Rumahnya Dirusak Kegiatan Illegal, Orangutan Masuk Kampung

0 108

INIBORNEO,Ketapang – Tim gabungan IAR Indonesia dan Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang menyelamatkan satu orang utan. Penemuan ini tak jauh dari kawasan pertambangan dan illegal logging di Dusun 4 Desa Sungai pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Jumat (24/1).

“Kami meminta dan sangat berharap kepada masyarakat untuk selalu melaporkan penemuan orangutan kepada petugas terkait seperti BKSDA dan IAR Indonesia karena mencoba menangkap orangutan sendiri tanpa prosedur yang tepat bisa membahayakan manusia dan orangutan ini sendiri,” kata direktur IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez.

Maraknya ilegal logging dan pertambangan ilegal memberi dampak negatif bagi habitat di hutan, tak terkecuali orangutan yang sejak pertengahan tahun lalu terancam dengan adanya kebakaran hutan dan lahan, bahkan sampai saat ini juga masih terancam dengan aktifitas – aktifitas illegal tersebut. Redanya kebakaran hutan di Kabupaten Ketapang contohnya yang ternyata tidak menyurutkan ancaman bagi kelangsungan hidup orangutan.

Orangutan ini pertama kali dilaporkan keberadannya oleh seorang warga pada pertengahan Januari lalu karena memasuki kebunnya. Tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia menindaklanjuti laporan ini dengan melakukan verifikasi dan melakukan mitigasi dengan menggiring orangutan ini masuk kembali ke hutan. Tetapi karena hutan yang ada sudah rusak dan terbuka akibat pertambangan emas illegal dan illegal loging, orangutan yang diberi nama Inap ini kembali masuk ke kebun warga untuk mencari makan.

Tim gabungan akhirnya memutuskan untuk mengevakuasi orangutan yang diperkirakan berusia lebih dari 20 tahun ini dan membawanya ke IAR Indonesia untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut sebelum dipindahkan ke hutan yang lebih baik dan aman untuk kehidupannya. Karena orangutan ini adalah orangutan liar, tim menggunakan obat bius untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal yang disesalkan oleh Karmele ialah sebelum diselamatkan oleh tim gabungan IAR Indonesia dan BKSDA, warga yang terburu mengambil keputusan untuk menjerat orang utan ini dengan tali yang mengakibatkan luka lecet di tangan orangutan, sedangkan hal tersebut dapat membahayakan orangutan dan manusia itu sendiri.

 Dari survey lokasi, diketahui bahwa hutan yang yang ada sudah terpotong-potong oleh pembukaan lahan untuk pertambangan dan illegal logging. Citra satelit menunjukan bahwa area hutan yang tersisa jauh lebih sempit dibandingkan lahan yang sudah terbuka. Tidak heran orangutan ini keluar untuk mencari makan karena habitatnya sudah terganggu oleh berbagai kegiatan illegal ini.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sadtata Noor, S.Hut., M.T mengatakan untuk kesekian kali konflik satwa liar dan manusia terulang kembali. “Kapan hal seperti ini akan kita tuntaskan. Sudah saatnya pemerintah bersama para mitra melakukan langkah nyata. Kebijakan menyeluruh, penyadartahuan dan solusi inovatif harus dimulai sekarang,” pungkasnya.

Comments
Loading...