INIBORNEO.COM, Pontianak – Hipertensi tercatat sebagai penyakit yang paling banyak ditangani oleh puskesmas di Kota Pontianak sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data oleh Puskesmas di Kota Pontianak, hipertensi esensial atau hipertensi primer tercatat sebanyak 54.409 kasus.
“Tingginya kasus hipertensi menjadi peringatan bahwa masyarakat perlu semakin serius memperbaiki gaya hidup sehari-hari,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, pada Selasa (31/3/2026).
Ia juga menekankan pentingnya menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, cukup istirahat, serta mampu mengelola stres sebagai langkah pencegahan utama.
“Kalau hipertensi ini, penyembuhannya satu, dia harus cek rutin tekanan darahnya, kemudian harus minum obat dan harus mengubah perilaku hidupnya. Jadi kita konsultasikan tentang gizinya, bagaimana cara dietnya, kemudian kita ajak untuk berolahraga, harus rutin,” katanya.
Menurutnya, program cek kesehatan gratis juga menjadi instrumen penting dalam mendeteksi penyakit sejak dini. Banyak warga, kata dia, tidak menyadari memiliki faktor risiko atau bahkan sudah mengalami hipertensi karena penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
“Dengan cek kesehatan gratis itu memudahkan masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Kadang-kadang orang tidak mengerti ada potensi penyakit atau tidak. Kalau diketahui lebih dini, bisa diobati dan dikelola dengan baik, tidak sampai nanti orang baru stroke baru tahu bahwa dia darah tinggi,” jelasnya.
Dinas Kesehatan Kota Pontianak turut mencatat adanya kecenderungan peningkatan kasus hipertensi pada awal 2026, yang diperkirakan naik sekitar 10 persen dibandingkan sebelumnya. Namun, yang lebih penting menurutnya adalah memahami bahwa masalah kesehatan kini didominasi oleh penyakit akibat gaya hidup.
Secara keseluruhan, sepuluh penyakit terbanyak yang ditangani puskesmas di Kota Pontianak selama 2025 mencapai 235.275 kasus. Selain hipertensi, penyakit di urutan kedua yaitu nasofaringitis akut (flu) sebanyak 44.912 kasus. Selanjutnya diikuti dyspepsia atau gangguan lambung sebanyak 28.448 kasus, infeksi saluran pernapasan atas akut 20.575 kasus, serta diabetes melitus non-insulin sebanyak 19.522 kasus.










