Menu
Ini Borneo
banner 728x250

Rimbawan Sylva Untan Gelar Ekspedisi ke Taman Nasional Betung Kerihun

  • Bagikan
Peserta TIGER sebelum bertolak melakukan ekspedisi ke Taman Nasional Betung Kerihun - Danau Sentarum.
banner 468x60

INIBORNEO, Pontianak – Sepuluh mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura menggelar ekspedisi ke Taman Nasional Betung Kerihun – Danau Sentarum, di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Kamis 19 Juli 2018. Ekspedisi yang merupakan bagian dari Team of interpreter and guide for environmental research (TIGER) Sylva Untan ini akan menginterpretasi jalur ekowisata serta identifikasi herpetofauna dan aves.

“TIGER merupakan kegiatan pengkaderan rimbawan dalam bentuk observasi langsung ke lapangan,” ujar Sudarso, ketua Ekspedisi TIGER 2018, di Camp Arboretum Untan. Dengan melakukan observasi, maka para rimbawan akan dalam melihat langsung persoalan sumberdaya alam, serta keanekagaraman hayati di Kalimantan Barat.

banner 336x280

Taman Nasional Betung Kerihun yang menjadi tujuan ekspedisi merupakan lokasi yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan terkait satwa dan tanaman hutan. Termasuk melihat potensi ekowisata yang merupakan nilai tambah dari kawasan tersebut.

Sebagai kawasan ekosistem hutan hujan tropis alami, Betung Kerihun yang luasannya mencapai 800 ribu hektar merupakan destinasi wisata alam yang menakjubkan dan bervariasi. Tipe geologi kawasan TNBK ini pun mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.

Di TNBK, berbagai jenis flora dan fauna endemik dapat dilihat. Tercatat 695 jenis pohon yang tergolong dalam 15 marga, dan 63 suku yang 50 jenis diantaranya merupakan jenis endemik Borneo. Jenis terbanyak didominasi Dipterocarpaceae, yaitu 121 dari total 267 jenis yang tumbuh di Borneo. Dari jenis fauna tercatat sebanyak 48 jenis mamalia, 7 primata, 112 jenis ikan, 301 jenis burung dan 103 jenis herpetofauna.

Satu hal yang khas adalah keberadaan Sepan di Kawasan TNBK. Sepan merupakan mata air dengan kandungan mineral garam yang relatif lebih tinggi dari air di sekitarnya. Mineral garam ini bisa berasal dari rembesan garam-garam yang terbawa air setelah melalui proses kimia dari dekomposisi serasah atau pelapukan batuan induknya.

Sepan merupakan tempat yang paling cocok untuk dilakukan pengamatan mamalia besar. Di area ini, pada pagi dan sore mamalia besar sering datang untuk minum. Sepan terdapat hampir di seluruh Sub DAS TNBK. Masing-masing terdapat satu sepan di Sub DAS Bungan yaitu di dekat muara Sungai Pono, di Sub DAS Kapuas Koheng terdapat di Sungai Tahum, di Sub DAS Sibau terdapat di Sungai Payo’, dan di Sub DAS Embaloh di Sungai Gamalung. Sedangkan di Sub DAS Mendalam setidaknya terdapat dua belas sepan.

Website resmi taman nasional ini menyebutkan titik pengamatan untuk menikmati keindahan alam TNBK diantaranya adalah, Karangan Laboh dengan air terjunnya, Gua Pajau dan Riam Naris yang terletak di DAS Embaloh, Menyakan di DAS Sibau, dan Mentibat di DAS Mendalam.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Untan, Fery Suryadi, turut melepas kepergian para rimbawan tersebut. “Adat istiadat setempat juga merupakan hal menarik yang dapat diamati dalam ekspedisi ini,” katanya. Terdapat tujuh sub-etnis Dayak yang tinggal di sekitar kawasan TNBK memiliki kekayaan budaya yang dipastikan sangat menarik minat para ekoturist. Dimulai dari Dayak Iban dan Tamambaloh di wilayah barat TNBK (DAS Embaloh), Dayak Kantuk dan Taman Sibau (DAS Sibau), Kayan Mendalam dan Bukat (DAS Mendalam), serta Punan Hovongan di DAS Kapuas masing-masing memiliki kekayaan budaya berupa bahasa, perayaan adat, tari dan musik tradisional, life culture, kerajinan dan rumah adat (rumah betang) yang berbeda dan memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing.

Sebagai mahasiswa, lanjut Fery, sangat penting mendapatkan pemahaman sudut pandang secara langsung terkait pengelolaan sumberdaya hayati dan ekosistemnya ini. Dia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak Balai Taman Nasional Betung Kerihun – Danau Sentarum yang memberikan kesempatan terhadap sepuluh mahasiswa Fakultas Kehutanan untuk melakukan orientasi lapangan. Lima dari sepuluh peserta ekspedisi adalah perempuan. Diharapkan para rimbawati ini mampu menelaah konteks pengelolaan sumberdaya alam yang berpihak pada kaum perempuan.

 

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *