INIBORNEO.COM, Kubu Raya – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah titik di Kabupaten Kubu Raya dalam beberapa waktu terakhir semakin mengganggu aktivitas masyarakat. Kualitas udara yang memburuk mulai berdampak pada kesehatan warga, terutama gangguan sistem pernapasan.
“Dalam seminggu ini kunjungan pasien gangguan pernapasan ke RSUD kami cenderung meningkat, baik yang rawat jalan maupun yang rawat inap,” ungkap Direktur RSUD Tuan Besar Syarif Idrus, Asep Ahmad Saefullah, Selasa (28/7).
Menurut Asep, dampak kabut asap tidak hanya memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tetapi juga memperburuk penyakit yang sebelumnya sudah diderita pasien.
Tidak hanya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), ia menyebut bahwa kunjungan pasien dengan gangguan pernapasan lain seperti asma, pneumonia, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) juga mengalami kenaikan. Hal ini diduga terkait dengan bencana karhutla.
“Bukan hanya ISPA, penyakit lain yang sudah ada juga dapat kambuh bahkan bertambah parah,” jelasnya.
Ia menerangkan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk hingga ke paru-paru. Kondisi ini dapat menyebabkan batuk, pilek, sesak napas, memicu kambuhnya asma, meningkatkan risiko bronkitis, hingga infeksi saluran pernapasan atas dan bawah, terutama pada anak-anak dan lanjut usia.
Selain gangguan pernapasan, paparan kabut asap juga dapat menyebabkan mata merah, perih, berair, konjungtivitis, hingga iritasi kulit akibat partikel yang menempel pada permukaan kulit.
Ia pun mengingatkan bahwa kelompok yang paling rentan terhadap dampak kabut asap adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti asma, PPOK, penyakit jantung, dan diabetes. Pada ibu hamil, paparan asap berkepanjangan juga berisiko menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah.
Selain berdampak terhadap kesehatan fisik, kabut asap yang berlangsung selama berhari-hari juga dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat karena aktivitas di luar ruangan menjadi terbatas sehingga.
Untuk mengurangi risiko paparan asap, ia mengimbau masyarakat agar selalu menggunakan masker N95 atau KN95 saat beraktivitas di luar rumah karena masker kain dinilai kurang efektif menyaring partikel PM2.5.
Ia juga menyarankan masyarakat menutup rapat pintu dan jendela rumah, menggunakan air purifier atau kain basah pada celah ventilasi, memperbanyak minum air putih, serta menghindari aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk.
“Masyarakat juga diimbau segera datang ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau batuk yang tidak kunjung sembuh lebih dari dua minggu agar mendapatkan penanganan sedini mungkin,” tutupnya.











