INIBORNEO.COM, Pontianak – Tahun Baru Imlek bagi masyarakat Tionghoa bukan sekadar pergantian kalender. Momen malam tahun baru adalah momen sakral yang oleh masyarakat Tionghoa disebut sa cap meh atau malam ke-30 sebelum hari pertama tahun baru. Di malam inilah keluarga berkumpul, meja makan dipenuhi hidangan khas keluarga Tionghoa.
Menurut Dji Sye Lim, Bidang Tradisi dan Budaya di Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT), tradisi ini telah berjalan ribuan tahun dan berakar dari budaya agraris. Tahun baru menandai awal musim semi, awal bercocok tanam, sehingga perayaannya adalah bentuk syukur atas panen dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
“Malam sa cap meh itu simbol persatuan keluarga. Semua berkumpul. Kalau masih ada kakek-nenek, makan bersama. Filosofinya keharmonisan,” ujarnya.
Dulu, sebelum makan besar dimulai, keluarga melakukan penghormatan kepada leluhur. Kini praktiknya bisa berbeda sesuai keyakinan, namun esensinya tetap sama yaitu ungkapan rasa syukur dan doa agar tahun baru membawa keberkahan.
“Makan besar ini bukan hanya soal kenyang. Tetapi juga adalah momen mengikat keluarga dalam satu meja, satu cerita, dan satu harapan,” ungkapnya.
Kuliner Imlek
Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, di balik setiap hidangan yang disajikan saat Imlek adalah doa. Warna, rasa, hingga bentuk makanan dipercaya membawa simbol keberuntungan. Chef Hambali dari Neo Hotel Pontianak menjelaskan, restoran biasanya menyusun menu Imlek sebagai satu paket lengkap yang mencerminkan filosofi tersebut.
Lantas, apa saja kuliner yang hampir selalu hadir dalam jamuan makan besar keluarga Tionghoa? Berikut Chef Hambali membeberkan deretan kuliner khas Tionghoa ala restoran yang diadaptasi dari hidangan keluarga Tionghoa saat makan besar di malam sa cap meh:
1. Yee Sang / Salad Keberuntungan
Salad Yee Sang menjadi menu pembuka khas yang diangkat tinggi-tinggi sebelum dimakan. Isinya 9 hingga 15 bahan makanan, mulai dari sayuran parut, lobak warna-warni, kacang, hingga irisan salmon atau udang.
Menurut Chef Hambali, setiap bahan melambangkan rasa syukur atas kesehatan dan rezeki. Tradisi mengaduk tinggi disebut lo hei, simbol mengangkat keberuntungan setinggi mungkin.
2. Mie Panjang Umur (Chow Mien)
Mie tidak boleh dipotong karena melambangkan umur panjang. Di restoran, mie ini disajikan sebagai chow mien dengan tambahan telur puyuh dan sayuran.
3. Ikan Utuh
Ikan adalah simbol kelimpahan. Dalam bahasa Mandarin, kata “ikan” adalah Yu berbunyi mirip dengan kata “peningkatan”. Karena itu ikan disajikan utuh agar rezeki tidak terputus.
Chef Hambali menyebut salah satu olahan favorit adalah suan cai yu yaitu ikan utuh dimasak dengan sawi asin dan rempah Sechuan.
4. Ayam dan Bebek Panggang
Melambangkan keutuhan keluarga dan keberhasilan. Dalam tradisi Tionghoa, ayam utuh berarti keluarga tetap lengkap.
5. Bok Choy Seafood
Sayuran hijau melambangkan pertumbuhan rezeki. Dipadukan seafood sebagai simbol kemewahan dan keberkahan.
6. Kue Keranjang (Nian Gao)
Sesuai namanya, Nian Gao atau Kue Keranjang manis dan lengket yang berarti “naik setiap tahun”. Filosofinya: kehidupan harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Kue ini juga menjadi persembahan untuk leluhur.
7. Huat Kue
Kue mekar yang dalam bahasa hokkien bunyinya mirip kata “huat” (makmur). Setiap mekarnya kue dianggap simbol rezeki yang berkembang.
8. Jeruk Mandarin
Buah wajib yang melambangkan keberuntungan dan kekayaan.
Makan besar Imlek pada akhirnya adalah bahasa universal keluarga yang bermakna kebersamaan. Di meja makan, generasi bertemu, cerita lama diulang dan doa baru dipanjatkan. Seperti kata Dji Sye Lim, inti perayaan bukan kemewahan hidangan, melainkan keharmonisan.
“Dan itulah sebabnya, setiap tahun, mau merantau kemanapun, orang selalu pulang untuk makan malam itu,” pungkas Dji Sye Lim.











