INIBORNEO.COM, Pontianak – Perayaan Imlek dan Ramadan yang jatuh pada 17 dan 19 Februari 2026 akan berlangsung beriringan di Kota Pontianak. Sebagai kota dengan tingkat toleransi yang tinggi, Pemkot Pontianak memastikan seluruh rangkaian perayaan dan ibadah berjalan lancar, tertib, dan saling menghormati.
“Perayaan Imlek tahun ini tetap berlangsung khidmat sesuai tradisi masyarakat Tionghoa, dengan pengaturan bersama agar tidak mengganggu pelaksanaan ibadah Ramadan,” kata Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, Senin (09/02/2026).
Menurutnya, inilah potret Pontianak sebagai kota multietnis yang telah lama terbiasa hidup dalam keberagaman. Ia juga ingin menunjukkan bahwa Pontianak tetap menjadi kota toleran, di mana perayaan keagamaan dan budaya dapat berlangsung berdampingan dengan penuh rasa saling menghargai.
Ia juga menambahkan, perpaduan lampion dan ketupat yang menghiasi kota bukan sekadar ornamen, melainkan simbol keharmonisan masyarakat Pontianak. “Perpaduan simbol Imlek dan Ramadan ini mencerminkan kehidupan warga yang rukun dalam keberagaman,” katanya.
Senada dengan itu, Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, menegaskan bahwa moderasi beragama menjadi fondasi utama dalam menjaga kerukunan di Pontianak yang dihuni beragam suku, agama, dan latar belakang sosial. Kerukunan, kata dia, tidak hadir dengan sendirinya, tetapi harus terus dirawat secara sadar dan berkelanjutan.
“Kerukunan umat beragama harus dirawat melalui dialog, saling pengertian, dan kerja sama yang konsisten. Jika kerukunan terjaga, stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat juga akan kondusif,” ujarnya saat membuka kegiatan penguatan kerukunan umat beragama di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Selasa (10/2/2026).
Bahasan menilai, dalam kehidupan masyarakat yang semakin terbuka, moderasi beragama menjadi kunci mencegah sikap ekstrem dan intoleran. Perbedaan, menurutnya, justru harus dipandang sebagai kekuatan sosial.
“Perbedaan tidak boleh dilihat sebagai sumber konflik, tetapi sebagai kekayaan yang memperkuat persatuan warga Kota Pontianak,” tegasnya.
Perayaan Imlek tahun ini dimeriahkan ribuan lampion di sepanjang jalan kota, diselingi ornamen Ramadan. Tradisi pesta kembang api tetap dipusatkan di Jalan Gajah Mada, sementara panitia Cap Go Meh menyiapkan 49 replika naga, dengan naga terpanjang mencapai 108 meter, untuk diarak setelah prosesi pembukaan mata naga di kelenteng.
Namun demi menjaga ketertiban dan menghormati Ramadan, rangkaian karnaval dipersingkat dan atraksi naga hanya ditampilkan di depan panggung utama. Koordinasi dilakukan bersama Forkopimda dan aparat keamanan agar seluruh kegiatan berjalan lancar tanpa mengganggu ibadah umat Muslim.
Edi menilai, perayaan Imlek dan Ramadan yang beriringan justru menunjukkan kedewasaan sosial masyarakat Pontianak. “Masyarakat Tionghoa tetap menjalankan tradisinya, sementara umat Muslim menyambut Ramadan dengan ibadah. Semuanya berlangsung di ruang kota yang sama dan saling menghormati,” tuturnya.
Suasana toleran tersebut dirasakan langsung warga. Ibrahim (49), warga Pontianak Timur, menyebut ibadah Ramadan tetap berjalan tenang meski bertepatan dengan perayaan Imlek. “Justru dengan adanya perayaan Imlek, kita semakin belajar saling menghormati,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Tjhang Sau Khiu (56), warga keturunan Tionghoa. Ia mengaku senang karena Imlek tetap bisa dirayakan dengan khidmat tanpa mengurangi rasa hormat kepada umat Muslim yang berpuasa. “Kami merasa dihargai, dan kami juga menjaga agar perayaan tidak mengganggu ibadah Ramadan,” katanya.
Selain memperkuat nilai toleransi, perayaan ini juga diperkirakan berdampak positif terhadap perekonomian kota. Kedatangan warga Tionghoa dari luar Kalimantan Barat dan ramainya kawasan kuliner menjadi peluang perputaran ekonomi di Pontianak.











