banner 728x250

Beting Pintar Punya Cara Menarik Ajarkan Iqro

  • Share
banner 468x60

Oleh : Kurnia, Relawan Beting Pintar

Mengenalkan huruf hujaiaih bisa menjadi lebih menyenangkan jika disiasati dengan metode yang asyik dan menarik. Bahkan anak berusia 3-5 tahun pun bisa menyerap dengan baik huruf-demi huruf arab tersebut. Meskipun tidak berbekal titel ilmu jurusan keguruan apapun, para pengajar di komunitas Beting Pintar berupaya menemukan metodenya sendiri. Terbukti dalam 2 tahun perjalanan komunitas ini melalui program Beting Mengaji anak-anak didik mereka bertambah banyak dan semakin antusias.

banner 336x280

Dari sekian banyak metode belajar baca quran, komunitas ini memilih metode iqro sebagai cara untuk membantu anak-anak Beting untuk dapat membaca alquran. “kami memilih metode iqro karena menurut kami metode ini sudah sangat umum dan akrab dengan masyarakat, serta lebih cepat dan mudah untuk dipelajari dan diajarkan” ujar Nurbaiti selaku founder komunitas Beting Pintar. Meski begitu, tambahnya “dulu sebelum kita turun mengajar, kita juga belajar dulu cara mengajar metode iqro dengan seorang ustadzah lulusan (Ponpes) Gontor, biar kita makin menguasai lagi”.

Menurut data, ada sekitar 30% anak didik Beting Pintar dalam program Beting Mengaji belum sekolah atau sudah sekolah namun belum bisa membaca huruf-huruf abjad. Hal ini diakui relawan agak menyulitkan untuk mengenalkan huruf dan mengajarkan hukum bacaan yang terdapat dalam metode Iqro. Oleh karena itu berbekal dari pengalaman, para pengajar mencoba mengenalkan huruf dengan menjadikannya sebagai suku kata awal pada kata-kata yang familiar dengan anak-anak dan bermakna positif. “kita siasati dengan kata-kata menarik yang mudah mereka ingat, misalnya a ((ا untuk awan, ba (ب) untuk balon, ta () untuk tali. Maka dari tiga huruf ini kalo mereka kurang lancar kita tinggal ingatkan kode-kode itu. Kalo kita bilang awan mereka akan langsung ingat a (). Atau untuk mengingatkan huruf ta () kita bilang supaya balonnya gak terbang ke awan, kita ikat pake apa? Trus mereka langsung ingat tali dan sebut huruf ta ()”.

Diakui para pengajar meskipun metode ini cukup buhtuh kesabaran ekstra namun sangat membantu bagi anak-anak yang memang agak lamban dalam mengenal huruf dan membedakan bunyi huruf. “Metode ini kita pakai untuk anak yang memang butuh metode seperti ini,” kata Nurbaiti, “kalo anaknya tidak perlu, dalam arti langsung bisa ingat ketika kita kenalkan huruf maka kita tidak menggunakan metode ini. Mungkin sekali-sekali jak, karna kemampuan anak kan beda-beda” jelas mahasiswi Ilmu Sosiologi Fisip Untan tersebut.

Relawan lain menambahkan “bahkan ada anak yang susah banget fokus, jadi untuk membuat dia fokus ke iqronya kita buat penunjuk ngaji itu sebagai mobil-mobilan yang akan berhenti pada huruf yang kita tunjuk. Jadi anak itu mau tidak mau matanya ngikutin penunjuk kita dan menyebutkan huruf yang kita tunjuk. Dan alhamdulilllah kayak gini efektif.”ujar Eka yang sedang menempuh pendidikan S1 Hukum Islam di IAIN Pontianak.

Cara mengajar dengan menggunakan kode seperti ini menurut para relawan memiliki beberapa nilai plus tambahan. “dengan cara ngajar kita kayak gitu (dengan kode, red), kita berharap anak sedari kecil sudah biasa mengembangkan nalar pikirnya, bukan hanya sekedar mengandalkan kekuatan hapalan. Selain itu juga kami ingin sambil menambah kosakata yang positif ke dalam otak mereka. Kayak misalnya untuk huruf-huruf yang jarang ada padanan katanya dalam keseharian dunia anak-anak seperti huruf sho (ص) itu bisa jadi sholat, dho (ض) jadi doa, za (ز) itu untuk zaitun atau dza (ذ) untuk zakat, sya (ش) untuk syahadat, sa (س) untuk salam, ja () untuk jalan, la () untuk lari, ka () untuk kaki, ma () untuk makan, na () untuk nasi, dan sebagainya. “ jelas Kurnia, relawan yang sudah 2 tahun membersamai anak-anak didik Beting.

Ketika ditanya apakah semua huruf hijjaiah memiliki kode kata seperti itu, relawan mengaku tentu tidak semua karena bahasa kita memiliki keterbatasan dalam jenis bunyi huruf atau padanan katanya tidak lumrah. “contohnya seperti huruf kho (خ), fa (ف), gho (غ), ḥa (ها), tsa (ث) dan dzo (ظ) kita ajarkan dengan memberitahu dimana letak huruf itu keluar. Memang ini agak sulit, tapi jika sabar dan telaten insyaa Allah lidah mereka akan terbiasa dan bisa mengucapkan dengan benar” jawab Kurnia, mahasiswi semester akhir fakultas Pertanian Untan.

Sejatinya, segala sesuatu yang sudah memiliki dasar yang baik akan lebih mudah untuk dibentuk menjadi sesuatu yang baik pula dikemudian. Termasuk dalam hal sesederhana mengajar baca quran melalui metode Iqro. Fitri, relawan termuda yang baru menamatkan pendidikan tingkat menengah akhirnya ini memberikan keterangan tersebut. “Saya kan mengajar iqro 3 ke atas (3-6). Jadi tinggal lebih mudah aja kalo mereka sudah baik pada iqro 1 dan 2. Karna kan itu jilid dasar yang harus benar-benar ngajarinnya.” Ujarnya.

Pengejar berharap agar metode yang mereka ajarkan juga mudah diserap oleh orang tua yang mengantar anak-anak mereka mengaji sehingga dirumah mudah mengingatkan jika anak-anaknya lupa. Di samping itu, mereka juga bermimpi agar metode ini juga bisa digunakan oleh masyarakat luas, terutama bagi mereka yang juga mengajar baca quran dengan metode iqro, mengingat mudahnya pendekatan ini untuk diterapkan. (kur)

 

banner 336x280
banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *