Provinsi dengan Kasus Covid 19 Tertinggi Harus Evaluasi 3T

0 128

INIBORNEO.COM, Jakarta – Perkembangan mingguan kasus Covid-19 masih terdapat sejumlah catatan untuk beberapa provinsi. Dari data kenaikan dan penurunan kasus dalam 1 pekan terakhir, masih terdapat 22 provinsi dengan penambahan jumlah kasus dalam 1 pekan terakhir. Sedangkan 12 provinsi mengalami penurunan jumlah kasus.

“Hal ini sangat disayangkan mengingat lebih banyak provinsi dengan tren kenaikan daripada penurunannya,” ucap Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Kantor Presiden, Kamis (19/11/2020).

Ada 3 provinsi mendapat perhatian karena berada di urutan teratas perkembangan kasus per provinsi. Jawa Tengah urutan pertama dalam kenaikan kasus tertinggi, mencapai 2.377, disusul Jawa Barat naik 875 dan DKI Jakarta naik 793. Hal ini menurut Wiku bukanlah prestasi yang membanggakan dari ketiga provinsi. “Evaluasi harus terus dilakukan dalam penerapan 3T yaitu testing (pemeriksaan), tracing (pelacakan) dan treatment (perawatan) yang sudah dilakukan,” pesan Wiku.

Dari data yang dimaksud juga, ada 3 provinsi urutan terbawah yang mengalami kenaikan kasus paling sedikit. Ketiga provinsi mengalami kenaikan kasus namun dalam jumlah yang kecil. Tiga provinsi ini diminta untuk segera memasifkan lagi 3T dalam upaya melakukan deteksi dini.

“Semakin dini kasus ditangani, maka peluang kesembuhan akan semakin tinggi. Jika upaya ini dilakukan, ketiga provinsi dapat mengalami penurunan kasus pada pekan berikutnya,” pinta Wiku.

Selain memberikan catatan penanganan, Satgas Penanganan Covid-19 juga mengapresiasi 3 provinsi urutan teratas dalam angka penurunan kasus tertinggi. Yakni Kalimantan Barat turun 228 kasus, Jawa Timur turun 223 kasus dan Papua Barat turun 142 kasus.

“Terima kasih sudah berusaha menekan laju penularan sebaik mungkin, tetap semangat dan jangan sampai terlena dengan pencapaian yang telah diraih,” apresiasi Wiku.

 

Pantau Kasus Aktif

 

Sementara itu, jumlah kasus aktif di Indonesia per 19 November 2020 berada di angka 61.306 kasus atau 12,67%. Angka ini masih lebih rendah dari rata-rata dunia sebesar 28,02%. Sedangkan penambahan kasus positif sebanyak 4.798 kasus. Jumlah kasus sembuh sebanyak 406.612 atau 84% dibandingkan rata-rata dunia 69,58%. Untuk jumlah pasien meninggal 15.600 kasus atau 3,2% dibandingkan rata-rata dunia 2,39%.

Melihat perkembangan kasus aktif di Indonesia pekan ini, mengalami perkembangan kearah yang signifikan membaik. Dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, 319 kabupaten/kota atau 61,8% memiliki kasus aktif kurang dari 50 kasus. “Ini artinya sebagian besar wilayah di Indonesia memiliki kasus aktif yang tinggal sedikit,” ungkap Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Kantor Presiden, Kamis (19/11/2020).

Pada 319 kabupaten/kota ini diminta terus tingkatkan penanganan Covid-19 dan kualitas pelayanan kesehatannya. Agar kasus aktifnya dapat terus berkurang bahkan tidak ada kasus aktif sama sekali. Selain itu dalam perkembangan mingguan, terlihat tren pengurangan jumlah kabupaten/kota yang memiliki kasus aktif lebih dari 1000 kasus.

Dibandingkan pekan lalu terdapat 12 kabupaten/kota, dan pekan ini berkurang menjadi 9 kabupaten/kota. “Hal ini mencerminkan kita bertahan di situasi serba sulit, yaitu kondisi kedaruratan kesehatan masyarakat. Ternyata upaya selama 8 bulan ini membuahkan hasil sikap responsif dan tanggap yang meningkat. Ini adalah capaian yang positif (baik),” ujarnya.

Sebaliknya, perhatian utama perlu diberikan pada 9 kabupaten/kota lebih dari 1000 kasus. Karena 9 kabupaten/kota ini menyumbangkan kasus aktif sebesar 22% dari kasus aktif nasional.

Wiku lanjut menyebutkan 9 kabupaten/kota dengan kasus aktif urutan teratas. Yakni Kota Jayapura 2.446 kasus, Kota Bekasi 2000 kasus, Jakarta Timur 1.538 kasus, Kota Padang 1.524 kasus, Jakarta Selatan 1.309 kasus, Bekasi 1.252 kasus, Jakarta Barat 1.134 kasus, Kota Depok 1.096 kasus dan Kota Pekanbaru 1.036 kasus.

Jika penanganan dilakukan secara maksimal, maka kasus aktif di 9 kabupaten/kota ini dapat menurun, dan dapat berkontribusi signifikan terhadap jumlah kasus aktif secara nasional. “Mohon kepada walikota dan bupati 9 kabupaten/kota tersebut untuk benar-benar meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Sehingga kasus yang ada menjadi sembuh seluruhnya,” pesan Wiku.

Ia juga berpesan pada 9 kabupaten/kota yang dimaksud bisa mengikuti jejak kabupaten/kota yang berhasil menekan angka kasus aktif dibawah 1000 kasus. Hal ini bisa menjadi pendorong agar 9 kabupaten/kota tersebut menjadi kontributor untuk terus menekan jumlah kasus aktif.

“Semoga untuk minggu-minggu kedepannya, baik angka jumlah kabupaten/kota dengan aksus aktif terbanyak, maupun jumlah kasus aktif di daerah semakin mengecil bahkan menjadi nol,” Wiku berharap.

 

ASEANTY PAHLEVI

Comments
Loading...