INIBORNEO.COM, Pontianak – Air Sungai Kapuas yang menjadi sumber utama air baku kini semakin asin. Menghadapi kondisi tersebut, Pontianak menggerakkan sejumlah cara untuk menjaga pasokan air bagi warganya.
Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Barat Rudy M. Harahap memantau langsung penanganan air asin Perumdam Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak di Waduk Penepat di Desa Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, pada Kamis (3/9).
Berdasarkan data pemantauan kualitas air, BPKP Kalbar menemukan bahwa kadar garam (salinitas) Sungai Kapuas yang menjadi sumber utama air baku telah melonjak drastis hingga menembus angka 5.000 miligram per liter. Angka ini jauh melampaui ambang batas maksimum kesehatan yang dipersyaratkan untuk air minum (di bawah 300 miligram per liter) maupun air mandi (maksimum 600 miligram per liter).
“Kondisi tersebut mendesak optimalisasi Waduk Penepat yang selama ini dikelola Perumdam Tirta Khatulistiwa, yaitu sebagai salah satu benteng utama sumber air baku tawar alternatif,” ujar Rudy, dalam keterangan tertulis.
Rudy menegaskan komitmen BPKP untuk mendorong percepatan perbaikan infrastruktur serta penanganan krisis air baku tersebut. Pihaknya merespons keluhan masyarakat terkait air asin di Pontianak.
“Salah satu penyebab utamanya ternyata adalah perpipaan dan pompa yang kurang terpelihara, mungkin karena kita abai,” tegas Rudy.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa langkah tindak lanjut dan perumusan solusi teknis telah dibahas bersama pihak pengelola. “Tadi kita sudah berdiskusi dengan pihak Perumdam Tirta Khatulistiwa mengenai solusi jangka pendek untuk mengatasi masalah perpipaan tersebut,” katanya.
Salah satunya, perlu pengelolaan khusus air laut. Selain itu, pompa ke waduk yang sebelumnya belum berfungsi difungsikan kembali agar bisa cepat menyuplai air.
Selain itu, ia menilai perlu dilakukan pemompaan langsung dari Sungai Kapuas. Ini agar waduk terus dapat memiliki cadangan air tawar. Ini memerlukan dukungan dana dari banyak pihak, tambahnya.
Di sela-sela pemantauan tersebut, BPKP juga menunjukkan kepedulian sosialnya, yaitu dengan menyalurkan bantuan berupa air minum kemasan kepada para petugas di lokasi Waduk Penepat.
Rudy menambahkan, BPKP Kalbar juga mendorong tata kelola infrastruktur serta pemanfaatan anggaran agar dapat berjalan tepat sasaran, efektif, dan efisien.
“BPKP terus mendorong seluruh pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pengelola air minum untuk segera mengeksekusi solusi jangka pendek maupun panjang,” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya sinergi lintas instansi, akselerasi perbaikan jaringan perpipaan, serta revitalisasi penuh Waduk Penepat. Hal ini dilakukan agar hak rakyat di Pontianak atas air tawar dan air bersih yang layak dapat kembali terpenuhi.
Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan suplai air dari Waduk Penepat telah kembali normal. Kebocoran pipa beberapa waktu lalu telah berhasil diperbaiki. Produksi air tawar kini kembali berjalan. Air tersebut dapat dikonsumsi setelah dimasak.
“Kadar garamnya sudah di bawah 50 miligram per liter, artinya sudah sangat layak. Layak diminum, tetapi dimasak dulu,” katanya di Perumda TirtaKhatulistiwa, Jumat (4/9/2026) sore.
Edi mengatakan, air tawar dari sumber baku Penepat akan terus diproduksi dan dicadangkan untuk kebutuhan masyarakat. Warga yang membutuhkan air tawar dapat memanfaatkan layanan yang disiapkan pemerintah bersama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa.
“Kita akan terus produksi air tawar dari sumber baku Penepat. Ini kita cadangkan kalau masyarakat ingin mengambil,” katanya.
Selain berasal dari produksi PDAM, bantuan air juga didukung dari sumber air gunung dan Anjungan. Pemkot Pontianak juga mendapat dukungan distribusi dari berbagai pihak. Salah satunya bantuan mobil pemadam kebakaran untuk menyalurkan air ke wilayah-wilayah yang membutuhkan.
“Ada 10 mobil pemadam kebakaran yang akan mendistribusikan ke tempat-tempat masyarakat yang membutuhkan, terutama untuk air tawar dan bersih,” jelasnya.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa, Abdullah mengatakan, hingga saat ini pihaknya memiliki cadangan air tawar sekitar 85 ribu liter. Stok tersebut disiapkan sebagai antisipasi apabila terjadi gangguan pasokan dari Penepat. Selain itu, ada pula air hasil pengolahan reverse osmosis atau RO dengan kapasitas sekitar 22 ribu liter per hari.
“Sekarang Penepat sudah jalan, kurang lebih 100 liter per detik yang masuk. Jadi kami harap armada-armada tangki bisa langsung mengisi di sini,” jelasnya.
Untuk mempercepat distribusi, Perumda Tirta Khatulistiwa menyiapkan empat titik pengisian bagi armada tangki. Titik tersebut dipusatkan di booster Imam Bonjol, Kantor Perumda Tirta Khatulistiwa, agar kendaraan tangki dari berbagai pihak dapat mengambil air dan mendistribusikannya ke wilayah yang membutuhkan. Selain pengisian melalui tangki, Perumda Tirta Khatulistiwa juga menyediakan fasilitas pengambilan air menggunakan jerigen atau galon bagi masyarakat. Saat ini terdapat dua titik pengambilan yang masih aktif, yaitu di Booster Perumnas III dan Imam Bonjol.
“Untuk tangki kita pusatkan di Imam Bonjol. Nanti armada-armada yang ada bisa mengambil air di sana, kemudian menyebar ke kecamatan-kecamatan di Kota Pontianak,” jelasnya.
Ia mengatakan, air tawar tersebut diprioritaskan untuk masyarakat yang membutuhkan, terutama untuk kebutuhan konsumsi dan memasak. Pasalnya produksi dari Waduk Penepat belum bisa memenuhi kebutuhan kota lantaran pasang surut. Meski air yang disediakan dapat dikonsumsi, masyarakat tetap disarankan merebusnya terlebih dahulu.
“Kita harapkan air ini air tawar dan bisa dikonsumsi, tetapi dengan saran dimasak terlebih dahulu,” ujarnya.










