Naga dan Harapan Warga Pontianak: Simbol Hoki dan Kemakmuran di Balik Perayaan Cap Go Meh

  • Share
CAP GO MEH
Arakan naga saat perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak. Foto: Lydia Salsabila

INIBORNEO.COM, Pontianak – Fajar bahkan belum benar-benar merekah ketika halaman Klenteng Kwang Tie Bio sudah lebih dulu ‘bangun’. Minggu (1/3/2026), sejak pukul 05.00 WIB, ratusan warga memadati Jalan Diponegoro, lokasi dimana salah satu klenteng tertua di Pontianak itu berdiri. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka menanti detik-detik ketika sepasang mata raksasa ‘dihidupkan’.

Di antara embun yang belum sepenuhnya menguap, naga-naga berbagai warna berderet memanjang. Sisiknya berkilau diterpa cahaya pagi, memamerkan warna-warni keemasan dari tubuhnya. Jalan Diponegoro seolah menjadi lorong mitologi, dimana tradisi dan tontonan modern menjadi samar.

Ponsel-ponsel terangkat serempak saat prosesi buka mata dimulai. Bagi sebagian orang, itu adalah konten yang sayang dilewatkan. Namun bagi yang lain, ini adalah momen sakral. Momen saat naga tak lagi sekadar properti karena hari itu para naga meminta restu leluhur untuk ‘dihidupkan’. Hanya tiga hari sebelum kemudian naga-naga diantar kembali ke kahyangan.

Ketua Panitia Imlek dan Cap Go Meh Pontianak, Hendry Pangestu Lim, menjelaskan tahun ini Kota Pontianak menghidupkan 49 naga. Tiga diantaranya menjalani prosesi buka mata di Klenteng Kwang Tie Bio, sementara 46 lainnya dibuka di posko masing-masing sebelum akhirnya berkumpul memberi penghormatan di panggung Diponegoro.

“Setelah itu, naga-naga akan berkeliling mengunjungi para donatur, baik swasta maupun pemerintahan,” ujarnya.

Tradisi ini bukan sekadar parade. Dalam kepercayaan Tionghoa, buka mata adalah simbol peresmian. Bentuk permohonan, izin dan restu kepada leluhur sebelum naga menjalankan perannya untuk melimpahkan kesejahteraan di tahun ini dalam rangkaian Cap Go Meh. Setelah seluruh rangkaian selesai, naga-naga tersebut akan dikembalikan melalui prosesi pembakaran di Yayasan Bhakti Suci (YBS) Sungai Raya.

Menurut salah satu tokoh Majelis Adat Budaya Tionghoa yang membidangi adat dan istiadat Tionghoa, Dji Sye Lim (45), naga atau liong merupakan simbol tertinggi dalam khazanah budaya Tionghoa. Berbeda dengan gambaran naga di budaya lain, liong adalah makhluk mitologi suci yang melambangkan kemakmuran, kebaikan, dan kekuatan spiritual. Bahkan masyarakat Tionghoa sering menyebut diri mereka sebagai “keturunan naga”, sebagai simbol kehormatan dan identitas budaya.

“Secara historis, pemujaan terhadap naga sudah ada sejak sekitar 5.000 tahun lalu, sejak era kebudayaan awal di Tiongkok. Naga kala itu diukir dalam batu giok berbentuk menyerupai huruf C, dan dipercaya sebagai makhluk suci,” jelasnya.

Dalam masyarakat agraris Tiongkok kuno, naga identik dengan unsur air dan hujan. Karena kehidupan pertanian sangat bergantung pada musim dan curah hujan, naga dipandang sebagai simbol yang membawa air, kesuburan, dan hasil panen melimpah. “Doa kepada naga pada dasarnya adalah doa agar musim berjalan sesuai waktunya. Hujan turun ketika dibutuhkan dan tidak merusak tanaman,” jelasnya lagi.

Ia menambahkan, Naga juga memiliki simbol arsitektural. Di bangunan tradisional Tiongkok atau klenteng, sering ditemukan ornamen naga di bagian atap. Salah satu bentuknya adalah naga ikan. Ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol perlindungan.

“Bangunan zaman dahulu banyak terbuat dari kayu, naga sebagai simbol air dipercaya dapat melindungi bangunan dari bahaya kebakaran, air melawan api. Makanya kita sering melihat, biasanya pintu masuk klenteng atau di atapnya itu dibuat ornamen sepasang naga ikan,” ucapnya.

Simbol keberuntungan dan rejeki dari naga ini, bahkan dipercaya oleh orang-orang Tionghoa ini dengan mengambil jenggotnya untuk disimpan sepanjang tahun.
“Dengan kontak fisik dan mengambil jenggot naga, dipercaya kita bisa memperoleh keberuntungan dari naga. Jenggot itu biasanya disimpan selama setahun, lalu tahun berikutnya ambil lagi yang baru,” jelasnya.

Ia menambahkan, kepercayaan itu hidup sebagai harapan agar usaha lancar, rezeki mengalir, dan kehidupan berjalan baik. “Orang bilang bisa cuan, bisa hoki. Itu memang kepercayaan masyarakat Tionghoa pada umumnya,” ujarnya.

Tradisi mengambil jenggot naga memang hampir selalu terlihat dalam setiap perayaan Cap Go Meh. Bagi sebagian warga, sehelai benang itu bukan sekadar potongan hiasan, melainkan simbol harapan.

Di sela-sela kerumunan parade naga, seorang warga, Andi (35), tampak memegang sehelai jenggot naga yang baru saja ia dapatkan. Ia tersenyum ketika ditanya alasannya.
“Setiap tahun saya usahakan ambil jenggot naga. Buat saya ini simbol keberuntungan dan perlindungan sepanjang tahun,” katanya.

Ibu-ibu dengan anak-anaknya yang ikut menonton, juga terlihat meminta jenggot naga dari pemain naga. Jenggot naga yang terbuat dari benang wol berwarna merah itu, kemudian diikatkan di pergelangan tangan atau diikat di tas yang mereka bawa.

Selama tiga hari, naga-naga yang telah dibuka matanya bersiap berkeliling kota. Musik dan tabuhan genderang yang memekakkan telinga, mengiringi atraksi tarian naga. Di setiap liukan naga dalam keramaian itu, ada doa tentang perlindungan, keberuntungan, dan harapan akan tahun yang lebih baik.(*)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *