INIBORNEO.COM, Pontianak – Kuching, Sarawak, kian menjadi tujuan warga Kalimantan Barat untuk mencari layanan kesehatan, terutama bagi pasien yang ingin mendapatkan second opinion atau pendapat medis kedua atas diagnosis yang diterima di Indonesia.
“Kuching merupakan kota di Sarawak yang paling dekat dengan Pontianak dan Kalimantan Barat. Selain itu, aksesnya juga relatif mudah, baik melalui jalur darat maupun penerbangan,” kata CEO Timberland Medical Centre Kuching, Dr. Kelvin Ch’ng Boon Hong, dalam media gathering di Pontianak, Jumat (19/6/2026).
Fenomena ini tercermin dari data Timberland Medical Centre Kuching, yang menyebut sekitar 35 persen pasiennya berasal dari Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen merupakan warga Kalimantan Barat.
Menurut Kelvin, salah satu alasan utama masyarakat Indonesia memilih berobat ke Malaysia adalah untuk mendapatkan second opinion. Banyak pasien yang ingin memastikan kembali diagnosis maupun rencana pengobatan yang telah diterimanya.
“Ketika seseorang didiagnosis menderita penyakit tertentu, terutama penyakit serius, sering muncul keraguan atau keinginan untuk memastikan kembali diagnosis tersebut. Karena itu mereka mencari pendapat medis kedua,” ujarnya.
Ia mengatakan, kasus kanker masih menjadi layanan yang paling banyak dicari pasien Indonesia yang berobat ke Malaysia. Setelah itu disusul layanan jantung, ortopedi, bedah saraf, dan gastroenterologi.
Untuk kasus ortopedi dan bedah saraf, keluhan yang paling sering ditangani berkaitan dengan gangguan tulang belakang dan nyeri punggung. Sementara pada layanan gastroenterologi, kasus asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) serta gangguan pencernaan menjadi keluhan yang cukup dominan.
Untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat Kalbar, Timberland Medical Centre yang bergabung dengan IHH Healthcare pada 2024 kini membuka kios di Gaia Bumi Raya City, Kubu Raya. Melalui fasilitas tersebut, calon pasien dapat memperoleh informasi mengenai dokter spesialis, estimasi biaya, jadwal konsultasi, hingga kebutuhan administrasi sebelum berangkat ke Kuching.
Selain itu, pasien juga dapat memperoleh bantuan pengaturan perjalanan, rekomendasi akomodasi, hingga layanan penjemputan setibanya di Kuching.
“Kami ingin memberikan kemudahan sejak pasien masih berada di Pontianak hingga tiba di rumah sakit di Kuching. Dengan begitu, pasien sudah memiliki informasi yang jelas mengenai dokter yang dituju, jadwal konsultasi, serta perkiraan biaya yang akan dikeluarkan,” kata Kelvin.
Di sisi lain, Timberland Medical Centre juga tengah menyiapkan pengembangan layanan melalui pembangunan Gleneagles Hospital Kuching yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2029. Rumah sakit baru tersebut akan menambah sejumlah layanan spesialis, termasuk radioterapi untuk penanganan pasien kanker.
Meski saat ini mayoritas pasien Indonesia berasal dari Kalimantan Barat, pihak rumah sakit berharap peningkatan konektivitas transportasi di masa depan dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat dari berbagai wilayah di Kalimantan untuk mendapatkan layanan kesehatan di Sarawak.











