INIBORNEO.COM, Ketapang — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) perkebunan kelapa sawit PT KALE di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berdampak pada puluhan orang utan. Sejak Agustus hingga Oktober 2026, sebanyak 30 orangutan dievakuasi dari dalam dan sekitar area perkebunan tersebut.
“Kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan. Di kawasan HCV PT KALE, masih terdapat sejumlah orangutan yang terdampak dan membutuhkan evakuasi dan penanganan medis segera,” kata CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Karmele Llano Sanchez, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Kebakaran yang menghanguskan habitat orang utan itu membuat satwa kehilangan tempat berlindung dan sumber pakan. Berdasarkan analisis citra satelit pada 1 Agustus hingga 25 September 2026, lebih dari 90 persen kawasan HCV PT KALE dilaporkan telah terbakar.
Dari 51 orangutan yang dievakuasi tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan YIARI di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara sejak 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026, sebanyak 30 individu berasal dari dalam dan sekitar area perkebunan PT KALE.
Empat orang utan terbaru yang diselamatkan terdiri atas dua individu remaja betina, Lusi dan Riri, serta induk dan anak bernama Mama Rian dan Rian. Lusi dan Riri ditemukan di kawasan HCV PT KALE, sedangkan Mama Rian dan Rian diselamatkan dari kebun warga di Desa Riam Berasap, sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan tersebut.
Kondisi Lusi menjadi salah satu gambaran dampak kebakaran terhadap orang utan. Individu berusia sekitar 4–6 tahun itu ditemukan di sebuah pohon yang masih berdiri di tengah hutan yang telah hangus terbakar. Tubuhnya sangat kurus, mengalami dehidrasi, dan dipenuhi luka gores serta luka terbuka yang cukup dalam di bagian punggung, bibir, dan anus.
“Kami menduga luka-luka ini didapat dari gigitan hewan, kemungkinan anjing. Kondisi Lusi juga sangat kurus dan mengalami dehidrasi, kami sungguh sedih melihat kondisi orangutan ini, mungkin sudah lama tidak dapat makanan apapun,” ujar Karmele, yang turut menangani penyelamatan di lapangan.
Sementara itu, Riri ditemukan di pohon sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan. Tim tidak menemukan induknya. Padahal, orang utan muda umumnya masih bergantung pada induk hingga usia sekitar 6–7 tahun. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa induk Riri tidak selamat dari kebakaran.
Mama Rian dan Rian juga ditemukan dalam kondisi tubuh sangat kurus. Keduanya diselamatkan dari kebun warga di Desa Riam Berasap, yang berada di tengah kawasan terdampak kebakaran.
Menurut YIARI, orang utan yang ditemukan di area PT KALE dan sekitarnya mengalami berbagai masalah kesehatan, mulai dari dehidrasi dan malnutrisi hingga luka bakar serta luka terbuka. Sebanyak 27 orangutan yang diselamatkan dari kawasan tersebut saat ini menjalani perawatan lanjutan di pusat rehabilitasi YIARI di Ketapang.
Tim gabungan masih memantau keberadaan orang utan yang bertahan di kawasan HCV PT KALE. Laporan masyarakat juga menjadi dasar pemantauan terhadap orangutan yang bergerak hingga ke permukiman dan kebun warga. Kondisi ini berpotensi memicu konflik antara manusia dan satwa liar karena habitat serta sumber pakan mereka rusak.
YIARI menyatakan penyelamatan perlu dilanjutkan karena sejumlah orang utan diperkirakan masih terjebak di kawasan yang terbakar. Di beberapa lokasi, asap masih tebal dan tanah masih mengeluarkan asap, sehingga satwa menghadapi risiko panas dan sisa bara api.
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, juga menyayangkan minimnya persiapan dan keterbukaan perusahaan dalam menghadapi kebakaran di kawasan tersebut. Menurut dia, sejak awal tidak ada kolaborasi maupun komunikasi dari pihak perusahaan dengan YIARI dan BKSDA Kalimantan Barat mengenai keberadaan orang utan di dalam area konsesi.
YIARI berharap PT KALE berkomitmen melakukan restorasi kawasan yang terbakar. Upaya tersebut dinilai penting untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan sekaligus menjaga habitat satwa liar.
Sebelumnya, publikasi ilmiah pada 2016 memperkirakan kawasan HCV PT KALE menjadi habitat sekitar 150 individu orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Penelitian tersebut mencatat kepadatan rata-rata sekitar 5,49 individu per kilometer persegi, yang tergolong tinggi untuk ekosistem hutan rawa gambut.
Kekhawatiran terhadap keselamatan orang utan di kawasan itu juga meningkat setelah tim gabungan mengevakuasi temuan yang diduga sebagai tengkorak orangutan pada 8 Oktober 2026. Temuan tersebut berada di area HCV PT KALE dan dilaporkan Kementerian Kehutanan pada 9 Oktober 2026. Identitas spesies, penyebab, serta perkiraan waktu kematian masih menunggu hasil pemeriksaan forensik.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan perusahaan yang memiliki area HCV perlu memastikan kawasan tersebut berfungsi sebagai perlindungan keanekaragaman hayati. Langkah yang diperlukan antara lain menjaga koridor satwa, tidak mengonversi hutan yang telah diidentifikasi sebagai HCV, melakukan pengamanan berkala, mencegah kebakaran, dan menanam jenis pohon lokal yang menjadi sumber pakan satwa.
“Area HCV yang terdampak karhutla sepatutnya segera direstorasi untuk mengembalikan fungsi ekologis dan melindungi habitat satwa liar,” ujarnya.











