INIBORNEO.COM, Pontianak — Minat masyarakat terhadap hiburan berbasis industri kreatif di Kalimantan Barat dinilai masih tinggi meskipun kondisi ekonomi sedang lesu. Festival musik dan konser menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menikmati hiburan sekaligus berkumpul bersama teman.
Kita tahu ekonomi kita sedang seperti ini, tetapi permintaan terhadap hiburan masih tinggi,” kata Nanda Dwi Wahyudi, Project Director MIKADO Festival, salah satu festival musik yang akan diselenggarakan pada 4 Desember 2026 di Pontianak, ketika diwawancarai pada Senin (2/11/2026).
Menurutnya, konser musik menjadi salah satu alternatif hiburan bagi masyarakat Pontianak. Selain menikmati pertunjukan musik, pengunjung juga dapat bertemu teman, berkumpul, serta menikmati makanan dan minuman yang tersedia di lokasi acara.
Ia menilai, terbatasnya pilihan hiburan di Pontianak turut mendorong masyarakat untuk menghadiri konser dan festival musik.
“Di konser, mereka bisa menikmati musik, bertemu kawan-kawannya, dan hangout bersama. Di sana juga ada F&B, jadi mereka bisa makan dan minum,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, penyelenggaraan festival musik lokal juga dinilai memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan ekosistem industri kreatif. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memberikan ruang bagi pelaku usaha dan pekerja lokal.
MIKADO sendiri berupaya melibatkan pelaku lokal dalam penyelenggaraan acara, mulai dari vendor hingga pekerja. Pengisi acara atau guest star menjadi salah satu pihak yang didatangkan dari luar.
Keterlibatan pelaku lokal tersebut bertujuan agar manfaat penyelenggaraan festival dapat dirasakan oleh berbagai pihak. Dengan demikian, kegiatan musik tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga turut menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif.
Menurut Nanda, keberlangsungan industri kreatif tidak bisa hanya bergantung pada penyelenggara acara. Dukungan masyarakat, komunitas, dan sponsor juga diperlukan agar kegiatan kreatif dapat terus berjalan.
“Krisis kepercayaan terhadap penyelenggara konser dapat berdampak lebih luas terhadap industri kreatif. Ketika masyarakat mulai ragu membeli tiket, sponsor juga berpotensi menahan dukungan terhadap kegiatan tersebut,” lanjutnya.
Kondisi itu dinilai dapat semakin menyulitkan pelaku industri kreatif berskala kecil yang bergantung pada dukungan sponsor untuk menjalankan kegiatan.
“Suka atau tidak suka, ekosistem ini harus diselamatkan. Sebenarnya bukan tanggung jawab kami, tetapi tidak ada salahnya jika kami berkontribusi sedikit untuk komunitas dan ekosistemnya,” ujarnya.
Ia berharap, pelaku industri kreatif lokal tetap berupaya menjalankan kegiatan meskipun dalam skala terbatas. Menurutnya, kegiatan kecil sekalipun dapat memberikan dampak bagi keberlangsungan ekosistem.
“Jangan sampai berhenti berbuat. Sekecil apa pun pengaruh yang kita buat, itu akan sangat berdampak bagi ekosistemnya. Jangan berpikir untuk diri sendiri, tetapi pikirkan juga ekosistemnya,” katanya.











