INIBORNEO.COM, Pontianak – Titik Balik Coffee menjadi salah satu produk yang menarik perhatian di ruang besukan Lapas Kelas IIA Pontianak. Kehadiran produk kopi kekinian tidak sekadar menawarkan minuman kopi, tetapi menjadi bagian dari upaya menghadirkan produk kreatif dari lingkungan pemasyarakatan.
Produk kopi ini lahir dari program pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pontianak. Titik Balik Coffee kini dijual di ruang besukan di lapas tersebut.
Sebelum terlibat dalam produksi dan penjualan, para warga binaan pemasyarakatan (WBP) terlebih dahulu mendapatkan pelatihan mengenai teknik dasar hingga cara penyajian kopi. Setelah memiliki keterampilan, mereka diberikan kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan tersebut dengan menjual kopi di lingkungan lapas.
Namun, nama Titik Balik Coffee memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar identitas produk. Dede, salah satu WBP Lapas Kelas IIA Pontianak, mengatakan nama tersebut menggambarkan sebuah momen untuk melihat kembali perjalanan dan kesalahan yang pernah dilakukan.
Menurutnya, titik balik menjadi pengingat bagi warga binaan bahwa kehidupan setelah keluar dari lapas merupakan kesempatan untuk berubah dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
“Namanya Titik Balik itu seperti kilas balik. Setelah keluar dari sini, kita bisa mengingat lagi kesalahan yang pernah dilakukan dan menjadikannya pelajaran untuk ke depannya,” kata Dede.
Melalui Titik Balik Coffee, pembinaan di dalam lapas tidak berhenti pada pemberian keterampilan. Produk tersebut juga menjadi simbol bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan memulai kembali kehidupannya.
Keterampilan membuat kopi diharapkan dapat menjadi salah satu bekal bagi para WBP ketika kembali ke tengah masyarakat. Dengan kemampuan yang telah diperoleh, mereka memiliki peluang untuk mengembangkan keterampilan tersebut menjadi aktivitas produktif setelah menjalani masa pidana.
Titik Balik Coffee pun menjadi gambaran sederhana dari semangat pembinaan di pemasyarakatan: bahwa masa lalu bukan akhir dari perjalanan, melainkan dapat menjadi pijakan untuk menentukan arah kehidupan yang lebih baik.











