Pemuda Pontianak Cetak Rekor Ultracyclist Termuda se-Asia

  • Share
Muhammad Gusti Hibatullah, pemuda asal Kota Pontianak. (Dok Lintas Borneo).

INIBORNEO.COM, Pontianak — Muhammad Gusti Hibatullah, pemuda asal Kota Pontianak, Kalimantan Barat, menorehkan prestasi membanggakan dengan mencatatkan diri sebagai ultracyclist termuda se-Asia. Rekor tersebut diraih Gusti pada usia 15 tahun setelah berhasil menaklukkan lintasan ultracycling sejauh 1.500 kilometer dalam ajang Lintas Borneo 2025.

Gusti menjadi satu-satunya peserta asal Kalimantan Barat yang mengikuti ajang tersebut. Ia juga berhasil mengungguli enam peserta lain yang berasal dari berbagai daerah dan negara, seperti Jakarta, Samarinda, Malaysia, hingga Jerman. Total waktu tempuh yang dicatatkan Gusti mencapai 152 jam atau setara 6 hari 8 jam.

Rute yang dilalui tergolong ekstrem dan menantang, melintasi Pontianak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Putussibau, Badau, Kuching (Malaysia), Aruk, Sambas, Pemangkat, Singkawang, hingga kembali ke Pontianak. Seluruh rute tersebut ditempuh secara solo dan unsupported, tanpa bantuan dalam bentuk apa pun.

“Dalam ultracycling, yang paling utama adalah kategori unsupported. Dari start sampai finish tidak boleh ada bantuan sama sekali, termasuk dari panitia. Saya ikut kategori solo, jadi full gowes mandiri sejauh 1.500 kilometer,” kata Gusti.

Ia menjelaskan, ultracycling bukan hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga ketahanan mental. Para peserta harus mengayuh sepeda selama berhari-hari, menghadapi cuaca ekstrem, rasa lelah, hingga tekanan psikologis di sepanjang perjalanan. Aturan ketat juga diberlakukan, mulai dari larangan dikawal kendaraan, menerima suplai dari pihak luar, hingga larangan bersepeda beriringan dengan peserta lain.

“Setiap peserta harus menjaga jarak minimal 500 meter. Jika bersepeda bersama lebih dari 30 menit, otomatis didiskualifikasi. Jadi benar-benar wajib mandiri,” tambahnya.

Selama perjalanan, Gusti sempat mengalami berbagai kendala berat. Saat memasuki wilayah Malaysia di kilometer 980, ia mengalami overheat, demam, dan meriang hingga nyaris menyerah. Tantangan belum berakhir ketika kembali ke Indonesia, tepatnya di Kabupaten Sambas, ia mengalami cedera di bagian lengan akibat terserempet kendaraan bermotor.

“Saat itu rasanya ingin menyerah dan pulang. Tapi dengan sisa tenaga dan tekad, saya memilih untuk melanjutkan. 1.500 kilometer ini bukan cuma soal jarak, tapi soal bagaimana menghadapi diri sendiri,” katanya.

Meski diterpa berbagai rintangan fisik dan mental, Gusti akhirnya berhasil menyelesaikan lomba hingga garis finis dan mencetak rekor sebagai ultracyclist termuda se-Asia.

Memasuki tahun 2026, Gusti menargetkan kembali memecahkan rekornya sendiri di ajang Lintas Borneo yang dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang. Selain itu, ia juga tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang ultracycling Bentang Jawa, dengan rute sejauh 1.500 kilometer dari Banten hingga Banyuwangi yang memiliki tingkat elevasi lebih tinggi.

Gusti berharap prestasinya dapat memperoleh perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah.

“Saya berharap ada apresiasi dan dukungan, setidaknya dari media lokal. Saya ingin membawa nama Pontianak, Kalimantan Barat, dan Indonesia di dunia ultracycling,” tutupnya. (ril)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *