Jurnalis Lingkungan Christ Belseran Terima Penghargaan Oktovianus Pogau

  • Share
Christ Jacob Belseran, kontributor Mongabay Indonesia dan redaktur juga pendiri Titastory, yang sering masuk hutan untuk melakukan liputan soal masyarakat adat dan meliput isu tambang yang merusak alam, mendapat Penghargaan Oktovianus Pogau dari Yayasan Pantau untuk keberanian dalam jurnalisme. (Foto: Instagram Christ Jacob Belseran)

INIBORNEO.COM, Jakarta – Christ Belseran di Sungai Nua, di negeri Saunulu, Kecamatan Tehoru, Pulau Seram. Belseran bukan saja sering meliput masyarakat adat maupun hutan dan laut mereka tapi juga punya ketrampilan hidup di alam bebas. (Februari 2025)

Christ Jacob Belseran, kontributor Mongabay Indonesia dan redaktur juga pendiri Titastory, yang sering masuk hutan untuk melakukan liputan soal masyarakat adat dan meliput isu tambang yang merusak alam, mendapat Penghargaan Oktovianus Pogau dari Yayasan Pantau untuk keberanian dalam jurnalisme.

“Dorang bongkar pertambangan nikel di Maluku Utara, dari slogan hilirisasi sampai pertumbuhan ekonomi, semua bikin rusak alam,” kata Yuliana Lantipo dari Yayasan Pantau.

Yayasan Pantau menghargai karya Christ Belseran, dalam menerangkan bagaimana berbagai perusahaan besar merampas tanah, menghancurkan hutan serta mengotori lautan di Kepulauan Maluku maupun Maluku Utara.

“Dorang juga berani meliput aspirasi orang Maluku, dari protes perampasan tanah sampai perayaan Republik Maluku Selatan,” tambahnya.

Republik Maluku Selatan adalah sebuah gerakan kemerdekaan sejak April 1950. Gerakan ini memakai kekuatan. Ia berhasil dikalahkan oleh militer Indonesia pada tahun 1963. Banyak tokoh gerakan pindah ke Belanda. Namun Christiaan Robbert Steven Soumokil, jaksa yang mencanangkan gerakan, ditangkap dan dihukum mati pada tahun 1966.

Christ Belseran lahir 1985 di Piru, kota kecil di Pulau Seram, sekaligus ibukota Kabupaten Seram Bagian Barat. Dia menyelesaikan pendidikan ilmu kelautan di Universitas Pattimura, Ambon, dan magister ilmu komunikasi di Universitas Sahid, Jakarta. Belseran anggota Aliansi Jurnalis Independen.

Dia mulai bekerja sebagai wartawan tahun 2011, mulanya di televisi lokal, lantas sebagai kontributor media Jakarta seperti RTV, TV One, dan The Jakarta Post.

Pada April 2020, The Jakarta Post menerbitkan laporannya soal kematian misterius Yohanes Balubun, seorang pengacara Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, dalam kecelakaan motor di Ambon bulan April 2016, “Four years on, death of Ambon rights figure still leaves hints of anguish.”

Sejak 2019, dia bekerja buat Mongabay Indonesia. Liputan lingkungan hidup, masyarakat adat, perubahan iklim, dan hak asasi manusia, jadi langganannya. Banyak laporan menarik buat Mongabay:

  • Kala Hutan Orang Tobelo Dalam Terus Tergerus Tambang Nikel
  • Upaya Para Perempuan Maba Sangaji Bertahan dan Berdaulat Pangan
  • Berawal dari Sasi Adat, Dua Pemuda Maluku Tengah Terjerat Pidana
  • Hilirisasi Nikel di Halmahera Bisa Perparah Krisis Iklim dan Susahkan Warga

Lewat Titastory, media lokal yang didirikannya di Ambon pada Januari 2020, Belseran juga mengungkapkan kriminalisasi terhadap Antonius Latumutuany, seorang petani negeri Piliana di kaki Gunung Binaiya di Pulau Seram. Ketika kebunnya hendak dirampas, Latumutuany ikut protes bersama warga adat. Dia belakangan memasang bendera Republik Maluku Selatan. Dia ditangkap, diadili di pengadilan Masohi, Pulau Seram, dengan dakwaan “makar” serta dinyatakan bersalah dan dipenjara dua tahun.

Semua liputan ini memerlukan perjalanan masuk hutan dan naik kapal laut. Dia harus hemat. Dia sering menumpang tidur di rumah orang. Bila ada di Jakarta, dia sering menumpang tidur di kantor Jaringan Advokasi Tambang. Dia juga sering tidur bersama warga adat di dalam hutan. Belseran bergurau bahwa genre liputannya adalah “nomaden journalism.”

Bila masuk hutan, Christ Belseran biasa berbekal parang, buat buka jalan, mencari makan serta membuat tempat tidur. Dia memilih tidur dekat sungai, agar ada air, buat minum maupun pasang perangkap ikan. Makanan bisa dari umbi-umbian, dibakar dekat tempat tidur dari dahan kayu, sekaligus mengusir serangga. Di hutan, menurutnya, tak banyak nyamuk.

Pengalaman berbahaya, tentu saja, datang ketika berhadapan dengan manusia. Pada November 2022, dia meliput pertemuan masyarakat adat Wasile dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Halmahera Timur. Beberapa polisi melarangnya merekam bahkan mengusirnya.

“Masyarakat menyatakan, jika jurnalis diusir, mereka juga akan meninggalkan pertemuan,” kataBelseran. Ia belajar bahwa masyarakat yang ia liput tahu bahwa kehadirannya penting, lantas menjadi pelindung bagi kerja jurnalistik.

Pada April 2020, Belseran tiga kali dipanggil Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Maluku setelah meliput penangkapan tiga aktivis Front Kedaulatan Maluku: Simon Viktor Taihutu, Abner Litamahuputty, dan Janes Pattiasina. Mereka membentangkan bendera Republik Maluku Selatan depan Polda Maluku. Belseran disangka mengetahui, bahkan merencanakan, aksi tersebut. Polisi belakangan meneruskan kasus terhadap tiga orang tersebut dengan dakwaan “makar” namun menilai Belseran tak terlibat. Di Ambon, muncul kasak-kusuk bahwa ia adalah “wartawan RMS”.

Belseran percaya jurnalisme adalah jalan yang etis untuk membela kepentingan publik, menjembatani masyarakat dengan negara, serta mendorong perubahan sosial yang adil dan berkelanjutan.
Belseran juga hadir di Guradog, sebuah kampung di kabupaten Lebak, Banten, ketika Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara dideklarasikan pada 9 Agustus 2025.

“Jarang sekali ada wartawan yang berani masuk hutan, bisa bertahan hidup, hanya dengan parang. Christ Belseran bukan saja meliput masyarakat adat, yang memang mengandalkan hidup dari alam, tapi juga bagian dari masyarakat ini, menguasai keterampilan buat hidup di alam terbuka,” kata Lantipo.

Penghargaan Oktovianus Pogau

ktovianus Pogau seorang wartawan Papua, lahir di Sugapa, tahun 1992. Dia meninggal dalam usia 23 tahun pada 31 Januari 2016 di Jayapura. Penghargaan ini diberikan setiap tahun guna mengenang keberanian Pogau. Suara Papua dan Yayasan Pantau bersama mendirikan penghargaan tahunan ini sejak 2017.

Pada Oktober 2011, Pogau melaporkan kekerasan terhadap ratusan orang asli Papua ketika berlangsung Kongres Papua III di Jayapura. Dia merekam suara tembakan. Tiga orang Papua meninggal dan lima orang dipenjara dengan vonis makar. Kegelisahan karena tak banyak media Indonesia memberitakan pelanggaran tersebut mendorong Pogau bikin Suara Papua pada 10 Desember 2011.

Yuliana Lantipo, redaktur JubiTV di Jayapura, mengenang, “Saya bertemu Okto pertama kali di Jogja, tahun 2008 saat dia diundang oleh organisasi mahasiswa di Jogja sebagai pembicara dalam sebuah seminar.”

“Waktu itu dia masih siswa SMA tapi sudah jadi pembicara dimana-mana dengan artikel-artikelnya yang dipublikasi di beberapa media. Saya lihat dia anak muda pemberani dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Keberanian dan kecerdasan Okto menjadi contoh buat banyak anak muda di Papua,” tambahnya.

Juri Penghargaan Pogau terdiri dari Andreas Harsono (Jakarta), Alexander Mering (Pontianak), Coen Husain Pontoh (New York), Made Ali (Pekanbaru), dan Yuliana Lantipo (Jayapura).

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *