INIBORNEO.COM, Pontianak — Kasus penipuan tiket konser yang melibatkan sejumlah pihak berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara acara musik di Kalimantan Barat. Calon pembeli kini cenderung menunggu hingga persiapan produksi terlihat sebelum memutuskan membeli tiket.
“Sebenarnya kita sedang krisis kepercayaan pembeli tiket konser. Ada beberapa yang menipu, tetapi dampaknya justru dirasakan oleh ekosistem kita,” kata Nanda Dwi Wahyudi, Project Director MIKADO Festival, salah satu festival musik yang akan diselenggarakan 4 Desember 2024 di Pontianak, ketika diwawancarai pada Senin (2/11/2026).
Menurutnya, sebagian kasus penipuan dilakukan oleh pihak dari luar Pontianak. Namun, masyarakat kerap menganggap penyelenggara lokal turut bertanggung jawab atas persoalan tersebut.
Kondisi ini membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membeli tiket konser. Sebagian calon pembeli memilih menunggu hingga panggung dan produksi acara benar-benar terlihat sebelum melakukan transaksi.
Untuk membangun kembali kepercayaan, MIKADO berupaya memperkenalkan orang-orang di balik penyelenggaraan acara. Rekam jejak penyelenggara dinilai penting agar masyarakat dapat mengetahui kredibilitas pihak yang mengadakan konser.
“Kalau mau membeli tiket konser yang diadakan teman-teman, cari tahu dulu siapa yang membuat dan siapa orang-orang di balik layarnya. Pontianak ini kecil, jadi kita bisa menelusuri rekam jejak mereka,” lanjutnya.
Selain memperkenalkan penyelenggara, MIKADO juga berupaya menunjukkan progres persiapan acara kepada masyarakat. Salah satunya dengan memublikasikan pembayaran vendor yang telah dilunasi beserta kontrak kerja sama.
Progres desain panggung dan pengurusan perizinan juga menjadi bagian dari informasi yang akan disampaikan kepada calon pembeli tiket. Namun, publikasi tersebut dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan penyelenggara.
MIKADO turut menjalin kerja sama dengan sejumlah komunitas dan instansi. Proses kerja sama tersebut dinilai dapat membantu membangun kepercayaan karena melibatkan komunikasi dan penilaian terhadap pihak penyelenggara.
Menurutnya, kerja sama dengan komunitas menjadi salah satu cara memperluas kepercayaan, dimulai dari kelompok kecil hingga membentuk kolektif yang lebih besar.
“Secara pribadi, sebenarnya saya tidak terlalu ingin menunjukkan apa yang sudah kami kerjakan. Namun, pasar menuntut itu agar mereka percaya,” ungkap Tommy Utama Putra, Program Director MIKADO Festival.
Ia mengatakan, upaya membangun kepercayaan tidak dapat dilakukan secara instan. Penyelenggara perlu menunjukkan keseriusan dan konsistensi dalam menjalankan kegiatan.
Meski demikian, ia menyadari bahwa kepercayaan masyarakat tidak dapat dipaksakan. Hal terpenting adalah penyelenggara tetap berupaya memberikan informasi mengenai proses persiapan acara secara transparan.











