Sintang Punya Pabrik Tengkawang, Hasilkan Bahan Kosmetik dan Makanan

0 50

INIBORNEO.COM, Sintang – PT. The Wild Keepers, sebuah pabrik pengolahan produk turunan buah tengkawang di Sintang resmi beroperasi. Bupati Sintang, Jarot Winarno meresmikan secara langsung pabrik yang berlokasi Desa Anggah Jaya, Kecamatan Sintang, Senin (24/02/2020).

Founder and CEO PT. The Wild Keepers, Dirk Jan Oudshoorn, mengatakan, tujuan didirikannya pabrik tengkawang adalah untuk menjaga hutan dan meningkatkan nilai ekonomi yang bersumber dari hutan. Pabrik ini nantinya akan menghasilkan produk olahan tengkawang, baik kosmetik atau makanan. “Tujuan kita ialah meningkankan nilai ekonomi dari hutan supaya hutan itu tetap dijaga, karena hutan tidak hanya sebagai sumber oksigen saja, tetapi bisa menjadi sumber ekonomi,” kata DJ sapaan akrabnya.

Menurutnya, Kalimantan Barat memiliki potensi hutan sangat besar dan beragam, tetapi nilai jual produk yang dihasilkan masih minim. Penambahan nilai ekonomi produk-produk hutan dapat dilakukan dengan mengolahnya terlebih dahulu, menjadi bahan jadi atau setengah jadi.

“Tengkawang ini merupakan produk pertama yang kami kelola. Nanti hasilnya produk setengah jadi. Selain tengkawang nantinya akan ada kemiri, dan biji-biji buah-buahan yang bisa menghasilkan minyak, karena hasil hutan kita masih banyak yang bisa diolah, dan jenis yang akan ditanam nantinya adalah sistem tumpang sari,” papar dia.

Bupati Sintang, Jarot Winarno menjelaskan bahwa Kabupaten Sintang merupakan kawasan dengan tutupan hutan yang masih alami. Dia menyebutkan, SK Menteri Kehutanan nomor 733 tahun 2011 hutan di kabupaten ini sekitar 1,2 juta hektare, tetapi saat ini tinggal 870 ribu hektare. “Sedangkan untuk hutan di luar kawasan hutan, sekitar 61 ribu hektare hutan, yang dimana masyarakatnya ingin menjaga hutan tersebut,”ucap dia.

Dia melanjutkan, Kabupaten Sintang merupakan Kabupaten Lestari yang menyeimbangkan sektor ekonomi, budaya, dan lingkungan. Orang nomor satu di kabupaten tersebut ingin memberikan keseimbangan antara lingkungan, namun masyarakat tetap mendapat manfaat ekonomi sekaligus mempertahankan adat dan budaya.

Tengkawang menurut Jarot merupakan buah endemik Kalimantan, yang saat ini merupakan maskot flora Kalbar. Keberadaanya juga erat dengan masyarakat adat yang memanfaatkan buahnya sebagai obat. “Kalau saya dulu jadi dokter di daerah pedalaman, buah tengkawang ini diperas hingga keluar minyaknya , kemudian minyaknya itu bisa dipakai untuk pengobatan tradisional, inilah yang dimaksud dengan tengkawang erat dengan adat,” tutur Jarot.

Dengan hadirnya pabrik ini, dia berharap, harga tengkawang akan mengalami kenaikan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat hutan. Lebih dari itu dia berharap, masyarakat menjaga keberadaan pohon Tengkawang,yang secara tidak langsung menjaga kelestarian hutan. “Saat ini harga tengkawang sangat rendah, masyarakat bingung mau jual kemana, bahkan ada yang ditebang pohon tengkawangnya, padahal nilai jual tengkawang bisa tinggi,” pungkas dia.

Comments
Loading...