INIBORNEO.COM, Jeruju Besar – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Jeruju Besar, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya terus berupaya memaksimalkan pelayanan kebutuhan pokok masyarakat, mulai dari distribusi LPG subsidi hingga beras SPHP.
Meski masih menghadapi keterbatasan modal dan stok barang, koperasi yang menjadi percontohan nasional di Kalimantan Barat itu dinilai mulai membantu masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.
Kepala Desa Jeruju Besar, Nurhalijah mengatakan keberadaan koperasi mampu memangkas rantai distribusi LPG sehingga harga jual ke masyarakat menjadi lebih murah dibanding sebelumnya.
“Biasanya masyarakat beli LPG sampai Rp20 ribu sampai Rp22 ribu. Dengan adanya koperasi, warga bisa dapat Rp18.500,” kataanya saat ditemui pada Senin, (25/05/2026).
Menurutnya, LPG menjadi salah satu kebutuhan yang paling banyak dicari masyarakat. Namun kuota yang tersedia saat ini masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga di desa tersebut.
Dari sekitar 1.800 rumah dan lebih dari 2.100 kepala keluarga di Jeruju Besar, koperasi saat ini baru mampu menyalurkan sekitar 100 tabung LPG 3 kilogram setiap bulan.
“Memang belum maksimal, belum sampai 20 persen kebutuhan warga yang terpenuhi. Tapi setidaknya sudah membantu masyarakat,” katanya.
Selain LPG, keberadaan beras SPHP juga cukup diminati masyarakat karena harganya lebih terjangkau dibanding beras premium di pasaran.
Nurhalijah menjelaskan masyarakat memiliki pilihan konsumsi yang berbeda-beda. Sebagian warga memilih beras lokal karena dianggap lebih alami dan baru digiling, sementara sebagian lainnya memilih beras premium dengan kualitas lebih pulen.
“Beras SPHP jalan, beras lokal petani juga tetap jalan, beras premium juga ada yang cari. Jadi memang kebutuhan masyarakat berbeda-beda,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, operasional koperasi hingga kini masih mengandalkan modal gotong royong dari anggota dan dukungan pemerintah desa. Upaya memperoleh tambahan modal dari lembaga pembiayaan juga belum terealisasi sepenuhnya.
“Sementara ini memang kendalanya di modal. Kalau modalnya ada saya yakin koperasi bisa berkembang lebih besar karena permintaan masyarakat sangat tinggi,” ungkapnya.
Untuk menekan biaya operasional, koperasi saat ini belum membuka layanan penuh setiap hari. Aktivitas penjualan dilakukan menyesuaikan kedatangan stok LPG maupun kebutuhan pokok lainnya.
“Kalau barang datang baru kami buka. Jadi sekalian warga belanja kebutuhan lain juga,” katanya.
Saat ini jumlah anggota KDMP Jeruju Besar tercatat lebih dari 300 orang. Warga yang ingin menjadi anggota diwajibkan membayar simpanan pokok Rp100 ribu dan simpanan wajib Rp10 ribu per bulan.
Nurhalijah berharap ke depan pemerintah pusat maupun pihak terkait dapat memberikan dukungan tambahan, terutama terkait modal dan kuota pasokan barang agar koperasi mampu melayani lebih banyak masyarakat.
“Kami berharap minimal bisa memenuhi sampai 40 persen kebutuhan masyarakat,” tutupnya.











