Srikandi Bekantan Jaga Hutan, Berani Hadapi Pemburu

  • Share
Srikandi Bekantan, kelompok patroli perempuan dari Desa Mengkalang Jambu, Kecamatan Kubu. (foto: Yayasan Planet Indonesia)

INIBORNEO.COM, Kubu Raya – Ketika sebagian besar patroli hutan identik dengan laki-laki, enam perempuan dari Desa Mengkalang Jambu, Kecamatan Kubu, memilih mengambil peran berbeda. Mereka membentuk Srikandi Bekantan, kelompok patroli perempuan yang menjaga hutan desa sekaligus melindungi bekantan dan satwa liar lainnya dari ancaman perburuan.

“Kami ingin menjadi bagian dari tim patroli perempuan. Kami ingin terlibat langsung memantau dan melindungi hutan kami, serta ikut menyelamatkan satwa liar di desa ini,” kata Yunita, salah satu anggota Srikandi Bekantan, ketika ditemui di Desa Medan Mas dalam rangka Hari Mangrove Sedunia, Minggu (26/07/2026).

Ide pembentukan kelompok itu muncul pada 2 Oktober 2025. Yunita mengatakan gagasan tersebut berasal dari ibu-ibu desa yang ingin ikut menjaga kawasan hutan. Berbeda dengan patroli sungai yang telah dilakukan kelompok laki-laki, mereka mengusulkan patroli darat menggunakan sepeda motor karena dinilai lebih sesuai dengan kondisi medan.

Namun, usulan itu baru terealisasi sekitar satu tahun kemudian setelah mendapat dukungan dari organisasi konservasi yang mendampingi masyarakat. Dalam sejumlah pertemuan desa, seluruh perempuan diundang untuk bergabung secara sukarela.

“Tidak ada paksaan. Kami tanya siapa yang sanggup. Awalnya hanya enam orang yang bersedia. Ada yang tidak jadi karena tidak mendapat izin dari suami, akhirnya terbentuklah enam anggota,” ujarnya.

Yunita, salah satu anggota Srikandi Bekantan ketika ditemui di Desa Medan Mas saat menghadiri acara Hari Mangrove Sedunia, Minggu (26/07/2026). (Foto: Cantya Zamzabella)

Menurut Yunita, tantangan terbesar bukanlah medan patroli, melainkan membangun dukungan dari keluarga.

“Banyak yang punya anak, jadi harus pandai membagi waktu. Dari masyarakat mungkin masih bisa diberi pengertian, tapi dari keluarga sendiri kadang lebih sulit. Kami rembukkan bersama-sama supaya tetap bisa berjalan,” katanya.

Keinginan mereka lahir setelah mengetahui bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan yang dilindungi. Di Desa Mengkalang Jambu, bekantan masih kerap terlihat di sekitar permukiman sehingga memunculkan kesadaran untuk ikut menjaga keberadaannya.

Sejak mulai berpatroli, Srikandi Bekantan tak hanya memantau populasi bekantan, tetapi juga mengawasi berbagai aktivitas perburuan liar. Mereka beberapa kali berhadapan langsung dengan pemburu bersenjata yang memasuki kawasan hutan.

“Kami hampir setiap hari bertemu pemburu. Ada yang berburu monyet, burung, tupai, bahkan datang bergerombol membawa senjata api,” kata Yunita.

Pernah dalam satu patroli, mereka menemukan pemburu yang membawa hampir satu karung monyet hasil buruan. Yunita dan anggota lainnya memeriksa isi karung untuk memastikan tidak ada bekantan yang ikut diburu.

Pada kesempatan lain, mereka juga dua kali memergoki pemburu burung cucak hijau yang merupakan satwa dilindungi. Kelompok perempuan itu memilih memberikan edukasi dan meminta para pemburu menghentikan aktivitasnya.

“Setiap bertemu kami selalu tanya mereka berburu apa. Kalau satwa yang dilindungi, kami minta jangan diburu karena kami memang bertugas memantau bekantan dan satwa lainnya,” ujarnya.

Meski berhadapan dengan pemburu yang membawa senjata api, Yunita mengaku hingga kini kelompoknya belum pernah menerima intimidasi secara langsung.

“Alhamdulillah belum pernah. Mungkin karena kami selalu turun ramai-ramai. Kami memang sepakat kalau patroli harus bersama-sama,” katanya.

Meski begitu, ancaman tetap mereka rasakan. Bahkan ada warga yang sempat menakut-nakuti mereka dengan mengatakan para anggota patroli bisa ditembak.

Srikandi Bekantan ketika melakukan patroli di hutan desa mereka. (Foto: Yayasan Planet Indonesia)

“Orang bilang, ‘Nanti kalian ditembak.’ Tapi itu justru membuat kami semakin semangat. Kami merasa berada di pihak yang benar karena hukum memang melindungi satwa-satwa ini,” ujarnya.

Selain menghadapi pemburu, Srikandi Bekantan juga masih berhadapan dengan pandangan miring sebagian masyarakat yang menganggap perempuan tidak pantas berpatroli di hutan.

“Mereka bilang, ‘Perempuan ngapain ke hutan?’ Tapi kami tetap semangat karena tujuan kami menjaga hutan dan satwa supaya nanti anak cucu masih bisa melihat bekantan dan rusa di desa kami,” kata Yunita.

Desa Mengkalang Jambu sendiri telah memperoleh hak kelola sekitar 2.920 hektare kawasan mangrove dan hutan melalui skema perhutanan sosial sejak 2019. Kehadiran patroli masyarakat, termasuk Srikandi Bekantan, menjadi bagian dari upaya warga menjaga kawasan tersebut dari perburuan, pembalakan, dan aktivitas ilegal lainnya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *