengan kualitas yang tidak terjaga dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, salah satunya diare.
Perubahan kualitas air juga terjadi di sejumlah wilayah Kota Pontianak. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan meningkatnya kadar garam di Sungai Kapuas akibat pasang air laut membuat air sungai menjadi payau.
Kondisi tersebut terjadi karena berkurangnya tekanan air dari hulu akibat minimnya hujan. Akibatnya, air laut lebih mudah masuk ke Sungai Kapuas.
“Jadi karena di hulu tidak hujan, jadi tekanan dari hulu itu mengecil, juga air pasang ini, air laut masuk,” ungkap Edi, Senin (10/8/2026).
Ia menyebut kadar garam di sejumlah sumber air di Pontianak cukup tinggi. Di wilayah Nipah Kuning, kadar garam tercatat mencapai 2.903 miligram per liter (mg/L), sedangkan di Imam Bonjol lebih dari 700 mg/L dan Selat Panjang sekitar 1.100 mg/L. Sementara kadar garam di Parit Mayor masih berada pada kisaran 400-600 mg/L.
Edi mengatakan air PDAM masih dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dengan batas kadar garam tertentu. Namun, untuk kebutuhan konsumsi, air harus melalui pengolahan lebih lanjut agar memenuhi standar air minum.
“Untuk mengimbangi supaya di Nipah Kuning tidak terlampau asin, makanya dari Imam Bonjol menyuplai untuk dicampur walaupun masih cukup payau. Harapan kita adanya turun hujan agar kadar garam tidak semakin tinggi,” lanjutnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih, terutama untuk kebutuhan minum, selama kondisi air baku masih dipengaruhi tingginya kadar garam.











