Kue Bulan dan Makna di Balik Tradisi Syukur Masyarakat Tionghoa

  • Share
Kue bulan atau mooncake menjadi sajian dalam perayaan masyarakat Tionghoa.

PONTIANAK – Kue bulan atau mooncake tak sekadar menjadi sajian dalam perayaan masyarakat Tionghoa. Di balik bentuknya yang bulat, terdapat tradisi panjang yang berkaitan dengan rasa syukur atas hasil panen serta penghormatan kepada Thian.

Tradisi ini disebut telah berkembang sejak masa kerajaan di Tiongkok dan diperkirakan telah berlangsung sekitar 3.000 tahun.

Tokoh Masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat, Rudi Leonard menjelaskan, perayaan kue bulan atau mooncake adalah tradisi penting masyarakat Tionghoa untuk merayakan hasil panen. Perayaan ini berkaitan dengan penanggalan Imlek atau Kongzili yang jatuh pada bulan delapan tanggal 15. Dalam kalender tradisional Tiongkok, waktu tersebut bertepatan dengan musim gugur, ketika masyarakat telah menyelesaikan masa panen.

“Setelah panen, mereka bersyukur kepada Thian karena telah melimpahkan hasil bumi untuk kehidupan manusia,” ungkap Rudi.

Selain berkaitan dengan masa panen, tanggal 15 bulan delapan juga memiliki makna tersendiri karena bertepatan dengan saat bulan dianggap berada dalam kondisi paling sempurna, baik dari bentuk, cahaya maupun sinarnya.

Kondisi tersebut kemudian tercermin dalam bentuk makanan yang disajikan. Masyarakat membuat makanan berbentuk bulat sebagai simbol kesempurnaan bulan. Kue tersebut selanjutnya menjadi bagian dari persembahan dalam ritual syukuran.

Pada malam tanggal 15 bulan delapan, masyarakat, terutama yang tinggal di pedesaan, menaikkan dupa dan memanjatkan doa sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi yang telah diberikan.

“Bentuknya yang bulat mencerminkan bulan yang sempurna,” jelasnya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *