Memang Ada Masalah di Parit

Pengalaman Warga Pontianak yang Kebanjiran

0 403

Tak biasanya Pontianak dilanda hujan dalam rentang waktu yang lama. Seingat penulis, hujan dimulai pada Kamis (11/1) malam, dengan intensitas sedang. Berlanjut hingga keesokan harinya, pada Jumat (12/1) dengan intensitas lumayan lebat. Sesekali hujan tertahan, tapi awan masih saja mendung. Awan abu tersebut terlihat siap bertransformasi menjadi titik-titik air.

Benar memang, tak menunggu waktu yang lama, hujan kembali terjadi, hingga malam, bahkan menyebrang ke hari selanjutnya, Sabtu (13/1). Akibatnya kota dilanda banjir, atau bahasa halusnya tergenang. Tak terkecuali kamar penulis yang ikut tergenang. Ya! Kamarnya saja. Sebab ruangan 2×3 meter itu, kondisinya memang agak rendah di banding ruangan yang lain. Kamar yang dalam proses penyemenan mungkin tidak sempurna menyisakan pori-pori yang memungkinkan air untuk masuk, akibatnya ruangan privat penulis tergenang, sekira 2 cm.

Waktu itu, hujan sempat berhenti. Kabar gembira memang, sebab itu waktu yang tepat untuk mulai menyingsingkan lengan baju, menguras air. Waktu itu masih sore, dan hampir selesai. Berhenti dulu untuk refreshing ke pusat perbelanjaan. Malam hari dilanjutkan dengan mengeringkan kamar. Selesai pekerjaan.

Penulis tidur pulas. Namun tengah malam, kembali hujan. Pagi hari, penulis mulai curiga air akan kembali merembes, lantaran banjir di luar kembali meninggi, belum juga surut. Benar adanya, pagi hari jelang hendak pergi bekerja, air kembali masuk tanpa permisi ke ruang paling penting bagi penulis. Ya sudah, penulis biarkan saja, sembari bergumam,”Masuklah, masuklah sesuka hatimu.”

Hujan masih berlanjut, sepertinya masih copy paste dengan kondisi sebelumnya, hujan datang dan pergi, silih berganti. Kondisi sebagian besar masih didominasi hujan. Berlangsung hingga hari Senin (15/1) pagi. Laporan terjadinya genangan air – Dalam istilah Walikota Pontianak – pun terjadi di mana-mana. Media sosial ramai dengan tema perbincangan ini, mulai dari komentar, celotehan, curhatan, keluhan, hingga caci makian, betaburan menghiasi dinding halaman media sosial milik penulis. Tak lepas pula pemberitaan oleh media cetak lokal, yang mengisi halaman pertama. Begitupun dengan media daring, baik lokal maupun nasional turut memberitakan kejadian ini.  

Berbagai spekulasi tentang penyebab terjadinya genangan air muncul, mulai dari kalangan masyarakat biasa, hingga para ahli. Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Bandara Supadio Pontianak mengatakan bahwa penyebab banjir tersebut disebabkan curah hujan yang tinggi di sebagian besar wilayah pesisir barat Kalimantan Barat. Sebelumnya, BMKG Supadio POntianak telah mengeluarkan peringatan dini sejak 9 Januari 2018.

Curah hujan yang tinggi tersebut lebih disebabkan adanya siklon tropis di Australia bernama “TC JOYCE”. Siklon ini menyebabkan daerah pertemuan angin memanjang dari Sumatra ke Kalimantan Barat sapai ke laut Jawa. Pertemuan angin ini menyebabkan terjadinya pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Kalbar. Di samping itu, pertumbuhan awan hujan juga dikarenakan kelembaban udara yang tinggi.

Kelembaban udara yang tinggi juga mendukung proses pertumbuhan awan hujan,” tutur Sutikno, selaku Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi BMKG Kelas I Supadio Pontianak, sebagaimana dikutip dari laman pontianakpost.co.id.

Awalnya, penulis memaklumi bahwa genangan terjadi akibat curah hujan yang tinggi. Namun, pada saat penulis terlibat sebagai peserta dalam forum diskusi tentang tata kelola wilayah banjir Kota Pontianak, pemakluman itu agaknya berkurang. Dalam forum yang dilaksanakan oleh Fordeb Forum, pada Selasa (16/1) malam, di Balai Kopi, Jalan Alianyang, sedikit banyak membuka wawasan penulis tentang tata kelola banjir Kota Pontianak.

Saat diskusi berlangsung. Diskusi dihadiri oleh puluhan orang

Kiki Priyo Utomo, Dosen Hidrologi Lingkungan, Prodi Teknik Lingkungan Untan, membuka diskusi dengan memaparkan perihal penyebab banjir. Dipaparkan dia, sejak awal Pontianak memang merupakan tempat air berkumpul. Sebab, wilayah kota ini berada di muara Sungai Kapuas, dengan topografi yang datar, yang mana memiliki ketinggian permukaan tanah antara 0,1 sampai 1,5 meter di atas permukaan laut. Dengan demikian, maka Pontianak sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut.

Memang sudah dari sananya letak Pontianak ini merupakan tempat air akan berkumpul, jadi rawan terjadi banjir,” tuturnya.

Kiki memaparkan bahwa wilayah yang berdekatan dengan sungai merupakan wilayah yang produktif. Akibatnya, wilayah tersebut menjadi pilihan manusia bermukim. Ketika manusia semakin ramai maka mereka harus berbagi ruang dengan air. Saat ruang untuk air diambil, maka air akan mencari keseimbangan baru. Hal ini yang membuat Kota Pontianak, sebagai kota yang pembangunannya terus tumbuh penting pengelolaan ruang terhadap air tersebut diperhatikan.

Peran parit pun tidak dapat dilupakan. Kota Pontianak yang dikenal dengan julukan kota seribu parit, dapat memanfaatkan parit sebagai drainase, dan penampung di saat air pasang. Fungsi parit inilah yang mencegah daratan di sekitarnya tergenang. Namun tata kelolanya dinilai masih belum maksimal, akibatnya Pontianak mudah tergenang.

Pembicara kedua dalam diskusi tersebut adalah Anggun Rachmawati, seorang arsitek muda dari komunitas Cawan. Anggun dalam kesempatan tersebut mengenalkan konsep green dan blue dalam tata kelola kota. Menurutnya, pembangunan kawasan hijau dan biru harus beriringan. Dalam bidang ilmu pembangunan atau arsitektur, sudah diatur bagaimana mengkoneksikan ruang hijau dengan drainase alami (parit).


“Kota Pontianak ini dulunya seluruh paritnya saling terkoneksi, namun apakah masih terjaga seperti dulu. Sebenarnya menarik memanfaatkan potensi ruang biru,” ungkapnya.

Penataan ruang hijau dengan drainase alama sejatinya dapat dilkaukan baik dari skala lokal rumah hingga ke kota. Dari ilmu arsitektur, ada cara aplikasi membagi air dengan membuat taman hijau di rumah-rumah. Air hujan dapat dialiri sedemikian rupa untuk menghidupkan taman-taman hijau tersebut. Metode ini pun sudah diaplikasikan di luar negeri, dan berhasil.

Ketiga pembicara saat tampil dihadapan peserta diskusi.

Deman Huri, selaku aktivis lingkungan hidup, yang menjadipembicara ketiga, mengungkapkan idenya untuk menjadikan parit sebagai identitas kota. Di Kota Pontianak saja, kata dia, terdapat 3.500 parit mulai dari primer, tersier dan sekunder.

Jika ditotalkan, panjangnya mencapai 650 kilometer yang membentang di wilayah Kota Pontianak,” tuturnya.

Parit sejatinya, akan menunjukkan identitas sejarah di daerah di sekitarnya. Sebagai contohnya, parit Tokaya yang diambil dari sebutan datuk kaya. Konon katanya, datuk kaya yang pernah tinggal di sana. Ada pula parit sungai putat, yang aslinya di daerah tersebut banyak pohon putat. Termasuklah sebutan sungai Jawi, yang mana di sekitarnya banyak pohon jawi-jawi. Begitupun dengan parit pangeran yang menurut warga setempat merupakan tempat pelarian para pangeran pada masa penjajahan.

Kang Deman, sapaan akrabnya, dalam diskusi tersebut juga mengomentari kejadian banjir yang baru beberapa hari kemarin melanda ibukota Kalimantan Barat. Berdasarkan data genangan yang terjadi di tahun 2016, wilayah yang paling besar terdampak adalah di Kecamatan Pontianak Barat yang mencapai 76 persen, lalu di Pontianak Selatan 64 persen. Sedangkan di Pontianak Utara potensinya masih kecil, sebab partinya masih terjaga serta masih banyak resapan air.

Dia juga sempat memantau langsung saat kejadian banjir disejumlah lokasi. Waktu itu, kondisi Sungai Kapuas dalam kondisi tidak meluap. Namun anehnya, masih ada beberapa wilayah yang masih tetap tergenang akibat hujan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa air tertahan, tidak mengalir ke sungai. “Jadi memang ada masalahnya ada di parit,” pungkasnya.

Penuliis saat itu jadi teringat, bahwa beberapa kali sungai kapuas meluap, sehingga menyebabkan banjir di daerah Pontianak Barat. Kala itu, hujan memang ada namun tidak sampai mengakibatkan banjir di Pontianak Kota. Saat kejadian banjir terakhir, hujan yang mengguyur selama satu malam, membuat kamar penulis banjir. Anehnya saat penulis ke daerah Pontianak Barat, tidak ada banjir di sejumlah tempat yang biasanya banjir akibat luapan sungai. Jadi kesimpulan penulis, memang banjir yang terjadi kemarin akibat curah hujan yang tinggi, namun ini dapat diantisipasi dengan parit yang saling terkoneksi, sehingga mampu mengalir lancar ke Sungai.  Setidaknya jikapun terjadi banjir, durasinya lebih pendek, sebab jika parit terkoneksi maka airnya akan cepat surut. 

Comments
Loading...