Menu
Ini Borneo
banner 728x250

Mengulik Bisnis Online Dukung Ekosistem Digital di Pontianak

  • Bagikan
banner 468x60

INIBORNEO.COM – Rumah nomor 1A di Gang Suditrisno, Jalan Urai Bawadi, sore itu terlihat lengang. Di terali pintu besi, terdapat papan aklirik bertuliskan ‘Buka’. Aryati menyambut sendiri yang membukakan pintu. “Datang sendiri, Dik? Kalau berdua, saya bisa panggilkan terapis lainnya,” tanya perempuan asal Lampung ini.

Aryati (48) memulai usaha pijat Shiatsu dua tahun lalu. Pindah dari Lampung untuk mencari peruntungan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Mengontrak rumah, diambil dua tahun sekaligus, dan melakukan beberapa renovasi. Utamanya menyekat ruangan untuk dibuat kamar lengkap dengan fasilitas pendukung untuk Shiatsu, yakni tiang yang membujur di atas tempat tidur, untuk para terapis berpegangan.
Ruangan yang disiapkan relatif kecil. Tidak ada perlengkapan tambahan lainnya, selain gantungan untuk baju dan tas konsumen. “Biaya kontrakan dan renovasi belum bisa balik, karena pandemi. Sepi sekali, terpaksa tidak ada lagi karyawan tetap dan staf admin. Kalau lebih dari satu konsumen pada waktu yang bersaman, saya panggil terapis lepas,” ujarnya.
Aryati sebenarnya sudah berupaya menjalankan usahanya dengan sistem online. Dia mengikuti pelatihan kewirausahaan secara digital yang diinisiasi Google. Dia membuat website khusus usahanya, serta membuat media sosial untuk memperluas pasar. “Saya bayar website, tiap tahun biayanya naik. Saya tengah memikirkan untuk tidak lagi pakai website,” ujarnya.
Tapi dia tak putus asa, upaya untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dilakukan dengan mengunggah kesaksian para konsumen berdasarkan tangkap layar percakapan melalui aplikasi pesan. Tentunya seizin konsumennya. Dia pun tetap berkeyakinan, dengan online bisa mencakup banyak calon konsumen, “cuma belum rezeki dan ketemu celahnya saja.”
Aryati pernah mengiklankan lowongan pekerjaan terapis di akun Facebook bisnisnya, pada bulan Maret 2020. Dari iklan itu, mendapatkan interaksi satu warga net, yang menanyakan ketersediaan lowongan tersebut. Namun, banyak yang melontarkan pertanyaan serupa melalui jalur pesan pribadi. Hingga kini, lowongan tersebut belum terisi. “Saya mungkin butuh orang lain untuk mengelola media sosial dan konten di website. Soalnya, kalau sendiri saya tidak ketanganan, asal ada yang bisa dengan biaya terjangkau saya mau saja,” ujarnya.
Bisnis melalui online juga dilakukan Aulia Meilinda (40), pemilik D’layla Kitchen. Berbagai jenis lapis legit adalah spesialisasinya. Selain itu, dia juga menjadi reseller berbagai macam produk, kebanyakan makanan. “Untuk hari-hari biasa, pudding menjadi andalan. Jika hari-hari besar keagamaan, berbagai macam lapis,” ungkapnya. Usaha ini sudah ditekuninya sejak belasan tahu yang lalu. Jadi, sebelum berjualan secara online, Aulia telah punya pasar offline.
Secara reguler, dia mengunggah dagangannya di akun Instagram. Pengikutnya sudah mencapai 3000 lebih. Hampir 1000 lebih pengikut didapat setelah dia mengikuti program jejaring dengan sesama pelaku usaha online lain di Kota Pontianak. Melalui jejaring ini, dia terbantu memperluas konsumen serta meningkatkan kualitas konten di dalam akun media sosialnya. “Dibantu video dan foto-foto yang kualitasnya bagus untuk menarik konsumen. Selain itu juga dibantu melakukan upaya menarik pelanggan melalui pemberian hadiah melalui undian,” katanya.
Kendala yang dihadapi adalah sistem pengelolaan keuangan usahanya masih konvensional. Pencatatan dilakukan dengan manual, dan tidak ada perhitungan rugi laba. Aulia pun mengaku sulit untuk memperkuat modal usahanya, lantaran tidak mempunyai jaminan jika harus mengajukan pinjaman. “Jadi pakai modal yang ada saja. Ini juga sudah lumayan. Pelanggan bahkan datang dari luar Pontianak, jadi dikirim melalui jasa ekspedisi,” katanya.
Permodalan dan jaminan juga menjadi kendala bagi Umi Sahita (34), pemilik merek dagang Keripik Pedas Manis Mak Cila. Usahanya dirintis pada 2018 lalu. Umi rajin mengikuti kelas pelatihan bagi pelaku usaha di Kota Pontianak. Mulai dari manajemen bisnis, kemasan, hingga pemasaran online.
“Saya sudah bikin akun melalui website gratis dari Google, hasil pelatihan. Saya juga membangun media sosial yang terintegrasi untuk memperluas pelanggan, dari Instagram dan Fans Page Facebook,” tukasnya. Dari sistem pencarian, keripik Mak Cila menempati urutan utama, dan ini sedikit banyak membuat pelanggan mudah menemukan bisnisnya dan melakukan pemesanan.
Tak hanya itu, pemasaran secara konvensional pun tetap dilakukan, seperti menawarkan usahanya melalui teman-teman arisan, pertemuan keluarga serta menyediakan produk tester di kantor-kantor atau warung kopi. Dia juga membuka peluang reseller keripiknya, yang sedikit banyak membantu keberlangsungan usahanya.
“Memang mengelola media sosial itu perlu waktu khusus dan upaya yang cukup besar. Pasalnya, waktu dan tenaga saya terkuras untuk kegiatan produksi yang dilakukan sendiri, dibantu satu orang tenaga lepas dari keluarga sendiri,” tambahnya.
Berbeda dengan Aryati, baik Aulia maupun Umi, belum merasa perlu menyisihkan anggaran khusus untuk beriklan. Keduanya beranggapan, upaya yang telah dilakuan selama ini lambat laun akan membawa hasil.
Banyak Media
Aditya Galih Mastika (28) mengoptimalkan bisnisnya melalui banyak media. Tak hanya media sosial, Dity juga menggunakan lokapasar untuk memasarkan Airdried Pasta, seperti Fettuccine, Spaghetti dan Penne. “Usaha dirintis sejak 2017 lalu, dan sejak awal sudah menggunakan sistem jualan online,” tukasnya.
Dity bilang, jualan online lebih efektif dan fleksibel. Jualan dan produksi dari rumah, memangkas operasional seperti sewa bangunan dan lain sebagainya. Dia merasa sangat terbantu dengan banyaknya fasilitas lokapasar, sehingga menemukan banyak pelanggan dengan mudah secara virtual.
Selama pandemi, Dity sempat terkendala bahan baku, lantaran ketersediaan sayur dan umbi organik untuk membuat pasta, langka di pasaran. Kini sudah berangsur pulih untuk sedia kala. Bahkan dari jejaring pelanggan di berbagai daerah, banyak yang mengajak tandem untuk membuat bundling paket pasta dengan produk mereka.
Untuk memudahkan konsumen mengontaknya, Dity juga menyematkan pranala otomatis. Sehingga dengan sekali klik, pelanggan langsung terhubung ke nomor pemesanan. Untuk konsumen yang ingin mengambil langsung belanjaannya, Dity tak lupa menautkan koordinat lokasi usahanya di Google map dan website.
“Makin banyak platform, peluang meraih pelanggan makin besar. Sekarang produksi bisa dua hingga tiga kali seminggu,” katanya. Perolehan ini meningkan tiga kali lipat dari sebelum menggunakan banyak lokapasar. Tetapi, untuk meningkatkan jumlah pelanggan, Dity harus rajin melakukan banyak promosi dan mengimbuh berkala dagangannya di lokapasar.
Walau tak ada tenaga kerja yang membantu, Dity menggunakan aplikasi untuk dapat menggunggah berkala promosinya, sesuai waktu yang ditentukan. Dia tinggal menyiapkan banyak konten sesuai dengan jangka waktu tertentu.
Ilmu yang dikuasai Dity ini juga hasil mengikuti banyak pelatihan. Terakhir, dia bahkan sudah dipercaya menjadi pembicara untuk berbagi kiat menjual secara online. Dia mengaku, masih banyak yang pesimis dengan bisnis secara online. Salah satu diantaranya adalah pola pikir yang mengatakan bisnis ini rumit, dan keahlian pelaku usaha kecil, menengah dan mikro masih jauh di bawah rata-rata.
“Pola pikir ini yang harus diubah. Semua bisa dipelajari asal mau. Peluang jualan online ini sangat besar. Terlebih masyarakat Indonesia sudah hampir separuhnya menggunakan internet setiap hari,” tukasnya. Data ini sangat penting untuk melihat betapa besarnya peluang untuk menjalankan bisnis, walau pun skala kecil.
Berkah dari Pandemi
Untuk skala Kota Pontianak, pertumbuhan usaha berbasis digital terbilang cukup pesat. Dinas Koperasi¬† Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, mencatat perizinan melalui pendaftaran online single submission (oss), terjadi peningkatan saat pandemi. “Tahun 2019, tercatat 28.706 izin, meningkat di tahun 2020 menjadi 30.506 izin,” ujar Kepala Bidang Koperasi dan usaha Mikro, Dinas Koperasi¬† Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, Jamilah.
Untuk tahun 2021 ini saja, peningkatan cukup signifikan terjadi di bulan April. Bulan Januari hanya tercatat 201 izin yang diajukan, bulan Februari 249 izin, lalu meningkat menjadi 543 di bulan Maret, dan lebih meningkat di April dengan 1024 izin.
Asosiasi Konsultan Pendamping Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan Koperasi Indonesia atau Asosiasi Business Development Service-Provider Indonesia (BDSI) Wilayah Kalimantan Barat, bertekad membangun UMKM dengan memanfaatkan teknologi. Muhammad Fahmi, pengurus BDSI bidang advokasi dan kebijakan publik sangat optimis untuk perkembangan, khususnya di Kota Pontianak.
Data McKinsey & Company soal potensi sumbangan sektor UMKM terhadap PDB Indonesia 10 tahun ke depan, di mana sektor ini bisa menyumbang PDB hingga US$140 miliar, dengan optimalisasi pemanfaatan teknologi dan mendapat pendampingan yang cukup dalam menjalani bisnisnya.
“Faktor yang mendukung ekosistem digital adalah kesiapan para pelaku untuk akselerasi teknologi, selain itu juga infrastruktur,” kata Fahmi. Kedua hal ini harus dibangun secara selaras, termasuk pula regulasi yang mendukung untuk memudahkan terbangunnya ekositem digital di Kota Pontianak.
Peran pemerintah di sini, kata dia, adalah untuk menyelaraskan serta membangun jembatan penghubung dengan pelaku usaha yang lebih besar, kemudahan perizinan, bantuan usaha dan peningkatan kapasitas pelaku usaha, termasuk pendataan. “Pandemi, sedikit banyak membuat pelaku putar otak agar usaha tetap jalan, dan bisnis online menjadi jalan keluar yang paling memungkinkan,” katanya.
Muhammad Hafiz Waliyuddin, pegiat usaha digital berbasis aplikasi, berpendapat sama. Dia mengatakan, maraknya bisnis online menjadi hikmah tersendiri selama pandemi terjadi. “Pelaku usaha kecil menengah dan mikro harus sadar untuk ikut dalam ekosistem digital. Terlebih data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), berdasarkan hasil survei pengguna internet di Indonesia periode 2019-kuartal II 2020, naik cukup tinggi. Kata dia, jumlah pengguna internet di Indonesia hingga kuartal II tahun ini naik menjadi 73,7 persen dari populasi atau setara 196,7 juta pengguna.
Masyarakat Kota Pontianak, tentunya bisa mengambil peluang, dengan komitmen pemerintah daerah untuk menjadikan Pontianak sebagai Smart City. “Apalagi Kota Pontianak ini paling sedikit blank spot, sehingga memungkinkan hanpir seluruh masyarakat terkoneksi internet,” tambahnya.
Potensi Kota Pontianak ini membuat Dayang Melati, optimis mendirikan Dynamic Indonesia. Perusahaan digital marketing dan branding agency ini berdiri sejak sebelum pandemi.
Menurutnya, peluang cukup besar untuk pelaku usaha yang bergerak di industri digital kreatif. “Ekosistem digitalnya, sudah berjalan cukup baik, terbukti dengan banyak pelaku usaha bidang ini di Kota Pontianak. Bukan mustahil literasi digital masyarakatnya juga meningkat,” ujarnya.
Klien Dynamic Indonesia tak hanya masyakat Kalimantan Barat, perusahaan ini juga dipercaya memegang klien dari seluruh Indonesia. Tugas Dayang tak hanya membantu membuatkan konten dan kampanye digital semata, Dayang berupaya agar kliennya dapat benar-benar memahami produk yang mereka jual secara personal.
Dia juga tak segan membagikan ilmu kepada banyak orang. Dia membagikan buku elektronik gratis yang dapat diunduh di website resmi Dynamic Indonesia. Dayang juga membangun berbagai grup diskusi untuk berbagi pengetahuan dalam memanfaatkan sistem digital. “Saya lebih senang menyebut pelaku UMKM sebagai brand local, jadi sejak awal diajak berpikir bahwa usahanya bisa menjangkau pasar yang luas,” tukasnya.
Penting bagi pelaku usaha lokal agar memahami bahwa produk mereka dapat menjangkau pasar yang lebih besar, dengan strategi yang tepat. Mental pebisnis juga harus ditekankan sejak awal. “Beda pebisnis dan pedagang, kalau pedangan mungkin hanya menjual usahanya saat momen tertentu, tetapi pebisnis tidak kenal momen. Setiap waktu dijalankan usahanya,” tambahnya.
Mental bisnis pun termasuk dalam upaya menginvestasikan dana untuk beriklan. Penggunaan Facebook dan Instagram adalah media sosial yang umum digunakan untuk bisnis. “Harus sabar juga, jangan kecil hati jika yang ‘like’ hanya belasan. Ini proses, belasan orang itu adalah target nyata. Begitu juga jika permintaan produk belum meningkat setelah beriklan,” ujarnya.
Komitmen dan Konsisten
Dukungan pemerintah, pihak swasta, lingkungan usaha serta pendanaan pun nyatanya tak cukup untuk memulai bisnis. “Bisnis apapun, tak hanya bisnis online, harus punya komitmen dan konsisten untuk memulainya,” tukas Ferdian (42), yang menggeluti bisnis ini sejak 2015 lalu.
Baginya, informasi mengenai cara berbisnis sudah banyak tersebar. Tak hanya yang gratis, yang berbayar namun murah pun banyak. Termasuk informasi mengenai produsen yang dapat menyediakan berbagai macam kebutuhan, lokal maupun luar negeri. “Jadi reseller adalah upaya dengan modal minimal, dengan teknik dropship. Jangan takut tak ada pasar, dengan digital pasar terbuka tak hanya lokal saja,” katanya.
Senada dengan yang dikatakan Dayang, dia menyatakan, masyarakat harus pula bisa mandiri dan mempunyai pendirian dalam berbisnis. Bisnis apapun, bisa jadi cuan, karena pasarnya selalu ada dan barangnya tersedia. “Bukan hanya musiman,” tambahnya. Terpenting adalah praktek. Sudah capek-capek ikut pelatihan, tapi tidak optimal dikerjakan, hasil pun tidak maksimal. Aseanty Widaningsih Pahlevi

banner 336x280
Penulis: Aseanty Widaningsih Pahlevi
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *