Aksi Perempuan Desa Mitigasi Perubahan Iklim

  • Share
Kegiatan talkshow bertajuk “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia” yang berlangsung di Aula Bungur Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Rabu (22/4/2026).

INIBORNEO.COM, Pontianak – Perempuan di wilayah pedesaan kini semakin aktif mengambil peran dalam menjaga kelestarian hutan, sekaligus memitigasi perubahan iklim lewat langkah kecil yang berdampak. Hal ini tercermin dari pengalaman dua perempuan penggerak dari Desa Sungai Deras dan Desa Kalibandung di Kalimantan Barat.

“Perempuan banyak terlibat, mulai dari pengolahan sampai pengelolaan kelompok,” kata Siti Latifah, salah satu perempuan Desa Sungai Dera dalam talkshow bertema “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia” yang digelar di Aula Bungur Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Rabu (22/4/2026).

Siti juga membagikan pengalaman keterlibatan perempuan di desanya yang bermula dari pendampingan yang dilakukan JARI Indonesia Borneo Barat sejak 2024 hingga akhirnya izin perhutanan sosial terbit pada 2025.

Hutan Desa Sungai Deras yang memiliki luas sekitar 572 hektare merupakan kawasan lindung yang menjadi sumber utama air bersih bagi masyarakat, terutama perempuan yang bergantung langsung pada ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga.

Selain menjaga kawasan hutan, perempuan juga berperan dalam mengelola hasil hutan bukan kayu. Di desa tersebut terbentuk dua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), yakni di bidang pengolahan ikan nila dan produk olahan kelapa.

Kelompok pengolahan ikan nila mengembangkan berbagai produk seperti abon dan kerupuk tulang ikan, sementara kelapa diolah menjadi minyak goreng dan serundeng. Perempuan mendominasi keanggotaan kelompok, bahkan banyak yang memegang peran sebagai ketua.

Ia juga menceritakan keterlibatan perempuan yang mencakup patroli dan pemantauan kawasan hutan. Siti mengungkapkan, pengalaman tersebut menjadi hal baru bagi dirinya dan perempuan lainnya di desa.

“Kami turun langsung ke hutan, naik ke kawasan pegunungan, dan melihat kondisi hutan secara langsung. Itu pengalaman yang sangat berarti,” katanya.

Sementara itu, praktik serupa juga dilakukan di Desa Kalibandung. Nini Andriani menyebut, perempuan menjadi aktor utama dalam pengelolaan perhutanan sosial di desanya. Di Kalibandung, masyarakat mengelola berbagai komoditas seperti jahe, beras merah, nanas, pisang, kopi liberika, hingga kerajinan anyaman dari rotan dan bahan alami lainnya.

“Hampir 90 persen yang terlibat dalam pengelolaan ini adalah perempuan,” katanya.

Selain mengelola usaha, perempuan juga terlibat dalam patroli dan monitoring kawasan hutan. Hal ini penting karena wilayah tersebut merupakan lahan gambut yang rentan terbakar serta menghadapi ancaman penebangan liar.

Ia mengungkapkan, kegiatan patroli tidak mudah karena harus menempuh jarak belasan kilometer dengan berjalan kaki untuk memantau titik-titik rawan. “Kami jalan jauh untuk memastikan tidak ada kebakaran atau aktivitas ilegal,” ujarnya.

Sementara itu, Hana Satriyo, Perwakilan The Asia Foundation di Indonesia menyoroti dampak krisis iklim yang tidak dirasakan secara merata, dengan perempuan sering kali menjadi kelompok paling rentan. Meski demikian, perempuan juga berperan aktif di garis depan dalam menjaga lingkungan serta mengembangkan solusi berbasis komunitas.

“Kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim bukan agenda tambahan, tetapi bagian penting untuk menghadirkan perubahan nyata,” katanya.

Sementara itu, Direktur JARI Indonesia Borneo Barat, Hendy Erwindi, memaparkan praktik lapangan yang menunjukkan besarnya kontribusi perempuan dalam pengelolaan hutan melalui skema perhutanan sosial.

Di Desa Kalibandung, kata dia, pengelolaan hutan desa seluas 7.255 hektare melibatkan delapan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), dengan sekitar 90 persen anggotanya perempuan.

“Keterlibatan perempuan bukan hanya pelengkap, tetapi menjadi faktor utama keberhasilan. Bahkan ada kelompok yang seluruh anggotanya perempuan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, awalnya banyak perempuan merasa tidak percaya diri untuk terlibat. Namun setelah didorong dan diberi ruang, mereka mampu menjadi penggerak utama dalam menjaga hutan dan mengelola sumber daya.

Selain Kalibandung, pendampingan juga dilakukan di Desa Sungai Deras dengan luas perhutanan sosial 527 hektare. Kawasan ini memiliki peran penting sebagai sumber air bagi sejumlah wilayah, sehingga keberlanjutannya harus dijaga.

“Kalau tidak dipertahankan, sumber air akan terdegradasi. Peran masyarakat, terutama perempuan, sangat penting dalam menjaga kawasan tersebut,” katanya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *