Asap Karhutla Masih Ganggu Jarak Pandang di Kalimantan, Pontianak Terparah

  • Share
Petugas memadamkan kebakaran lahan gambut di Kubu Raya yang menghanguskan sekitar 20 hektare area. (Foto: Dok. Humas Polres Kubu Raya)

INIBORNEO.COM – Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisi terparah dalam pemantauan meteorologi penerbangan BMKG terlihat di Pontianak dengan jarak pandang sekitar 2 kilometer dan kondisi berasap.

Pemantauan meteorologi penerbangan BMKG pada Rabu, 9 September 2026 siang, menunjukkan asap masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah prioritas. Pada pukul sekitar 12.47 WIB, BMKG mencatat di Pontianak, jarak pandang sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap. Sementara di Palangka Raya sekitar 4,5 kilometer dan juga berasap.

Kondisi serupa terpantau di Palembang dengan jarak pandang sekitar 5 kilometer, Pekanbaru 4 kilometer, serta Jambi sekitar 3 kilometer. Adapun Banjarmasin relatif lebih baik dengan jarak pandang sekitar 9 kilometer dalam kondisi cerah berawan.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan kondisi tersebut menjadi bagian dari pemantauan terpadu dalam pengendalian karhutla.

“Kondisi jarak pandang tersebut bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah serta kecepatan angin, kelembapan, hujan, dan perkembangan kebakaran di lapangan,” kata Ristianto dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9).

Selain jarak pandang, kualitas udara berbasis PM2,5 juga menjadi perhatian. Sejumlah wilayah di Kalimantan masih terpantau berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan sebagian area masuk kategori berbahaya.

“Kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan prioritas pengendalian, karena dampak karhutla tidak hanya dilihat dari jumlah hotspot dan luas area yang terbakar, tetapi juga dari pengaruh asap terhadap masyarakat dan aktivitas sehari-hari,” ujarnya.

Untuk memperkuat pengendalian, sebanyak 53 armada udara dikerahkan di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Ristianto merinci, sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 34 armada lainnya digunakan untuk operasi water bombing.

“Pengerahan operasi udara dilakukan menyesuaikan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, dan kondisi meteorologis,” katanya.

OMC juga tetap disiagakan untuk memanfaatkan potensi awan yang memungkinkan pembentukan hujan dan membantu pembasahan lahan.

Khusus pada lahan gambut, Ristianto mengatakan operasi pembasahan dan pendinginan terus menjadi perhatian. Sebab, bara api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat secara langsung.

“Kementerian Kehutanan bersama seluruh pihak terkait terus melakukan pemantauan secara terpadu terhadap hotspot, kondisi api di lapangan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, curah hujan, serta jarak pandang sebagai dasar menentukan prioritas operasi berikutnya,” ujarnya.

Ia pun mengimbau masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *