INIBORNEO.COM, SINGKAANG – Dua momen besar hadir bersamaan di Kota Singkawang, kota yang dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh beriringan dengan datangnya bulan suci Ramadan, menghadirkan suasana penuh warna, budaya, dan kebersamaan lintas agama.
Sejak awal Februari, Kota Singkawang tampak bersolek menyambut dua perayaan tersebut. Jalanan dan pusat kota dihiasi lampion merah khas budaya Tionghoa. Sementara itu, suasana Ramadan turut semarak dengan festival obor dan lentera yang menjadi pembuka rangkaian agenda menyambut Ramadan. Pemerintah Kota Singkawang juga menggelar Ramadan Fair 2026, yang menghadirkan ratusan stan takjil bagi masyarakat.
Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 atau Tahun Kuda Api di Kota Singkawang ditandai dengan pembukaan Little Chongqing yang dirangkai dengan sembahyang bersama dan penyalaan kembang api di Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Senin (16/2/2026) malam. Kegiatan berlangsung khidmat sekaligus meriah, disaksikan ribuan warga yang memadati kawasan pusat kota.
Pembukaan ditandai dengan pemukulan loku, yang langsung disambut dentuman kembang api bersahutan di hampir seluruh penjuru Kota Singkawang. Momentum tersebut menandai dimulainya ornamen dan dekorasi khas Imlek bertajuk Little Chongqing yang menghiasi sejumlah titik strategis kota.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan pihaknya menargetkan penataan ini tidak sekadar menjadi simbol perayaan, melainkan menghadirkan pengalaman budaya yang kuat bagi masyarakat dan wisatawan.
“Setiap orang yang berkunjung akan merasakan semarak Imlek, karena di kota kita telah kita hias dengan lampu hias Little Chongqing,” kata Tjhai Chui Mie.
Kemeriahan berlanjut dengan pembukaan Singkawang Ramadan Fair 2026 di Mess Daerah, Rabu (18/2/2026), yang ditandai pemukulan bedug oleh Wali Kota bersama Wakil Wali Kota dan Forkopimda.
Pada Singkawang Ramadan Fair kali ini terdapat 100 stand UMKM yang akan menjual berbagai menu makanan dan minuman untuk berbuka puasa (Takjil). Berbagai kegiatan dan lomba juga dihadirkan sebagai hiburan bagi masyarakat sambil menunggu waktu berbuka (ngabuburit).
Tjhai Chui Mie menilai, pasar juadah bisa menjadi wadah bagi warga untuk memperat silaturahmi tanpa melihat latar belakang suku dan agama. Menurutnya, menu makanan dan minuman di pasar juadah juga bisa di nikmati oleh warga non muslim. Sehingga memberi dampak positif bagi perekonomian khususnya UMKM.

“Pasar juadah ini tidak hanya bisa dinikmati oleh masyarakat muslim, yang non muslim juga saya yakin akan ramai ke sini (pasar juadah), karena menu nya adalah makanan dan minuman yang masih segar. Jadi seluruh warga bisa saling berinteraksi satu sama lain,” ujarnya.
Untuk menambah kemeriahan Singkawang Ramadan Fair 2026, Tjhai Chui Mie menyarankan kepada panitia untuk mengelar kegiatan berburu Takjil (War Takjil). Ia juga menyatakan siap berpartisipasi pada kegiatan tersebut.
Selain itu, Tjhai Chui Mie juga berencana akan menggelar buka bersama di Ramadan Fair bersama warga di lokasi pelaksanaan Singkawang Ramadhan Fair. “Rencananya kami nanti akan buka bersama warga disini (Ramadan Fair), kita akan undang tokoh agama, tokoh masyarakat dan anak yatim,” ucapnya.











