INIBORNEO.COM, Pontianak – Polda Kalimantan Barat memastikan seluruh personelnya bebas dari penyalahgunaan narkoba setelah dilakukan tes urine menyeluruh, menyusul mencuatnya kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang melibatkan oknum polisi di Polres Bima.
Penegasan tersebut disampaikan Wakapolda Kalbar, Brigjen Pol Hindarsono, saat diwawancarai usai kegiatan pemusnahan barang bukti narkoba di RS Anton Soedjarwo, Pontianak, Jumat (27/2/2026).
“Menindaklanjuti perintah Presiden dan Bapak Kapolri, kami di Polda Kalbar langsung mengambil langkah tegas dengan melakukan tes urine menyeluruh. Mulai dari Kapolres, pejabat utama, Direktur Narkoba, hingga seluruh anggota. Termasuk saya sendiri sudah diperiksa,” ujarnya.
Ia memastikan, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada satu pun personel yang terindikasi positif narkoba.
“Alhamdulillah, hasilnya seluruhnya negatif. Ini bentuk komitmen kami menjaga marwah institusi,” tegasnya.
Hindarsono menekankan, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen tegas atau zero tolerance terhadap penyalahgunaan narkotika, termasuk di internal kepolisian. Ia menyebut, institusi Polri harus menjadi garda terdepan dalam pemberantasan narkoba.
Menurutnya, apabila di kemudian hari ditemukan anggota yang terbukti terlibat penyalahgunaan narkoba, sanksi tegas berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) akan diberlakukan.
“Itu sudah menjadi komitmen pimpinan kami, Bapak Kapolri. Tidak ada toleransi. Kalau terbukti, keputusan hanya satu, PTDH,” katanya.
Ia menambahkan, pengawasan internal akan terus diperketat melalui tes urine berkala dan pengawasan melekat terhadap personel. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik, terutama di tengah intensifnya pengungkapan kasus narkotika oleh Ditresnarkoba Polda Kalbar.
Lebih lanjut, Hindarsono juga menyoroti bahwa peredaran narkoba kerap berkaitan dengan tindak pidana lain, seperti perjudian online, pencucian uang, hingga kejahatan terorganisir.
“Narkoba ini tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan perjudian, kejahatan siber, hingga gangguan kamtibmas lainnya. Karena itu kami tidak hanya fokus pada pengedar dan kurir, tapi juga jaringan yang lebih luas,” jelasnya.
Ia menegaskan, komitmen menjaga institusi tetap bersih menjadi bagian penting dalam upaya pemberantasan narkoba di Kalimantan Barat.











