INIBORNEO.COM, Kubu Raya – Berawal dari pekarangan rumah, Pinarta berhasil mengembangkan budidaya lebah kelulut hingga menjadi salah satu usaha madu unggulan di Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya. Kini, pria yang akrab disapa Bang Pen itu mengelola sekitar 200 stup atau sarang lebah hasil pengembangan dari koloni miliknya sendiri.
“Awalnya saya mulai tahun 2016. Tahun 2017 sempat gagal hampir satu tahun karena kurang pengalaman. Dari situ saya belajar kalau kunci budidaya kelulut itu ada pada pakannya. Setelah itu saya terus mencoba dan tidak menyerah,” kata Bang Pen saat ditemui di lokasi budidayanya, Minggu (26/07/2026).
Kegagalan pada tahun pertama tidak membuatnya berhenti. Saat itu sebagian besar koloni yang dipeliharanya pergi karena lingkungan budidaya belum menyediakan sumber pakan yang cukup. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya bergantung pada stup, tetapi juga pada keberadaan tanaman berbunga di sekitar lokasi.
Kini seluruh pengembangan koloni dilakukan dari halaman rumahnya. Jika pada awal usaha ia masih mencari bibit lebah dari alam liar, saat ini proses pemecahan koloni dilakukan di area budidayanya sendiri sehingga tidak lagi bergantung pada koloni liar.
“Sekarang saya ada sekitar 200 stup. Semuanya hasil pemecahan koloni di tempat saya sendiri. Saya tidak lagi mencari koloni ke kebun orang,” ujarnya.
Menurut Bang Pen, keberadaan tanaman berbunga menjadi faktor utama yang menentukan produktivitas lebah kelulut. Di sekitar lokasi budidayanya ia menanam berbagai jenis tanaman seperti bunga asoka, bunga pengantin, kelapa, dan pinang untuk menyediakan sumber nektar sepanjang tahun.

Ia mengibaratkan lebah seperti manusia yang akan betah tinggal jika kebutuhan hidupnya tersedia. Karena itu, sebelum memperbanyak koloni, ia lebih dulu memastikan ketersediaan pakan di sekitar lokasi.
“Yang paling penting itu budidaya bunganya dulu. Kalau pakannya ada, lebah akan betah dan terus berkembang,” katanya.
Bang Pen juga menjelaskan bahwa cita rasa madu dipengaruhi oleh jenis tanaman yang menjadi sumber nektar. Madu yang dihasilkan dari kawasan mangrove memiliki aroma dan tekstur berbeda dibandingkan madu dari kawasan dengan dominasi tanaman akasia atau kebun campuran.
“Kalau di sini pakannya bermacam-macam, seperti kelapa dan pinang, jadi rasanya lebih kompleks, ada manis dan sedikit asam. Kalau di kawasan akasia biasanya lebih manis,” jelasnya.
Dalam kondisi normal, Bang Pen memanen madu setiap satu bulan sekali. Pada Juli ini ia berhasil menghasilkan sekitar 30 kilogram madu, sementara produksi tertinggi yang pernah dicapainya mencapai 35 kilogram dalam satu bulan. Namun hasil panen tetap dipengaruhi kondisi cuaca, terutama saat musim hujan atau ketika kemarau panjang mengurangi produksi bunga.

Madu kelulut yang diproduksinya dipasarkan dengan harga sekitar Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Penjualannya tidak hanya melayani pasar lokal, tetapi juga telah menjangkau luar Kalimantan, termasuk pengiriman ke Bali.
Selain mengembangkan produksi, Bang Pen juga terus berinovasi dengan memanfaatkan barang bekas sebagai media budidaya. Kaleng cat, dispenser rusak, hingga magic com bekas ia uji coba sebagai tempat pemecahan koloni. Menurutnya, selama wadah tersebut terlindung dari sinar matahari langsung, lebah tetap dapat berkembang dengan baik.
Ia berharap semakin banyak warga yang tertarik mengembangkan budidaya kelulut sebagai sumber pendapatan keluarga. Baginya, usaha yang dimulai dari halaman rumah itu telah menjadi penghasilan utama sekaligus mengangkat nama Desa Medan Mas melalui produk Madu Kelulut Nazwa.

“Saya ingin teman-teman tetap semangat. Kegagalan itu bukan akhir. Kalau terus belajar dan menjaga kualitas, budidaya kelulut bisa menjadi usaha yang menjanjikan,” tutupnya.











