INIBORNEO.COM, Pontianak – Program integrasi antar kampung yang dijalankan Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Integrated Terminal (IT) Pontianak mencetak rekor baru di Kalimantan Barat. Tiga kampung binaan berhasil meraih Penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dengan satu kampung memperoleh trofi tertinggi.
Kampung Gambut Siantan Hilir mencatat sejarah sebagai satu-satunya kampung di Kalimantan Barat yang meraih Trofi Proklim Utama pada periode penilaian ini. Sementara itu, Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa dan Kampung Tangguh 27 masing-masing menerima Sertifikat Proklim Utama.
Capaian tersebut merupakan hasil dari Program Integrasi Antar Kampung yang dimulai sejak Juni 2025, hasil kolaborasi Pertamina Patra Niaga IT Pontianak dengan Pemerintah Kecamatan Pontianak Utara. Program ini dirancang tidak berjalan secara parsial, melainkan menghubungkan potensi dan praktik baik antar kampung untuk saling menguatkan dalam pembangunan berkelanjutan.
Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, mencakup mitigasi perubahan iklim melalui pengelolaan sampah berbasis komunitas dan pemanfaatan energi terbarukan skala kecil, adaptasi perubahan iklim melalui penguatan ketahanan pangan lokal serta konservasi lahan gambut, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat lewat integrasi wisata tenun yang berwawasan lingkungan.
Manager Integrated Terminal Pontianak, Tony Kurniawan, mengatakan keberhasilan tersebut tidak terlepas dari konsistensi pendampingan dan keterlibatan aktif masyarakat.
“Capaian tiga Proklim Utama ini bukan hasil instan. Integrasi antar kampung menjadi kunci percepatan karena masing-masing wilayah saling menguatkan praktik baik yang sudah berjalan. Pendekatan kolaboratif terbukti mampu menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan,” katanya, Selasa (14/1/2026).
Apresiasi juga disampaikan Camat Pontianak Utara, Indrawan Tauhid. Menurutnya, kolaborasi lintas pihak yang dibangun melalui program tersebut telah mendorong perubahan nyata di tingkat masyarakat.
“Perubahan perilaku warga dalam menjaga lingkungan semakin terlihat. Dampaknya tidak hanya pada kualitas lingkungan, tetapi juga pada peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, menegaskan bahwa capaian ini mencerminkan transformasi pendekatan CSR Pertamina yang semakin terintegrasi dan berbasis kebutuhan wilayah.
“Program integrasi antar kampung menunjukkan bahwa CSR tidak hanya membangun satu lokasi, tetapi membentuk ekosistem yang saling terhubung. Inilah yang membuat dampaknya lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan meraih Proklim Utama ini sekaligus memperkuat komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta mendukung agenda pemerintah menuju Net Zero Emission (NZE) melalui aksi iklim berbasis masyarakat.
Ke depan, Integrated Terminal Pontianak berkomitmen untuk memperluas dan mereplikasi program integrasi antar kampung di wilayah operasional lainnya guna membangun ekosistem hijau yang tangguh dan berkelanjutan di Kalimantan Barat.











