Tim Gabungan Evakuasi Orangutan dari Kebun Warga di Ketapang

  • Share

INIBORNEO.COM, Ketapang – Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI), PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha), bersama masyarakat mengevakuasi seekor orangutan jantan dari area perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Evakuasi dilakukan untuk menyelamatkan satwa tersebut dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan itu.

“Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga. Di sisi lain, masyarakat mengalami kerugian ekonomi karena tanaman rusak dan rasa takut meningkat. Artinya, orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama,” kata Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum YIARI, dalam keterangan tertulis, Kamis (06/08/2026).

Orangutan yang kemudian diberi nama Wak itu pertama kali ditemukan warga di perkebunan buah pada Juli 2026. Keberadaannya menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi merusak tanaman milik warga. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan yang meluas di sekitar desa membuat keselamatan satwa tersebut semakin terancam sehingga tim gabungan memutuskan melakukan evakuasi.

YIARI mencatat kawasan Desa Kuala Tolak bukan kali pertama menjadi lokasi penyelamatan orangutan saat terjadi kebakaran hutan dan lahan. Pada 2015 dan 2019, BKSDA Kalbar bersama YIARI juga mengevakuasi sejumlah orangutan dari wilayah yang sama.

Salah seorang warga Desa Kuala Tolak, Morsali, mengatakan konflik antara manusia dan satwa liar terus berulang sejak pembukaan lahan terjadi di sekitar desa.

“Orangutan keluar ini juga masalahnya habitatnya ini terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia ini cari tempat yang aman untuk cari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi,” ujarnya.

Silverius menilai karhutla tidak hanya menghancurkan habitat orangutan, tetapi juga menciptakan konflik yang merugikan masyarakat dan menambah beban pemerintah dalam penanganan satwa liar maupun pemadaman kebakaran.

Ia menambahkan, kondisi kebakaran di Ketapang saat ini sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan karena tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga keselamatan manusia.

“Yang lebih memprihatinkan, kebakaran di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga krisis keselamatan manusia, satwa liar, dan masa depan bentang alam kita,” katanya.

Setelah berhasil dievakuasi, Wak dilepasliarkan kembali ke habitat asalnya di kawasan konsesi PT Mopakha yang masih memiliki tutupan hutan gambut dan populasi orangutan liar.

General Manager PT Mopakha, Wendi Tamariska, mengatakan lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian teknis yang menunjukkan kondisi habitat masih baik, memiliki tutupan tajuk yang memadai, serta ketersediaan pakan yang cukup. Perusahaan juga berkomitmen mendukung pemantauan lanjutan agar orangutan dapat beradaptasi kembali di alam.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan keberhasilan evakuasi menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, perusahaan, dan masyarakat dalam menangani konflik satwa liar.

Menurutnya, translokasi dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk melindungi keselamatan orangutan maupun warga. Ia menegaskan upaya pencegahan konflik satwa tidak bisa dipisahkan dari perlindungan habitat, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, serta penegakan aturan terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar.

Tanpa langkah-langkah tersebut, konflik antara manusia dan satwa liar diperkirakan akan terus berulang dan mengancam kelestarian orangutan di bentang alam Ketapang.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *