Karhutla Dorong Orangutan Keluar Habitat, Tujuh Individu Dievakuasi di Ketapang

  • Share

INIBORNEO.COM, Ketapang — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, semakin menekan habitat orangutan. Sedikitnya tujuh individu orangutan telah dievakuasi tim penyelamat dalam rangkaian kejadian sepanjang Agustus 2026, termasuk satu orangutan jantan yang ditemukan lemas di tengah kepungan asap karhutla pada akhir bulan.

“Enam orangutan diselamatkan dalam tiga pekan. Ini peringatan serius. Kebakaran membuat orangutan kehilangan makanan, tempat berlindung, dan jalur pergerakan,” kata Ketua Umum Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Silverius Oscar Unggul, dalam keterangan tertulis (28/08/2026).

Rangkaian penyelamatan terbaru terjadi pada 30 Agustus 2026. Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan YIARI mengevakuasi orangutan jantan dewasa yang kemudian diberi nama Sampurna dari kebun sawit masyarakat di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang.

Sampurna ditemukan warga dalam kondisi lemah hingga tidak sadarkan diri di sekitar perkebunan. Saat tim tiba, kawasan berhutan di sekitar lokasi diketahui sedang terbakar dan menimbulkan asap. Tim juga tidak menemukan sumber air di sekitar lokasi orangutan tersebut ditemukan.

Dokter hewan YIARI memberikan penanganan awal berupa oksigen dan cairan melalui infus. Sampel darah, feses, dan rambut juga diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut, sementara microchip dipasang untuk keperluan identifikasi dan pemantauan. Kondisi Sampurna diduga berkaitan dengan paparan asap dan kekurangan cairan, meski pemeriksaan medis lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kondisinya.

Sebelum Sampurna, tim gabungan telah melakukan tiga rangkaian penyelamatan orangutan di Ketapang selama Agustus. Pada 6 Agustus, seekor orangutan jantan bernama Wak dievakuasi setelah masuk ke kebun buah warga di Desa Kuala Tolak.

Kemudian pada 21 Agustus, tim menyelamatkan tiga orangutan, yakni Mama Yuni, Pura, dan Yuni, dari kebun warga di Desa Tanjungpura. Ketiganya kemudian dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Gunung Palung.

Sehari setelah menerima informasi keberadaan orangutan dari video yang beredar di masyarakat, tim kembali menyelamatkan induk dan anak orangutan di area perkebunan kelapa sawit dalam konsesi PT SKM, Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, pada 28 Agustus.

Keduanya kemudian diberi nama Mama Yayuk dan Yayuk. Tim sebelumnya menemukan bekas sarang saat melakukan pencarian pada 25 Agustus, sebelum akhirnya menemukan kedua orangutan tersebut pada 27 Agustus.

Dokter hewan YIARI memastikan Mama Yayuk dan Yayuk dalam kondisi sehat dan tidak mengalami luka. Keduanya juga masih menunjukkan perilaku liar sehingga dinilai layak untuk dikembalikan ke habitat yang aman.

Mama Yayuk dan Yayuk kemudian menempuh perjalanan sekitar lima jam melalui jalur darat dan air sebelum dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Palung. Kawasan tersebut dipilih karena dinilai aman serta memiliki tutupan hutan dan sumber pakan yang memadai.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, mengatakan pelepasliaran kedua orangutan tersebut merupakan translokasi kedua di kawasan itu selama Agustus 2026.

“Lokasi pelepasliaran ini telah dilakukan kajian dan dinilai aman dan layak. Hutan serta sumber pakannya memadai. Setelah dilepasliarkan, kedua orangutan akan tetap dilakukan pemantauan,” kata Prawono.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan pihaknya saat ini berada dalam kondisi siaga karhutla sekaligus siaga penyelamatan satwa liar. Setiap laporan masyarakat mengenai satwa liar yang membutuhkan pertolongan ditindaklanjuti oleh petugas.

Menurut Murlan, kebakaran tidak hanya berdampak terhadap tutupan lahan, tetapi juga dapat menekan satwa liar yang berada di sekitarnya. Masyarakat diminta segera melaporkan keberadaan orangutan yang masuk ke kebun atau permukiman dan tidak melakukan penanganan sendiri.

Rangkaian penyelamatan tersebut menunjukkan tekanan karhutla terhadap orangutan tidak berhenti pada hilangnya tutupan hutan. Ketika habitat terbakar, satwa kehilangan sumber makanan, tempat berlindung, serta ruang untuk bergerak dan berpotensi masuk ke wilayah perkebunan maupun permukiman manusia.

YIARI menilai evakuasi hanya menjadi langkah penyelamatan ketika satwa sudah berada dalam kondisi terancam. Pencegahan kebakaran dan perlindungan habitat tetap menjadi upaya utama untuk mengurangi risiko terhadap orangutan dan mencegah konflik dengan manusia.

Masyarakat yang menemukan orangutan diminta tidak mendekati, mengejar, memberi makan, maupun melukai satwa. Laporan dapat disampaikan kepada BKSDA Kalimantan Barat agar proses penyelamatan dapat dilakukan secara aman.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *