INIBORNEO.COM, Pontianak – Data BPS menunjukkan rokok kretek filter menjadi komoditas konsumsi terbesar kedua bagi penduduk miskin setelah beras. Hal ini mencerminkan kerentanan serta persoalan struktural dalam pola konsumsi.
“Dari pola konsumsi penduduk miskin, pengeluaran terbesar itu beras, lalu rokok kretek filter,” ujar M. Saichudin, Kepala BPS Kalbar pada Kamis (05/01/2025).
Dalam pemaparan BPS terkait kemiskinan di Kalimantan, disebutkan bahwa 15,53 persen pengeluaran penduduk miskin di perkotaan digunakan untuk rokok kretek filter, sementara di wilayah perdesaan angkanya mencapai 12,39 persen. Proporsi ini menempatkan rokok sebagai konsumsi terbesar kedua setelah beras, mengungguli telur, daging ayam, dan mi instan.
BPS menjelaskan bahwa penghitungan kemiskinan dilakukan berdasarkan pendekatan konsumsi, baik makanan maupun non-makanan. Untuk konsumsi makanan, standar yang digunakan adalah 2.100 kilokalori per kapita per hari, dan rokok masuk dalam komponen konsumsi tersebut. Sedangkan nilai garis kemiskinan di Kalbar saat ini berada di kisaran Rp650.000 per kapita per bulan.
“Padahal, jika pengeluaran rokok dialihkan, dana tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan lain yang lebih bergizi,” ujarnya.
Di sisi lain, BPS mencatat tingkat kemiskinan di Kalbar menurun tipis, dari 6,16 persen pada Maret 2025 menjadi 5,97 persen pada September 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, peningkatan konsumsi rumah tangga, serta dukungan program perlindungan sosial, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).











