INIBORNEO.COM, Pontianak – Upaya dunia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca menghadapi masalah besar. Di satu sisi, banyak negara berjanji menekan emisi demi menahan pemanasan global. Namun di sisi lain, hutan yang berperan penting menyerap karbon justru terus rusak dan hilang.
Laporan Forest Declaration Assessment 2025 yang dirilis pada Oktober 2025 mencatat, sepanjang 2024 dunia kehilangan sekitar 8,1 juta hektar hutan. Selain itu, 8,8 juta hektar hutan lainnya mengalami degradasi atau penurunan kualitas. Angka ini menunjukkan bahwa laju kerusakan hutan masih jauh dari target global untuk menghentikan deforestasi pada 2030.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kondisi ini membuat dunia keluar jalur lebih dari 60 persen dari target yang disepakati dalam Glasgow Leaders’ Declaration on Forests and Land Use tahun 2021.
Padahal, sektor penggunaan lahan, termasuk hutan, menyumbang sekitar seperlima dari total emisi global, sehingga perlindungan hutan menjadi kunci dalam menurunkan emisi.
Kerusakan hutan ini berdampak langsung pada upaya melawan perubahan iklim. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dalam laporan penilaian terbarunya pada 2023 menegaskan bahwa menjaga dan memulihkan hutan adalah salah satu cara paling cepat dan murah untuk menekan emisi karbon dalam waktu dekat. Tanpa hutan yang sehat, target menahan kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius akan semakin sulit tercapai.
Emisi Meningkat
Peringatan serupa datang dari World Meteorological Organization (WMO). Dalam laporan iklim global yang dirilis Januari 2026, WMO menyebutkan bahwa emisi dari sektor energi dan penggunaan lahan terus mendorong konsentrasi karbon dioksida ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah manusia. Menurut WMO, upaya menekan emisi tidak akan efektif jika kerusakan ekosistem penyerap karbon terus terjadi.
Dengan kondisi tersebut, kehilangan dan degradasi hutan tidak lagi bisa dipandang sebagai sekadar masalah lingkungan. Ini telah menjadi penghambat utama dalam upaya global menurunkan emisi. Forest Declaration Assessment 2025 menilai bahwa janji politik, pendanaan iklim, dan perbaikan tata kelola lahan masih belum sebanding dengan besarnya krisis yang dihadapi. Tanpa perubahan nyata dalam perlindungan hutan, dunia berisiko gagal sekaligus menghentikan deforestasi dan menekan emisi global.











