INIBORNEO.COM, Pontianak – Di tengah kondisi udara yang kurang baik akibat kabut asap, menjaga daya tahan tubuh menjadi perhatian masyarakat. Salah satu alternatif yang dapat dipilih adalah mengonsumsi jamu tradisional berbahan rempah.
“Lebih bagus minum air jahe karena jahe itu kan ada jahe merah, ada jahe putih,” kata Sri Andini (60), penjual jamu di sekitar Puskesmas Kampung Bali, Pontianak, Selasa (11/08/2026).
Ia menuturkan bahwa minuman berbahan jahe cocok dikonsumsi ketika kondisi tubuh terasa kurang enak.
Menurut Sri, racikan berbahan rempah tersebut dipercaya dapat membantu memperkuat daya tahan tubuh. Ia sendiri menjual jamu yang dibuat dari bahan-bahan segar seperti jahe, kencur, dan kunyit.
“Jadi memperkuat daya tahan tubuh,” ujarnya.
Sri mengatakan jamu yang dijualnya merupakan resep tradisional dari Jawa yang diwariskan oleh ibunya. Dalam pembuatannya, ia menggunakan rempah-rempah segar dan tidak menggunakan bahan kimia.
“Oh, ini memang resep dari Jawa. Jadi resep-resep tradisional yang itu terutama dari rempah-rempah, kayak jahe, kencur, kunyit,” katanya.
Selain jamu berbahan jahe, Sri juga menjual kunyit asam yang cukup diminati anak muda. Menurutnya, pelanggan jamu tidak hanya berasal dari kalangan lanjut usia, tetapi juga terdapat pelanggan yang sudah terbiasa mengonsumsi jamu sejak lama.
“Yang dari dulu-dulu pun masih ada. Dia bilang enggak bisa pindah ke jamu yang lain karena sudah cocok di badan,” tuturnya.
Sri berjualan sejak pukul 07.00 hingga sekitar pukul 10.30 WIB di sekitar Puskesmas Kampung Bali. Pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, termasuk petugas puskesmas, orang yang melintas, hingga anak sekolah dan pekerja kantoran.
Untuk jamu biasa, ia menjualnya dengan harga Rp5.000 per gelas. Sementara jamu dengan tambahan sachet dijual mulai Rp10.000 hingga Rp15.000.
Sri mengatakan resep jamu yang dijualnya dipelajari dari sang ibu yang juga merupakan penjual jamu di Jawa. Tradisi tersebut kemudian ia teruskan setelah merantau ke Kalimantan Barat.
“Dari ibu saya. Ibu saya kan di Jawa penjual jamu juga,” katanya.
Meski jamu masih menjadi pilihan sebagian masyarakat, konsumsi jamu tetap merupakan pilihan pendamping untuk menjaga kebugaran tubuh dan bukan pengganti pengobatan medis, terutama bagi masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan akibat paparan asap.











