Sada Rimba Memanggil dari Sungai Utik

  • Share
Salah satu ritual dalam Festival Rimba IV yang digelar masyarakat adat Kampung Sungai Utik, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. (Foto Dodi)

INIBORNEO.COM, Kapuas Hulu – Sungai Utik kembali memanggil. Bukan dengan suara keras, melainkan melalui bunyi gendang, ritual adat, tarian, dan langkah masyarakat yang menjaga hutan serta kebudayaan mereka tetap hidup.

Panggilan itu terangkum dalam Festival Rimba IV yang digelar masyarakat adat Kampung Sungai Utik pada 8–10 Agustus 2026. Mengusung tema Sada Rimba yang berarti panggilan alam, festival selama tiga hari tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat kembali hubungan antara manusia, adat, budaya, dan hutan.

Bahkan sebelum festival resmi dimulai, masyarakat terlebih dahulu menggelar ritual adat Bedarak pada malam harinya. Ritual tersebut diiringi Begendang Mayoh, tabuhan gendang yang menjadi penanda dimulainya sebuah momen penting.

Namun, gendang yang ditabuh bukan sekadar bunyi pembuka acara. Setiap irama memiliki makna.

Apai Janggut, sapaan akrab Bandi, selaku Tuai Rumah Panjai Sungai Utik, mengatakan Begendang Mayoh dilakukan untuk menandai momen sakral sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur.

“Tabuh Gendang ini dilakukan untuk menandai momen sakral, penghormatan pada leluhur dan menghantar semangat dan menyatukan hati seluruh warga makanya di mainkan beramai-ramai” ujarnya.

Pada hari pertama festival dimulai jam dua siang diawali dengan penyambutan para tamu undangan serta dilakukan Randau Ruai atau ngobrol-ngobrol santai namun berisi.

Untuk mengisi acara di malam harinya, anak-anak Sungai Utik mempersembahkan berbagai pertunjukkan kesenian berupa tari-tarian. Salah satunya adalah Tari Genuk. Gerakan para penari membawa cerita tentang keseharian perempuan adat pada masa lalu ketika mengambil air dari sungai.

Sonia, salah satu penari yang merupakan anak Kampung Sungai Utik, menjelaskan Genuk merupakan sebutan lokal untuk wadah yang digunakan masyarakat membawa air.

“Tarian ini mengisahkan tentang bagaimana perempuan Adat jaman dahulu mengambil air ke sungai menggunakan Genuk sebutan lokal tempat untuk membawa air” ujarnya.

Pada hari kedua dilakukan di Tembawai Sungai Aji di tempat Pemanek Keling dan Kumang. Ritual adat kembali digelar. Namun, kegiatan tidak berhenti pada ritual. Hutan adat juga menjadi salah satu pembahasan penting.

Generasi muda diajak memahami bahwa menjaga hutan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari menjaga identitas dan kehidupan masyarakat adat Sungai Utik.

Dalam diskusi tersebut, anggota DPR RI Komisi IV, Adrianus Asia Sidot, mengingatkan generasi muda agar terus mempertahankan adat istiadat sekaligus menjaga hutan adat yang telah diwariskan.

“Tetap jaga hutan yang ada dan juga lestarikan kebudayaan kita yang masih utuh ini agar kedepan dan selanjut nya akan tetao ada dan di jaga oleh turun temurun generasi kita” ujarnya.

Di hari ketiga di tutup dengan acara parade dan Ritual Ngirup Aek Pengayu, dimana peserta kegiatan diajak untuk menggunakan pakaian Adat dan naik dari Hilir Rumah Panjai berjalan menuju hulu Rumah Panjai sambil diiringi suara Gong yang di mainkan oleh ibu-ibu.

Penulis : Mardinus Dodi

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *