INIBORNEO.COM, Pontianak – Pameran Kisah-kisah dari Hulu menghadirkan lebih dari sekadar karya seni. Melalui lukisan, instalasi, dan audio visual yang dipamerkan di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak, 17–19 Juli 2026, para seniman muda menyuarakan pelestarian hutan, pengetahuan masyarakat adat, dan peran perempuan dalam menjaga budaya.
“Kenapa di Kalbar, pertama karena isu yang kami angkat memang berasal dari Kalimantan Barat, tepatnya Kapuas Hulu. Kedua, para senimannya juga lebih banyak dari Kalbar. Yang ketiga, kami ingin memantik gerakan anak-anak muda Kalbar yang tidak hanya bergerak di seni, tetapi juga pada isu perempuan dan lingkungan, dan mereka bisa melakukannya secara kolektif,” kata Direktur Inaya Kayan, Meta Septalisa, saat ditemui di Rumah Budaya, Pontianak pada Jumat (17/07/2026).
Meta menjelaskan, pameran ini merupakan hasil kerja kolektif anak muda dari berbagai komunitas, seperti imajirupa, Susur Galur, serta sejumlah seniman independen dari Kalimantan, Bali dan Jakarta. Seluruh karya merupakan hasil proses belajar para peserta selama mengikuti Art Studies di Kapuas Hulu selama beberapa hari bersama dengan Inaya Kayan.
Salah satu seniman asal Kalbar, Muhammad Ozi Trianda, mengatakan pengalaman tinggal bersama masyarakat Dayak Iban selama empat hari menjadi pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap hubungan manusia dengan alam. Ia mengikuti aktivitas warga sejak dini hari, mulai dari menemani perempuan menenun, laki-laki membuat perahu, hingga ikut ke ladang.
Ia juga mengaku pertemuannya dengan Apai Remang, seorang pejuang hutan adat, menjadi momen yang paling membekas.
“Ketika mendengar diskusi dari Apai Remang tentang hutan adat, itu sangat emosional buatku. Aku bahkan sempat menangis karena merasa kondisi hutan di Kalimantan Barat sekarang sangat memprihatinkan,” katanya.
Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan Ozi ke dalam karya yang mengangkat peran perempuan Dayak Iban sebagai penjaga budaya sekaligus penjaga hutan. Menurutnya, kedua hal itu tidak dapat dipisahkan karena pewarna alami kain tenun berasal dari hutan.
“Aku ingin menunjukkan bagaimana perempuan Dayak Iban melestarikan budaya mereka melalui kain tenun sekaligus menjaga hutan. Karena pewarna kain tenun berasal dari hutan. Kalau hutannya hilang, kain tenunnya juga hilang,” ujarnya.

Dalam lukisannya, Ozi juga menghadirkan sosok-sosok yang dipercaya masyarakat Dayak Iban sebagai penjaga hutan, seperti Remaung atau singa berkaki garuda dan memiliki sayap, Nabau yakni ular yang sangat besar dan bertelinga, dan Gumbala dan Gendali atau kura-kura yang memiliki bulu ketiak yang sangat panjang. Ketiga makhluk tersebut ditempatkan sebagai simbol hubungan erat antara budaya, kepercayaan, dan kelestarian alam.
Ia menilai kisah-kisah tentang makhluk penjaga hutan yang diwariskan secara turun-temurun sesungguhnya menjadi cara leluhur mengajarkan masyarakat agar menghormati alam.
“Bagi masyarakat Dayak Iban, hutan adalah napas kehidupan mereka. Kehidupan sehari-hari mereka memang sangat selaras dengan alam,” katanya.
Melalui karya tersebut, Ozi berharap generasi muda semakin menyadari bahwa bahasa lokal, pengetahuan adat, dan kelestarian alam merupakan satu kesatuan. Ketika salah satunya hilang, maka yang lain juga ikut terancam.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap pengetahuan masyarakat adat, Ozi memastikan lukisan aslinya tidak akan dijual. Ia berencana membawa karya tersebut kembali ke Kapuas Hulu.
“Aku tidak mau mengkapitalisasi pengetahuan ini menjadi hak cipta pribadiku. Ini adalah pengetahuan yang menjadi milikku bersama masyarakat adat. Karena itu lukisan aslinya akan kembali ke Kapuas Hulu,” tuturnya.
Meta berharap gerakan serupa tidak berhenti di Kalimantan Barat. Menurutnya, model kolaborasi antara seni, budaya, dan isu lingkungan dapat berkembang ke berbagai daerah lain di Kalimantan sebagai ruang belajar bersama bagi generasi muda.











