Video: Ade Joko Untoro
INIBORNEO, Pontianak — Dentuman meriam karbit kembali menggema di sejumlah sudut Kota Pontianak menjelang berakhirnya Ramadan. Tradisi ini telah lama menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat setempat dalam mengisi waktu menunggu berbuka puasa hingga menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Meriam karbit bukan sekadar hiburan. Bagi sebagian warga, bunyi dentumannya menjadi penanda berakhirnya bulan Ramadan dan datangnya bulan Syawal. Tradisi ini terus dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu pelestari tradisi ini adalah Jon alias Ishaq, pemuda yang tergabung dalam komunitas pelestari meriam karbit di Gang Garuda, Kelurahan Benua Melayu Laut. Bersama kelompoknya, ia rutin terlibat dalam kegiatan meriam karbit setiap tahun.
Menurut Jon, tradisi ini bukan hanya soal permainan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Pontianak. Ia mengatakan, keterlibatan generasi muda penting agar tradisi tersebut tidak hilang di tengah perubahan zaman.
Komunitas pemuda di kawasan tersebut secara swadaya menjaga keberlangsungan tradisi, mulai dari pembuatan meriam hingga pelaksanaan permainan yang biasanya dilakukan menjelang berbuka puasa dan malam takbiran.
Di Pontianak, meriam karbit telah menjadi simbol khas Ramadan. Suaranya yang menggelegar kerap dinantikan warga sebagai penanda suasana lebaran yang kian dekat.
Meski berkembang di tengah modernisasi, tradisi ini tetap bertahan sebagai ruang kebersamaan sekaligus ekspresi budaya lokal masyarakat kota.(*)











