Bersatu Melawan Pandemi

0 397

INIBORNEO.COM, Pontianak – Data pasien sembuh harian COVID-19 per 27 Desember 2020, melebihi penambahan pasien terkonfirmasi positif. Sebuah harapan bahwa perilaku berstandar protokol kesehatan sudah menjadi pembiasaan baru sepanjang tahun ini. Menjelang tutup tahun, Indonesia masih berjuang melawan Covid-19, serta pemulihan akibatnya.

Data Satgas Covid-19 menyebutkan, hari ini, pasien sembuh bertambah 6.983 orang dan kumulatifnya menjadi 583.676 orang atau persentasenya meningkat menjadi 81,8%. Sementara untuk pasien terkonfirmasi positif, bertambah sebanyak 6.528 kasus. Jumlah kumulatifnya, atau pasien terkonfirmasi positif yang tercatat sejak kasus pertama hingga saat ini, berjumlah 713.365 kasus.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menyoroti kenaikan kasus lantaran ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan. “Dapat disimpulkan, dalam setiap kenaikan kasus aktif selalu diiringi oleh kenaikan persentase daerah yang tidak patuh protokol kesehatan. Dan selalu berawal dari even libur panjang,” tegasnya.

Dari laman covid-19.go.id disebutkan, Pemerintah saat ini sedang menyusun kebijakan perjalanan selama periode liburan panjang termasuk syarat testing bagi pelaku perjalanan menggunakan tes swab antigen yang diakui sebagai alat screening COVID-19 oleh Badan Kesehatan Internasional (WHO).

Sementara itu, hingga akhir November 2020 kemarin pertumbuhan kredit minus 1.39 persen, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) 11,5 persen.
Timboel Siregar, coordinator advokasi BPJS Watch mengatakan, pertumbuhan DPK tersebut mengisyaratkan masyarakat menengah ke atas masih belum mau membelanjakan uangnya. Maka, sektor konsumsi tidak akan membantu pertumbuhan ekonomi bergerak ke arah nol.

“Demikian juga para pebisnis masih lebih suka taruh uang di bank dulu nunggu kondisi membaik, daripada mengnvestasikannya di sektor riil. Kondisi ini akan mempengaruhi kondisi hubungan industrial. Tidak ada PHK saja sudah bagus,” kata Timboel dalam rilisnya.

Kebijakan menyeimbangkan penanganan covid dan memulihkan ekonomi berakhir pada resultan yaitu semakin meningkatnya orang yg terinfeksi covid dan angka yang meninggal, sebelum perayaa Natal kemarin.
Data 25 Desember lalu, ada sekitar 108.411 orang yang masih terinfeksi Covid-19.

“Bila ada 15 persen pasien covid tersebut yang membutuhkan ruang-ruang perawatan khusus atau sekitar 16 ribuan, sementara ketersediaan tempat tidur di ruang khusus (ICU, ICCU dan HCU) di seluruh RS di Indonesia sebanyak 14.839 tempat tidur, maka terjadi ketidakseimbangan jumlah tempat tidur dan jumlah pasien covid,” katanya.

Bisa jadi pasien Covid-19 akan semakin sulit mendapatkan tempat tidur di ruang perawatan khusus. Sudah banyak pasien covid yang ditaruh di IGD menunggu giliran dirawat di ruang intensif tersebut.

Kalau hal ini terjadi terus maka angka kematian karena covid akan semakin meningkat. Pemerintah harus menambah tempat tidur di ruang-ruang khusus agar pasien covid mudah mengakses pelayanan di ruang khusus tersebut, sehingga tidak terlalu lama di IGD.

“Kita semua harus mendukung Pemerintah untuk menurunkan angka pasien Covid, dan ini yang harus menjadi fokus utama. Mengejar pemulihan ekonomi ditunda dulu saja sambil memastikan vaksinasi dieksekusi di Januari 2021,” ungkapnya.

Terdampak
Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi salah satu sektor yang terdampak oleh pandemi COVID-19. Kendati begitu, Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus berupaya membuat industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bisa bertahan melewati pandemi, baik dari kampanye, pelatihan, membuka akses antara pelaku ekonomi kreatif dengan Over-The-Top (OTT), hingga memberikan stimulus ekonomi seperti Bantuan Hibah Pariwisata dan Bantuan Insentif emerintah yang telah diluncurkan tahun ini.

Prabu Revolusi, Juru Bicara Kemenparekraf, mengatakan, “Perhatian Kemenparekraf saat ini adalah memastikan semua pelaku industri memahami protokol kesehatan. Hingga saat vaksin sudah bisa diakses masyarakat nantinya, ini akan memberikan wajah baru bagi sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Efeknya bisa berdampak kepada, hotel yang bisa kembali beroperasi, restaurant kembali hidup, bioskop juga kembali buka, dan kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) juga bisa kembali dijalankan”, ujarnya pada acara Dialog Produktif bertema ‘Industri Kreatif Melawan Hantaman Pandemi’ yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (15/12).

Tantangan yang berat dirasakan oleh pelaku ekonomi kreatif di lapangan, “Pekerja film seperti saya dan teman-teman sejak Maret memang tidak boleh melakukan aktivitas pembuatan film. Baru saat mulai memasuki masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi, pekerja film mulai berproduksi dalam protokol yang sangat ketat” ungkap Lola Amaria, Sutradara Film.

“Industri ekonomi kreatif mau tidak mau harus beradaptasi dengan protokol kesehatan, ini penting untuk dipahami agar ditanggapi dengan serius. Untuk itu kami membuat platform sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment) untuk segera diadopsi. Skenario stimulus juga tetap kita pikirkan, di 2020 kita sudah melakukan Bantuan Insentif Pemerintah, di tahun 2021 akan ada perhatian khusus di 16 sub sektor dan sesuai kebutuhan masing-masing sub sektor”, terang Prabu Revolusi.

Seperti halnya Lola Amaria, Hanung Bramantyo, Sutradara Film juga menyampaikan hal serupa, “Pada saat pandemi semua berhenti total, ada tiga poyek film saya sebenarnya di tahun ini, yang sudah gala premier tidak jadi tayang di bioskop sampai saat ini, yang sudah tayang langsung diturunkan karena tidak ada penonton, sedangkan yang sedang proses pengambilan gambar, harus berhenti”.
Kondisi ini menuntut pelaku ekonomi kreatif untuk adaptif dan melakukan transformasi digital.

“Memang menurut data kami, pelaku-pelaku yang adaptif dan melakukan transformasi digital bisa bertahan sampai saat ini, namun tidak semuanya mampu seperti itu. Kemenparekraf pun menjalankan program inkubasi untuk pembuat film dengan memberikan insentif agar lebih memahami platform digital dan penulisan skenario yang lebih adaptif dengan kondisi pandemi”, terang Prabu Revolusi.

Hal ini pun lebih jauh lagi diungkapkan oleh Lola Amaria, “Cepat atau lambat kita memang harus beradaptasi dengan digital, karena menurut saya bioskop bukan satu-satunya media untuk berkarya bagi pembuat film saat ini. Menurut saya ada banyak sekali ide di masa pandemi seperti misalnya tentang hoax, tentang vaksin, apapun yang berkaitan dengan pandemi yang bisa diproduksi sebagai film edukasi. Platform tidak harus bioskop, bisa televisi, bisa digital, karena mengedukasi masyarakat itu penting”.

Di saat pandemi ini pula kehadiran Pemerintah sangat dibutuhkan oleh pelaku ekonomi kreatif, “Mas Hanum dan Mbak Lola ini contoh pelaku ekonomi kreatif yang tidak menyerah. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga selalu memikirkan tentang film, musik, selalu bicara tentang apa yang bisa kita bantu melalui kewenangan kita. Di 2021 ada beberapa program yang sedang disiapkan, pada saatnya nanti kita akan mengumukan program ini, setidaknya program ini nantinya bisa membantu teman-teman pelaku ekonomi kreatif bisa tetap berkarya”, ujar Prabu Revolusi.

Selain itu, harapan bagi vaksin COVID-19 juga disampaikan oleh Lola Amaria, “Mudah-mudahan vaksin cepat terdistribusi dengan baik dan semua sektor sudah bisa kembali seperti semula sebelum pandemi”.

“Optimisme teman-teman pelaku ekonomi kreatif sangat kita butuhkan agar kita bisa segera bangkit, dan ini perlu kesadaran menjalankan protokol kesehatan. Semakin cepat kita mengendalikan pandemi COVID-19 semakin cepat kita memulihkan kondisi ini, baik sektor Pariwisata maupun Ekonomi Kreatif”, tutup Prabu Revolusi.

Comments
Loading...